STOP PRESS! Polri Benarkan Hary Tanoe Tersangka Kasus SMS Ancaman Jaksa

Bagaimana Generasi Z Menyambut Dunia Kerja

Bagaimana Generasi Z Menyambut Dunia Kerja
Profesi dan Aktivitas generasi-z. SHUTTERSTOCK
Reporter: Tony Firman
26 Oktober, 2016 dibaca normal 2 menit
Generasi Z lebih banyak yang percaya bahwa mereka memegang kendali atas karier mereka sendiri. Maka, kecenderungan mereka untuk berwirausahan lebih tinggi dibanding generasi-generasi sebelumnya.
tirto.id - Mark Elliot Zuckerberg telah membuktikan kesuksesannya sebagai anak generasi milenial dengan penghasilan miliaran dolar di usia 23 tahun setelah mendirikan Facebook.

Ada pula Miley Cyrus yang bersolek dengan balutan nyeleneh yang berhasil mencuri panggung musik menyedot penonton. Sedangkan Paul Pogba menjadi ikon milenial di lapangan hijau dan baru-baru ini ia memecahkan rekor nilai transfer termahal.

Zuck, Cyrus, dan Pogba hanyalah tiga dari banyak generasi milenial yang sukses dan menjadi ikon masa ini. “Mereka kurang ajar, mereka narsis, mereka berhak”, kata Alex Williams dalam tulisannya di The New York Times.

Tapi itu generasi milenial alias generasi Y. Bagaimana dengan generasi berikutnya: Generasi Z?

PR Newswire bersama Monster Worldwide melakukan survey terhadap multigenerasi di Amerika Serikat, dalam kaitannya memandang karier dan pekerjaan, termasuk Generasi Z.

Dalam melihat pekerjaan dan karier, mayoritas Gen Z (sebanyak 76 persen) percaya bahwa mereka adalah pemilik dari karier mereka sendiri. Sebagai konsekuensinya, sebesar 49 persen dari mereka ingin berwirausaha, memiliki bisnisnya sendiri. Padahal, angka rata-rata yang ingin berwirausaha di antara semua generasi hanya sebanyak 32 persen.

Yang menarik, jika generasi milenial memprioritaskan peningkatan kinerjanya seperti fasilitas bermain, tidur dan penghilang stres lainnya hadir di tempat kerja, gen Z menunjukkan gejala berbeda. Ada tiga prioritas yang dilihat oleh Gen Z di tempatnya bekerja, yaitu asuransi kesehatan sebesar 70 persen, gaji yang kompetitif sebesar 63 persen, dan bos yang respek terhadap mereka, sebanyak 61 persen.

Ini berbeda dengan kecenderungan rata-rata semua generasi di mana asuransi kesehatan hanya diprioritaskan sebanyak 68 persen, gaji kompetitif sebesar 59 persen, dan perkara respek dari bos yang sebanyak 60 dari keseluruhan generasi.

Sebanyak 58 persen gen Z juga tergiur dengan harapan mendapat gaji lebih baik sehingga mau bekerja di akhir pekan. Sedangkan rata-rata dari seluruh generasi, yang mau kerja ekstra seperti itu hanya sebanyak 41 persen.

Bagaimana dengan peluang berpindahnya Gen Z dari tempat kerja semula?

Sebesar 74 persen gen Z menyatakan kesediannya untuk berpindah apabila memenuhi pilihan dan kesempatan yang lebih baik.

Ada empat hal yang memengaruhi mereka dalam bekerja, yang terutama adalah besarnya upah atau gaji, yang kedua adalah keleluasan mengejar passion, dan terakhir keamanan dalam bekerja.

Kita semua tahu gen Z adalah native digital. Mereka lahir dan tumbuh dalam era digital. Adapun generasi milenial masih merasakan masa-masa awal perkembangan teknologi ini. Gen Z sudah tumbuh dengan iPhone di benak dan tangannya, sementara milenial tumbuh dengan mendambakan iPod.

Karena itu, mereka percaya bahwa teknologi mobile terkait erat dengan cara kerja. Survei ini menyebut sebanyak 57 persen gen Z percaya bahwa teknologi memungkinkan mereka untuk menjadi lebih produktif. Mereka juga percaya perangkat mobile akan terus mengubah cara orang berkomunikasi di kantor dan dengan klien mereka.

Maka, lebih banyak dari mereka yang memilih bekerja menggunakan smartphone dibanding laptop. Dan lebih banyak yang ber-sms dibandingkan pengguna sosial media.

Bagaimana Generasi Z Menyambut Dunia Kerja

Kepercayaan terhadap Perguruan Tinggi

Dalam urusan pendidikan di perguruan tinggi, berdasar hasil survei dari Northeastern University 2014 lalu, secara umum gen Z masih menunjukkan tingkat kepercayaan yang besar, dengan harapan yang besar pula.

Penelitian yang melibatkan 1.015 pemuda-pemudi usia 16-19 tahun di Amerika Serikat ini menyebut gen Z masih punya kecenderungan kuat untuk masuk ke perguruan tinggi. Delapan dari 10 orang atau 81 persen dari mereka percaya bahwa gelar sarjana sangat penting dalam menunjang karier yang diinginkan.

Dan, hampir dua per tiga dari mereka juga merasakan manfaat dari perguruan tinggi lebih besar dari yang dibayarkannya. Namun, gen Z juga memandang penting adanya masalah di perguruan tinggi. Hampir setengah dari mereka mengatakan perguruan tinggi harus mengubah pendekatan karena yang ada sekarang ini tidaklah efektif.

Gen Z juga menginginkan mendapat pengalaman lebih. Mereka menginginkan ada peningkatan inovasi dari perguruan tinggi konvensional, misalnya peningkatan dalam hal keterampilan praktis dan pengalaman kerja. Tujuh dari sepuluh orang dari mereka, merasa tingkat penempaan kerja dari lulusan perguruan tinggi dan gaji rata-rata sangat penting untuk dipertimbangkan.

Beberapa tahun lagi, kita akan melihat bagaimana cara pandang generasi ini kelak setelah lulus sekolah dan perguruan tinggi.

Baca juga artikel terkait GENERASI Z atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - ton/msh)

Keyword