tirto.id - Di balik kekaguman terhadap apapun terkait petualangan luar angkasa, barangkali ada satu pertanyaan menggelitik yang terbersit di benak beberapa orang: Bagaimana cara astronaut buang hajat di antariksa?
Pernahkah kita bayangkan bagaimana rasanya hidup di lingkungan tanpa gravitasi? Beda dengan di Bumi, di luar angkasa segalanya melayang, mulai dari makanan, peralatan penelitian, hingga para antariksawannya sendiri.
Tanpa gravitasi bumi yang menarik segala sesuatu ke bawah, aktivitas biologis sederhana menjadi tantangan yang luar biasa rumit. Nah, simak fakta-fakta unik mengenai teknologi dan prosedur sistem sanitasi di luar angkasa.
Rumitnya Buang Air di Luar Angkasa
Gravitasi bumi memungkinkan cairan dan padatan secara alami jatuh ke bawah. Di luar angkasa, hal ini tidak terjadi. Cairan cenderung membentuk bola-bola kecil yang menempel pada permukaan, sementara benda padat akan melayang secara acak.
Dahulu, misalnya ketika misi Apollo ke bulan pada dekade 1960-an dan 1970-an, masalah buang hajat di luar angkasa bagi para kosmonaut ini cukup merepotkan, hasilnya berantakan, dan tentu saja tidak higienis.

Perangkat Apollo kala itu belum memiliki toilet maupun area kamar mandi khusus di dalam pesawat atau roket. Astronaut buang air memakai kantong sampah. Pantat mereka ditempelkan di kantong plastik dengan perekat.
Kantong-kantong itu ditinggalkan di bulan untuk mengurangi massa dan risiko kontaminasi selama kembali ke Bumi. Bahkan, sisa-sisa limbah seringkali terlepas dan melayang di dalam ruang kapsul yang sempit.
Cara Astronaut Buang Hajat di Pesawat Antariksa
Setelah sekian lama masalah toilet menjadi persoalan pelik, kini para astronaut, termasuk dalam misi Artemis II bisa bernapas lega. Mereka tidak perlu lagi mencemaskan soal buang air kecil maupun besar di luar angkasa.
National Aeronautics and Space Administration (NASA) dan sejumlah badan antariksa lainnya telah berinovasi dengan menciptakan Universal Waste Management System (UWMS). Toilet modern ini dirancang lebih ringkas, nyaman, dan inklusif dibandingkan model sebelumnya.
Untuk buang air kecil, astronaut menggunakan selang panjang yang terdapat corong berbahan karet atau plastik (urine funnel) di ujungnya. Bentuk corong dibedakan antara astronaut pria dan wanita agar pas dengan anatomi tubuh, sekaligus untuk mencegah kebocoran.

Sedangkan untuk buang air besar, astronaut duduk di atas lubang kecil alias kursi toilet (commode). Kursi toilet antariksa ini diameternya jauh lebih sempit daripada toilet di Bumi. Mengapa kecil? Supaya segel udara tetap terjaga dan daya hisap vakum bekerja maksimal.
Agar astronaut tidak melayang saat sedang memenuhi "panggilan alam" di luar angkasa, toilet khusus itu dilengkapi dengan pengait kaki dan pegangan tangan. Dengan demikian, astronaut tetap stabil di posisinya.
Urin Bisa Didaur Ulang untuk Air Minum
Saat astronaut ingin buang air kecil, mereka akan mengaktifkan kipas penghisap pada selang urin. Aliran udara akan menarik urin masuk ke dalam selang tanpa ada setetes pun air pipis yang lolos ke kabin.
Air kencing tidak dibuang begitu saja ke ruang hampa di luar pesawat. Melalui sistem Urine Processor Assembly, air pipis tersebut disaring, didistilasi, dan diproses kembali menjadi air minum yang sangat murni.
Sistem daur ulang ini sangat krusial untuk misi jangka panjang guna menghemat cadangan air yang dibawa dari Bumi. Air yang terbuat dari urin daur ulang ini akan dikonsumsi jika misi luar angkasa diperpanjang.

Bagaimana dengan Limbah Tinja?
Proses limbah tinja sedikit lebih rumit ketimbang air urin yang bisa diminum usai didaur ulang. Setelah astronaut menempatkan posisi dengan benar menggunakan pengait kaki, kipas vakum akan menarik limbah padat langsung ke dalam kantong penyimpanan khusus.
Berbeda dengan urin, feses astronaut belum bisa didaur ulang. Limbah padat disimpan dalam wadah kedap udara yang dapat menampung sekitar 30 porsi buang air. Setelah wadah penuh, limbah tersebut dimasukkan ke dalam kapal kargo logistik yang sudah tidak terpakai.

Ketika kapal kargo tersebut dilepaskan dari stasiun dan masuk kembali ke atmosfer Bumi, ia akan terbakar habis. Jadi, "bintang jatuh" yang terkadang kita lihat di langit malam bisa saja adalah sampah luar angkasa yang terbakar.
Buang Hajat Saat Menjelajah
Astronaut tidak selalu berada di dekat toilet, terlebih ketika berada di luar pesawat. Saat melakukan penjelajahan antariksa yang memakan waktu lama, para angkasawan tidak mungkin kembali ke dalam pesawat hanya untuk ke kamar mandi.
Solusi untuk persoalan ini sangat sederhana namun efektif: Maximum Absorbency Garment (MAG). Dikutip dari laman NASA, ini pada dasarnya adalah popok dewasa dengan daya serap super tinggi yang dirancang untuk menampung cairan dalam jumlah banyak.
Meskipun mungkin terasa tidak nyaman, MAG adalah standar keamanan untuk memastikan bahwa astronaut bisa fokus pada tugas mereka di ruang hampa yang berbahaya tanpa harus mengabaikan ketika tiba-tiba ada “panggilan alam".
ARTIKEL LAINNYA TENTANG MISI LUAR ANGKASA KLIK DI SINI.
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id




































