13 Oktober 2016

Bagaimana Bhumibol Adulyadej Menjaga Orkestra Politik Thailand?

Bhumibol Adulyadej. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Putu Agung Nara Indra - 13 Oktober 2019
Dibaca Normal 5 menit
Bhumibol Adulyadej adalah raja terlama yang bertakhta di satu negara. Berperan sebagai penjaga keseimbangan politik Thailand.
tirto.id - Raja Thailand Bhumibol Adulyadej meninggal pada 13 Oktober 2016, tepat hari ini 3 tahun lalu. Kesehatannya memang sudah menurun sejak 2009 akibat berbagai penyakit yang mendera. Ia juga sempat terserang stroke cukup parah pada 2012. Raja dengan masa kekuasaan terlama di dunia ini akhirnya harus mengakhiri perjuangannya melawan penyakit dalam usia 88.

“Walaupun tim dokter telah memonitor kondisi Raja tanpa henti dan berusaha sekerasnya mengusahakan kesembuhan sang Raja, namun kondisinya tidak kunjung membaik, bahkan terus memburuk,” tulis rilis resmi dari pihak kerajaan seperti dikutip Time.

Meninggalnya Bhumibol memicu gelombang duka rakyat Thailand. Sekitar seribu orang berkumpul dan meratapi kepergian sang Raja di depan rumah sakit tempat ia dirawat. Setelah Bhumibol mati, ribuan warga rela berbaris di depan Grand Palace untuk memberikan penghormatan terakhir kepadanya. Pihak junta militer menetapkan masa berkabung hingga satu tahun berikutnya.

Bhumibol adalah pemimpin yang sangat dipuja rakyatnya. Ia dipandang sebagai sosok setengah dewa yang peduli kepada rakyat dan memiliki kharisma tanpa tandingan. Bhumibol juga dianggap sebagai seorang penyelamat dari krisis-krisis yang mengancam keselamatan rakyat, khususnya saat kudeta militer yang jamak terjadi di Thailand.

Di sisi lain, Bhumibol juga aktor politik yang sangat berpengaruh. Ia adalah sumber legitimasi utama bagi setiap rezim yang hendak memerintah di Negeri Gajah Putih ini. Tidak ada rezim yang bertahan awet tanpa persetujuannya.

Bagaimana sebenarnya Raja Bhumibol dipandang oleh rakyatnya?

Fakta berikut ini mungkin bisa mewakili:

Pada 20 Mei 1992 Thailand tengah berada dalam situasi kritis. Rezim junta yang dipimpin Suchinda Kraprayoon mendapatkan tantangan dari demonstrasi besar-besaran yang dikomando tokoh gerakan sipil “blue pajama-clad” Chamlong Srimuan. Suchinda tidak tinggal diam dan memerintahkan pasukan militer untuk memukul mundur demonstran dari jalanan.

Selama tiga hari berturut-turut, pasukan militer menembaki para demonstran dengan agresif. Puluhan orang dilaporkan tewas dan ratusan lainnya terluka. Thailand saat itu berada di ambang pembantaian massal.

Bhumibol menyikapi situasi genting ini dengan mengundang Suchinda Kraprayoon dan Chamlong Srimuan ke istananya dan meminta mereka untuk menghentikan pertumpahan darah. Pertemuan ini diekspos secara besar-besaran dan disiarkan melalui layar televisi. Gambar yang menunjukkan Chamlong dan Suchinda berlutut dan menunduk di hadapan Raja, sembari berjanji untuk menghentikan kekerasan, adalah salah satu citra yang paling diingat rakyat Thailand hingga saat ini.

Momen berlututnya dua pemimpin politik itu menunjukkan bahwa kuasa Raja seakan-akan mengatasi keduanya. Time mencatat peristiwa ini disiarkan ke seluruh penjuru negeri dan telah ditonton 50 juta orang. Rekaman peristiwa tersebut juga masih terus diputar hingga saat ini sebagai pengingat atas besarnya jasa Bhumibol dalam menyelamatkan rakyatnya dari pembantaian dan perpecahan.

“Orang-orang Barat pernah bertanya kepada saya, apakah posisi saya sebagai raja tetapi mendukung demokrasi adalah suatu paradoks tersendiri? Saya jawab: di Thailand, raja adalah penjaga demokrasi,” ungkap Bhumibol seperti dikutip Time.

Hubungan Mesra dengan Militer

Bhumibol Adulyadej bertakhta sebagai salah satu monarki terlama di dunia. Ia naik takhta pada 1950 di usia 18 dengan gelar Rama IX. Kerajaan Thailand, yang sebelumnya lebih akrab dengan sebutan Siam, didirikan pada 1782 oleh pendiri dinasti Chakry, Rama I.

Bhumibol sebenarnya telah menjadi raja sejak 1946 menggantikan kakaknya, Ananda Mahidol, yang tewas secara misterius di tempat tidurnya di kompleks Istana Kerajaan. Namun karena usianya belum mencukupi, Bhumibol meneruskan sekolah terlebih dahulu di Lausanne, Swiss.

Bhumibol adalah salah satu generasi pertama monarki Thailand yang tidak sempat mencicipi kuasa absolut kerajaan. Hal ini disebabkan munculnya kudeta konstitusional yang menghilangkan kekuasaan mutlak monarki pada 1932. Kudeta ini kemudian disusul dengan Perang Dunia II yang memaksa pemerintah Thailand berkolaborasi dengan Jepang. Keluarga Kerajaan Thailand kemudian memilih untuk mengasingkan diri ke Swiss.

Bhumibol lahir pada 5 Desember 1927 di Mount Auburn Hospital, Massachusetts, Amerika Serikat saat ayahnya tengah menempuh studi di sana. Ia lahir dengan nama kecil Phumiphon Aduldet. Nama “Bhumibol”—yang digunakannya setelah penobatan sebagai raja—berarti “Kekuatan Sang Tanah”.

Alih-alih dibesarkan dengan budaya Thailand, Bhumibol dan kedua saudaranya dididik dengan cara Barat. Ia tumbuh dengan sistem pendidikan Barat, menggemari fotografi, dan sangat piawai bermain jazz lewat saksofonnya.

Semua berubah ketika kakaknya tewas secara misterius saat baru beberapa tahun bertakhta. Akhirnya, Bhumibol muda mau tak mau harus meneruskan kekuasaan kakaknya.

“Saat saya datang, kakak saya sudah meninggal. Banyak orang ingin mengungkapkan penyebab kematiannya, tak hanya secara teori, tapi juga membongkar kenyataannya. Mereka telah ditekan, selama ini ditekan oleh orang-orang berpengaruh di negara ini atau di dunia internasional,” paparnya kepada reporter BBC, David Lomay, dalam sebuah wawancara pada 1980.

Akhirnya, sang pangeran muda berperangai halus dan kalem ini harus menerima dirinya menjadi raja di sebuah negara yang tengah mengalami pergolakan. Meskipun tidak berpengalaman dalam politik, Bhumibol mengonsolidasikan posisinya di Thailand dengan cepat.

Langkah pertama yang dilakukan Bhumibol adalah menjalin kerja sama dengan pihak militer di bawah pimpinan Jenderal Sarit Thanarat. Ia merupakan pemimpin rezim militer Thailand semasa Perang Dunia II hingga tahun-tahun pertama pascaperang. Aliansi ini dibutuhkan untuk menjamin keberlangsungan monarki, mengingat Bhumibol tidak begitu mengenal situasi sosial-politik Thailand. Ia membutuhkan sekutu politik yang bisa diandalkan.

Sejak aliansi antara Bhumibol dan Sarit, militer Thailand selalu pasang badan untuk menjaga monarki dari segala ancaman yang muncul dari manapun. Militer Thailand memiliki satu dogma mendasar: tugas utama militer adalah menjaga raja, bukan rakyat. Setiap kudeta yang dilakukan militer juga harus mendapatkan persetujuan monarki.

William Case, profesor di Departemen Asia dan Studi Internasional di City University of Hong Kong, memaparkan bahwa perpolitikan Thailand selalu diwarnai dinamika hubungan antara militer dan monarki.

“Ada sebuah ironi tersendiri dalam rekam jejak hubungan militer dan monarki di Thailand. Dua raja Siam yang paling berpengaruh, Mongkut dan Chulalongkorn, mencari legitimasi dengan cara memodernisasi militer, namun akhirnya berujung pada marjinalisasi monarki oleh militer. Sementara itu, Sarit Thanarat justru mencari legitimasi dengan cara membangkitkan kembali monarki dan menaikkannya menjadi satu entitas yang terdiri dari raja, negara, dan agama,” paparnya dalam South China Morning Post.

Hubungan mulus dengan militer membuat Bhumibol mampu bertakhta selama 66 tahun. Economist mencatat, ia “selamat” melalui enam dekade pemerintahan, 26 perdana menteri, 19 konstitusi, dan 15 percobaan kudeta yang sembilan di antaranya berhasil.

Sang Dhammaraja

Bhumibol tidak hanya menggantungkan posisinya pada dukungan dari militer. Ia tampaknya sadar bahwa dirinya justru harus membangun reputasi yang baik di depan rakyat untuk mengimbangi pengaruh militer.

Kebutuhan untuk membangun reputasi dan citra yang baik akhirnya membuat sang raja kerap turun ke daerah-daerah untuk bertemu dengan rakyat. Bersama sang permaisuri, Ratu Sirikit, sang raja berkunjung ke desa-desa di pelosok Thailand. Sembari mengalungi kamera kesayangannya, raja dan permaisuri aktif berinteraksi dengan para warga desa sekaligus memantau langsung pembangunan di pelosok-pelosok negaranya.

Bhumibol tak hanya datang untuk pencitraan. Ia juga menggunakan pengaruhnya untuk mendorong pemerintah membangun saluran pengairan, memberi bantuan pertanian, serta membagikan obat-obatan bagi rakyat miskin.

Upaya Bhumibol ini mendapatkan sambutan yang sangat positif dari rakyat. Kegemaran blusukan yang berpadu dengan peran sebagai penjaga agama Buddha serta kemampuan menghentikan konflik sipil-militer membuat Bhumibol memiliki kharisma dan pengaruh yang sangat luas.

Ia dipandang sebagai personifikasi ajaran-ajaran luhur Buddha yang menjunjung tinggi aturan moral dan asketisme. Rakyat juga menganggapnya sebagai perwujudan “Dhammaraja”, sebuah konsep dalam ajaran Buddha Theravada yang menyebutkan tugas raja sebagai penjaga keadilan dan darma.



Mantan perdana menteri Anand Panyarachun bahkan menggambarkan Bhumibol memegang “kuasa atas otoritas moral tertinggi” yang sangat berpengaruh, meskipun tidak bisa digunakan sesering mungkin.

Pengaruh Bhumibol mulai mendapatkan tantangan kala Thaksin Shinawatra menjadi perdana menteri pada 2006, meskipun akhirnya ditumbangkan oleh kudeta militer beberapa tahun kemudian.

Kepopuleran Thaksin di kalangan petani dan rakyat kecil membuat militer khawatir. Mereka yang selama ini berlindung di balik legitimasi raja memandang Thaksin sebagai sosok pemimpin alternatif yang popularitasnya bisa saja menyalip sang raja.

Hal ini turut dijabarkan pula oleh Pavin Chachavalpongpun, guru besar hubungan internasional dari Kyoto University. Ia berpendapat aliansi antara raja dan militer (“network monarchy”) cenderung terancam oleh kehadiran orang kuat baru.

“[Network monarchy] menempatkan raja sebagai pusat dari struktur politik Thailand. Monarki dan militer bersama-sama merancang sistem politik di mana pemerintahan sipil yang terpilih selalu berada dalam posisi lemah dan rapuh. Jika seorang pemimpin sipil mulai menguat, maka hal ini akan mengancam aliansi mereka dan akan dijatuhkan lewat kudeta,” paparnya seperti dikutip Washington Post.

Kolomnis David Streckfuss dari The New York Times mengungkapkan hal serupa.

“Thaksin mewakili wajah lain dari Thailand, yaitu Thailand bagian pinggiran, dan kaum tradisionalis memandangnya sebagai seorang perampas. Raja Bhumibol seringkali dianggap sebagai simbol monarki yang berpihak kepada rakyat, dan mendedikasikan takhtanya kepada mereka yang miskin. Selanjutnya, Thaksin sekonyong-konyong merebut tempatnya, sehingga mengguncang pondasi kenegaraan dan identitas Thailand,” tuturnya.

Bhumibol sendiri selalu mengungkapkan bahwa dirinya tidak anti-kritik dan anti-demokrasi.

“Sesungguhnya, saya sendiri harus selalu dikritik. Saya sama sekali tidak takut akan kritik atas kesalahan saya, karena dari kritik lah saya tahu jika saya salah. Karena jika Anda berkata bahwa raja tidak boleh dikritik, itu sama artinya dengan menganggap bahwa Raja bukanlah manusia. Jika raja tidak bisa salah, itu artinya Anda sedang memandang rendah kepada Raja karena tidak memperlakukannya seperti manusia. Raja tetap bisa salah,” ujar Bhumibol di hari ulang tahunnya pada 2005, seperti dikutip CNN.

==========

Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 18 Oktober 2016 dengan judul "Akhir Orkestra Politik Raja Bhumibol Adulyadej". Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Baca juga artikel terkait THAILAND atau tulisan menarik lainnya Putu Agung Nara Indra
(tirto.id - Politik)

Penulis: Putu Agung Nara Indra
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight