tirto.id - Apa bahasa tersulit di Indonesia? Pertanyaan ini kerap muncul mengingat negara kita memiliki ratusan bahasa daerah. Setiap bahasa memiliki ciri khasnya masing-masing dan menjadi salah satu budaya yang wajib dilestarikan.
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan wilayah yang sangat luas. Berdasarkan laman Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Indonesia memiliki 718 bahasa daerah yang tersebar di seluruh penjuru nusantara.
Menariknya, di antara ratusan bahasa tersebut, beberapa bahasa daerah dikenal cukup sulit dipelajari. Hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, mulai dari kosakata yang terdengar asing, fonologi yang unik, hingga faktor dialek.
Selain itu, minimnya penutur asli dan sumber belajar juga membuat beberapa bahasa makin sulit untuk dipelajari. Meski demikian, keberagaman bahasa adalah simbol kekayaan budaya di Tanah Air. Maka, tak ada salahnya untuk mempelajari bahasa tersulit di Indonesia agar bahasa-bahasa daerah ini tidak pernah punah.
7 Bahasa Tersulit di Indonesia
Pada dasarnya, tingkat kesulitan suatu bahasa daerah sangat subjektif dan bergantung pada latar belakang bahasa ibu seseorang serta pengalaman belajar bahasa lainnya. Jadi, bagi non-penutur asli, bahasa apa pun akan terasa sulit untuk dipelajari karena merupakan hal yang benar-benar baru.
Namun, bagi masyarakat Indonesia, ada beberapa bahasa yang dianggap memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi karena kosakatanya yang benar-benar terdengar asing dan pelafalannya yang unik. Berikut beberapa contoh bahasa daerah tersulit di Indonesia bagi non-penutur asli:
1. Bahasa Aceh

Bahasa Aceh termasuk salah satu bahasa daerah di Indonesia yang memiliki tingkat kesulitan tinggi bagi non-penutur asli. Bahasa Aceh sendiri adalah bagian dari bahasa Melayu Polinesia Barat yang merupakan cabang dari bahasa Austronesia.
Selain kosakata yang terdengar asing, faktor lain yang membuat bahasa Aceh sulit adalah fonologinya yang unik dan berbeda dengan bahasa Indonesia. Sebagai contoh, bahasa Indonesia memiliki beberapa fonem vokal seperti /a/, /i/, /u/, /e/, /o/.
Menurut buku Bahasa Aceh dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, terdapat lebih dari 20 fonem vokal dalam bahasa Aceh. Sistem fonem ini terbagi menjadi fonem vokal, fonem vokal sengau, hingga vokal ganda sengau seperti /’eue’.
Tak hanya itu, faktor lain seperti adanya berbagai versi dialek juga membuat bahasa Aceh menjadi salah satu bahasa tersulit di Indonesia. Setidaknya ada tiga dialek yang dikenal, yaitu dialek Baet Lambuot, Mesjid Punteut, dan dialek Panthe Ketapang.
2. Bahasa Minangkabau
Bahasa Minangkabau adalah bahasa dari Sumatera Barat yang tergolong dalam bahasa Melayu Austronesia. Bahasa Minang memiliki beberapa versi dialek, mulai dari dialek Pasaman, Agam-Tanah Datar, Lima Puluh Kota, Koto Baru, hingga Pancung Soal.
Bahasa Minangkabau juga kaya akan kosakata. Dilansir dari laman Kemendikdasmen, bahasa Minangkabau memiliki 929 kosakata, menjadikan bahasa Minang sebagai bahasa kedua dengan kosakata terbanyak setelah bahasa Jawa.
Selain itu, faktor pelafalan dan intonasi juga sangat berpengaruh dalam bahasa ini. Meski bahasa Minangkabau cukup familiar bagi sebagian orang di luar Sumatera Barat, bahasa ini masih cukup sulit dipelajari bagi masyarakat awam.
3. Bahasa Batak

Bahasa Batak juga tergolong dalam bahasa Austronesia yang menjadi alat komunikasi di wilayah Sumatera Utara. Namun, bahasa Batak sebenarnya bukan merupakan bahasa tunggal, melainkan masih terbagi-bagi dalam beberapa kelompok.
Beberapa contoh rumpun bahasa Batak antara lain Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun, dan masih banyak lagi. Dengan begitu beragamnya bahasa Batak, hal ini membuatnya menjadi salah satu bahasa tersulit di Indonesia.
Bahasa Batak pun memiliki kosakata yang cukup beragam dan pasti terdengar asing bagi orang luar daerah. Uniknya lagi, bahasa Batak juga memiliki huruf ataui aksara tersendiri yang sering disebut dengan Surat Batak.
4. Bahasa Dayak

Bahasa tersulit di Indonesia berikutnya adalah bahasa Dayak. Seperti bahasa Batak, bahasa Dayak sebenarnya adalah istilah kolektif untuk beberapa bahasa yang digunakan oleh suku Dayak di daerah Kalimantan.
Salah satu contohnya adalah bahasa Dayak Ngaju yang dituturkan oleh suku Ngaju di Kalimantan Tengah. Bahasa Dayak Ngaju ini pun masih terbagi menjadi beberapa dialek yang jumlahnya mencapai 30, seperti dialek Kandan, Rantau Tapang, Parebok, Kalumpang, Bawan, dan masih banyak lagi.
Dengan kosakata yang cukup beragam dengan puluhan dialek yang ada, bahasa Dayak Ngaju termasuk salah satu bahasa daerah yang unik dan cukup sulit dipelajari. Di sisi lain, bahasa Ngaju hanyalah satu dari sekian banyak bahasa Dayak lain yang ada di tanah Kalimantan.
5. Bahasa Banjar

Bahasa Banjar juga termasuk salah satu bahasa tersulit di Indonesia. Bahasa ini dituturkan oleh suku Banjar yang berada di wilayah Kalimantan Selatan. Seperti bahasa daerah lainnya, bahasa Banjar juga memiliki sejumlah kosakata unik yang pasti terdengar asing bagi orang luar daerah.
Selain itu, terdapat beberapa variasi dialek dalam bahasa Banjar, yaitu Banjar Kuala dan Banjar Hulu Sungai. Tak hanya berbeda kosakata, kedua dialek ini juga memiliki perbedaan dalam hal pelafalan maupun tekanan dalam pengucapan bahasanya.
Dibandingkan Banjar Kuala, bahasa Banjar Hulu lebih sering menggunakan vokal /a/, /i/, /u/. Sebagai contoh, kata “botak” dalam bahasa Banjar Kuala berarti “longor”, sedangkan dalam bahasa Banjar Hulu Sungai adalah “lungur”.
Dari segi kosakata, Banjar Hulu dianggap lebih kompleks dibandingkan Banjar Kuala. Apalagi dalam satu dialek ini masih terdapat beberapa sub dialek, misalnya dialek Alabio, Amuntai, Kalua, hingga Kandangan. Hal ini justru semakin memperkaya kosakata bahasa Banjar dan dianggap cukup sulit bagi masyarakat awam.
6. Bahasa Maluku (Bahasa Alune)

Bahasa Maluku, khususnya bahasa Alune, juga termasuk salah satu bahasa daerah tersulit di Indonesia. Bahasa ini dituturkan oleh suku Alune, salah satu suku yang ada di Pulau Seram, khususnya wilayah Seram Barat.
Bahasa Alune sendiri terbagi menjadi dua, yakni bahasa Alune pedalaman yang merupakan bahasa asli dan belum terpengaruh bahasa lain, kemudian ada Alune pesisir sudah dipengaruhi oleh bahasa Melayu dan unsur bahasa lain di sekitarnya, salah satunya bahasa Wemale yang juga merupakan bahasa daerah Maluku.
Dalam buku Struktur Bahasa Alune dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, salah satu faktor yang membuat bahasa ini dianggap sulit adalah fonologinya yang unik sehingga pelafalannya pun cukup membingungkan bagi orang luar daerah.
Terdapat sejumlah kata dalam bahasa Alune yang memiliki konsonan rangkap, misalnya “kwakwelene” yang artinya cair. Belum lagi soal morfologi dan struktur kalimatnya yang sedikit berbeda dari bahasa Indonesia.
Sebagai contoh, kalimat “ei keu ami betu mosa” (dia pergi sebelum kami bangun). Jika dibedah satu per satu, “ei” adalah dia, “keu” berarti pergi, “ami” berarti kami, “betu” adalah bangun, sedangkan “mosa” artinya sebelum. Jadi, secara susunan kata, kalimat tersebut berarti “dia pergi kami bangun sebelum”.
7. Bahasa Papua (Bahasa Dani)

Wilayah Papua juga memiliki bahasa yang sangat beragam dan masing-masingnya cukup sulit untuk dipelajari oleh non-penutur asli. Salah satu contohnya adalah bahasa Dani yang menjadi alat komunikasi bagi etnik Mukoko di Provinsi Papua.
Menurut buku Ensiklopedia Suku Bangsa di Indonesia karya Zulyani Hidayah, bahasa Dani tidak termasuk bahasa Austronesia, tapi lebih dekat dengan bahasa Melanesia dan Pasifik Barat. Selain soal kosakata yang tergolong unik, bahasa Dani juga terdiri dari dua dialek yang berbeda.
Ada dialek Dani Barat atau yang sering disebut dengan bahasa Laany/Lani, ada pula dialek Dani Lembah Besar atau Dani Baliem. Hal inilah yang membuat bahasa Papua, khususnya bahasa Dani, termasuk salah satu bahasa tersulit di Indonesia.
Itulah beberapa contoh bahasa tersulit di Indonesia. Bahasa daerah memang memiliki kekayaan dan keunikannya tersendiri, baik dari segi kosakata, struktur, maupun pelafalannya.
Meski sulit dipelajari, keberadaan bahasa-bahasa ini mencerminkan keragaman budaya yang patut dibanggakan dan dilestarikan. Dengan mempelajari dan menjaga bahasa daerah, kita turut serta melestarikan warisan leluhur yang menjadi identitas bangsa.
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id






































