Bagaimana Membaca Laporan Panama Papers

Oleh: Maulida Sri Handayani - 19 April 2016
Dibaca Normal 4 menit
Beberapa hal yang perlu diketahui sebelum membaca laporan-laporan jurnalistik tentang Panama Papers.
tirto.id - Kegaduhan terjadi pada 3 April menjelang tengah malam, waktu Indonesia bagian barat. Akun Twitter @wikileaks, menyusul @ICIJorg, mengumumkan perihal bocoran Panama Papers yang disebut sebagai “bocoran terbesar yang pernah ada.”

Dua jam kemudian, laporan pertama tentang bocoran itu muncul dalam situs International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ): panamapapers.icij.org.

Bocoran itu berawal lebih dari setahun sebelumnya, saat seorang anonim menyerahkan dokumen pada koran Jerman, Süddeutsche Zeitung(SZ). Media itu kemudian menelaahnya bersama dalam himpunan jurnalis investigatif di mana SZ tergabung: ICIJ.

Kumpulan jaringan 165 wartawan investigatif dari 65 negara ini memang sudah beberapa kali terlibat dalam penelaahan pembocoran data serupa. Bocoran-bocoran itu adalah Bocoran Offshore, Bocoran Lux, serta Bocoran Swiss. Hanya saja, pada investigasi-investigasi sebelumnya, jumlah data tak sebanyak Panama Papers.

Tembolok kiriman si Fulan ini memang dahsyat. Isinya 11,5 juta dokumen berisi data klien-klien firma hukum Mossack Fonseca (Mossfon) yang berpusat di Panama, satu dari banyak negara suaka pajak (tax haven) di dunia. Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa data di tangan ICIJ itu memperlihatkan secara rinci bagaimana Mossack Fonseca terlibat dalam kegiatan bisnis yang berpotensi melanggar peraturan, juga membantu dan bersekongkol dengan penggelap pajak dan pencucian uang.

Meski demikian, tak semua klien menggunakan firma seperti Mossfon untuk melanggar aturan. Tak semua pihak yang menggunakan jasanya otomatis melakukan perbuatan tidak sah. Cakupan jasa yang dilayani oleh firma ini berada pada rentang yang luas, dari mulai yang sah, abu-abu, sampai taraf menculasi standar etika dan hukum.

Apa dan Bagaimana Mossack Fonseca Bekerja

Mossfon adalah perusahaan penyedia jasa pembuat perusahaan cangkang. Menurut The Guardian, Mossack Fonseca adalah perusahaan penyedia layanan offshore terbesar keempat di dunia. Ia mempekerjakan 600 staf di 42 kantornya, termasuk di Jersey, Cyprus, Luksemburg, Swiss.

Secara keseluruhan, Mossfon beroperasi di 21 teritori. Jurisdiksi terbesarnya adalah British Virgin Islands (BVI) yang berada di bawah administrasi Inggris Raya, diikuti Panama, Bahamas, Seychelles, dan Kepulauan Samoa dan Niue dekat Selandia Baru.

Mossfon hanya satu dari banyak penyedia layanan serupa yang beroperasi di negara-negara suaka pajak. Negara suaka pajak sendiri, menurut Investopedia, adalah negara yang menawarkan nol atau sedikit kewajiban pajak bagi individu dan usaha asing, dalam lingkungan yang stabil secara politik dan ekonomi.

Yang juga penting, suaka pajak juga merahasiakan informasi keuangan dari otoritas pajak asing. Karena kerahasiaan itulah, Theodorus M. Tuannakota, ahli akuntansi forensik, lebih memilih menyebutnya sebagai secrecy jurisdictions atau "jurisdiksi rahasia" tinimbang suaka pajak.

Istilah mana pun yang dipilih, intinya penyedia layanan di suaka pajak diminati karena kedua hal itu: keringanan pajak dan kerahasiaan. Sebagai gambaran, Mossfon sejak didirikan pada 1977 sudah melayani jasa pendirian 300 ribu perusahaan cangkang.

Mendirikan perusahaan dengan jasa firma seperti Mossfon memang tak ada rumit-rumitnya. Seperti dilaporkan SZ, untuk membeli perusahaan cangkang, Anda cukup mengeluarkan uang minimal $1.000 atau sekitar Rp13 juta. Tapi, itu baru harga buat satu cangkang kosong. Jika Anda ingin Mossfon menyediakan direktur gadungan untuk perusahaan itu, Anda harus membayar uang ekstra. Ongkos juga membesar apabila klien berkehendak menutup pemegang sahamnya yang sungguhan.

Jika bersepakat, maka, simsalabim: Anda punya perusahaan cangkang yang tujuan dan struktur kepemilikannya tidak dapat diketahui oleh pihak luar.

Perusahaan cangkang sendiri adalah perusahaan yang tidak diperdagangkan. Artinya, perusahaan-perusahaan ini tidak terdaftar dalam bursa saham untuk jual-beli para investor. Kebanyakan, perusahaan cangkang hanya berupa nama saja, selain sebagai alamat surat-menyurat dan di atas kertas sebagai entitas finansial yang terdaftar.

Sebagai alat dari tujuan yang sah, sebagian perusahaan cangkang digunakan untuk hal seperti menahan saham atau aset tidak berwujud dari badan usaha yang menjadi induknya. Selain itu, ia juga berfungsi memfasilitasi transfer mata uang domestik dan lintas-negara, juga pemindahan aset dan merger perusahaan.

Investopedia.com juga menjelaskan, bisnis-bisnis bermodal kecil kerap memakai badan perusahaan cangkang karena biasanya asetnya terbatas. Juga karena volume perdagangannya seringkali lebih rendah dari kebanyakan. Salah satu jenis usaha yang kerap memakai bentuk ini adalah usaha startup atau rintisan penyedia konten online. Tak hanya itu, perusahaan cangkang juga dapat berguna dalam menutupi rahasia dagang, serta melindungi direktur dari penculik ataupun gangguan lain.

Namun, semua tujuan yang wajar dan legal itu tak bisa menutupi fakta banyaknya usaha gelap bahkan kriminal bersembunyi di balik kerahasiaan dan kenyamanan pajak perusahaan cangkang. Motif dan modus kerja culas itu beragam, mulai dari "sekadar" merahasiakan harta dari pasangan, menghindari pajak, sampai perkara kriminal seperti menyimpan hasil pencucian uang, juga sebagai kedok jaringan intelijen dan terorisme.

Ragam Penggunaan Perusahaan Cangkang

The Economist membuat rentang penggunaan perusahaan cangkang, mulai dari yang amat sah sampai pemakaian dengan peruntukan menculasi hukum. Salah satu pemanfaatan yang sah adalah menggunakan perusahaan cangkang untuk mengumpulkan uang investor dari negara yang berbeda-beda, selain untuk menutupi rahasia dagang.

Opsi lainnya, perusahaan cangkang juga berfungsi melindungi kekayaan/simpanan dari ekonomi yang tidak stabil. Seperti banyak diketahui, kondisi politik dan ekonomi suatu negara bisa bisa turun-naik, memengaruhi variabel-variabel makro seperti tingkat suku bunga. Di tempat-tempat suaka pajak, perusahaan cangkang imun dari ketidakstabilan semacam itu.

Penggunaan ketiga adalah untuk meragamkan bisnis tanpa mempengaruhi usaha utama. Suatu perusahaan kayu, yang ingin masuk ke dunia usaha rintisan (start-up), misalnya, akan melembagakan usaha barunya itu dengan perusahaan cangkang. Tujuannya sederhana saja: supaya citra bisnis lamanya tak terganggu.

Selanjutnya, perusahaan cangkang juga bisa digunakan untuk melindungi negosiasi dari harga yang terlalu tinggi karena merek yang kadung dikenal. Dalam hal ini, perusahaan cangkang, bisa membangun reputasi baru tanpa terganggu citra dari brand aslinya. Keuntungannya, pengusaha bisa lebih leluasa melakukan tawar menawar.

Kegunaan lain dari perusahaan cangkang adalah terkait kerahasiaannya, misalnya untuk melindungi identitas dan melindungi personil di daerah berbahaya. Identitas direktur atau pemegang saham bisa disembunyikan dengan membuat perusahaan kosongan dengan nama direktur rekaan. Tujuannya adalah meminimalkan potensi bahaya seperti penculikan dan pemerasan.

Untuk pemakaian perusahaan cangkang selanjutnya, sudah mulai abu-abu jika dilihat secara etis: merahasiakan aset supaya tak terungkap dalam pembagian harta gono-gini perceraian ataupun kebangkrutan di pengadilan. Kasus semacam ini ditemukan dalam Panama Papers.

Dmitry Rybolovlev, orang nomor 156 terkaya di dunia dalam daftar Forbes 2015, bercerai dengan istrinya pada 2008 disertai kisruh pembagian kekayaan. Setelah Panama Papers bocor, terungkaplah bahwa selama ini Rybolovlev menyembunyikan aset dari istrinya dalam perusahaan cangkang di BVI.

Selanjutnya adalah motif yang sudah culas, yakni penghindaran pajak. Caranya: menyembunyikan keuntungan perusahaan di negara asal dengan memindahkannya ke perusahaan cangkang bernama lain di negara suaka pajak. Contoh untuk kasus ini banyak.

Google, misalnya, pada 2011 menyimpan 4/5 keuntungannya pada satu perusahaan cangkang di Bermuda. Hasilnya, Google berhasil menghemat separuh pengeluaran pajaknya di seluruh dunia, bahkan hampir nol di negara tertentu.

Apple juga sama saja. Pada 2013, studi Kongres Amerika Serikat menemukan bahwa Apple menyimpan miliaran dolar keuntungannya di suaka-suaka pajak Irlandia dan Amerika. Apple, kata Senator Carl Levin, "berburu Cawan Suci penghindaran pajak". Meski hampir pasti tidak etis, modus-modus penghindaran pajak ini tidak selalu ilegal, bergantung pada kelihaian pelakunya menyiasati hukum di negaranya masing-masing.

Selanjutnya adalah siasat-siasat penggunaan jurisdiksi rahasia yang sudah pasti masuk kategori ilegal. Pertama: menyimpan uang hasil korupsi di dalam perusahaan cangkang. Pejabat publik yang berkuasa dan korup akan berpikir dua kali untuk menyimpan uangnya di bank-bank dalam negeri. Sebab, hukum-hukum yang berlaku di banyak negara memungkinkan aparat untuk mengakses rekening simpanan di bank. Maka, cara culas melanggar hukum pun dilakukan: menyimpan uang hasil korupsi di perusahaan bikinan Mossack Fonseca.

Perusahaan cangkang, dengan selubung kerahasiaannya, bisa membantu pejabat-pejabat korup untuk menyimpan harta kekayaannya. Jika perlu, mereka akan memakai nama sahabat dan kerabat untuk mengatur pembuatan perusahaan di suaka pajak itu.

Geser sedikit dari perkara uang hasil korupsi, ada juga yang membikin perusahaan bodong untuk menitipkan hasil dari tindakan kriminal lain. Contohnya adalah menimbun buah dari penjualan aset negara, juga kekayaan-kekayaan dari tindakan ilegal lainnya.

Tak berhenti pada koruptor, pengeruk laba pun bisa memanipulasi pasar dan mendapat keuntungan dari manipulasinya itu melalui perusahaan cangkang. Kecurangan lainnya: orang yang terancam oleh sanksi, misalnya terancam dipailitkan, bisa berpura-pura sudah keburu bangkrut. Padahal sesungguhnya, kekayaannya sudah dipindahkan ke rekening cangkang di luar negeri.

Terakhir, wilayah jurisdiksi rahasia juga memungkinkan kriminal bertransaksi dalam gelap. Contohnya adalah perdagangan senjata dan penyelundupan narkoba. Selain dua bisnis itu, organisasi teroris pun bisa mengelabui pihak-pihak berwajib dengan cara membuat perusahaan cangkang berlapis-lapis. Ironisnya, agen-agen intelijen dunia juga bisa leluasa bekerja dalam gelap di jurisdiksi-jurisdiksi rahasia ini.

Satu hal yang komikal: perusahaan cangkang milik agensi rahasia dan organisasi teroris yang kejar-hindar seperti Tom dan Jerry, bisa saja dibuat dengan bantuan jasa firma hukum yang sama.

Baca juga artikel terkait PANAMA PAPERS atau tulisan menarik lainnya Maulida Sri Handayani
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Maulida Sri Handayani
Penulis: Maulida Sri Handayani
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight