Asal-Usul Resolusi yang Dibuat Saat Tahun Baru

Oleh: Maria Ulfa - 31 Desember 2018
Dibaca Normal 1 menit
Bangsa Romawi percaya resolusi akan dilihat Janus dan diwujudkan pada tahun mendatang.
tirto.id - Menurunkan berat badan, mendapatkan pekerjaan, lulus kuliah dengan nilai memuaskan, dan beberapa harapan lainnya adalah hal biasa yang dibuat dalam resolusi menyambut tahun baru.

Resolusi dibuat untuk dilakukan selama satu tahun ke depan. Terlepas dari apa janji yang dibuat, kebanyakan adalah untuk meningkatkan kualitas hidup pada tahun yang akan datang.

Akan tetapi, pernahkah Anda berpikir sejak kapan manusia membuat resolusi saat tahun baru?

Dilansir Live Science, lebih dari 4.000 tahun yang lalu, orang Babilonia kuno merayakan Tahun Baru bukan pada bulan Januari, tetapi pada Maret, ketika panen musim semi tiba. Mereka melakukan festival musim semi yang disebut Akitu dan berlangsung selama 12 hari.

Sisi penting Akitu adalah penobatan raja baru atau penegasan kembali kesetiaan kepada raja lama, seandainya ia masih duduk di atas takhta. Ritual khusus tersebut juga menegaskan perjanjian umat manusia dengan para dewa.

Berabad-abad kemudian, bangsa Romawi kuno memiliki tradisi yang mirip dengan perayaan tahun baru bangsa Babilonia. Di mana mereka juga merayakan tahun baru awalnya dimulai pada bulan Maret.

Pada masa-masa awal Roma, istilah hakim kota ditentukan. Pada 1 Maret, hakim kota yang baru ditunjuk dan dilantik oleh hakim lama. Hakim lama menegaskan di hadapan para senat Romawi, mereka telah melakukan tugas dengan baik dan sesuai hukum.

Dilansir dari History, kalender Romawi awal terdiri dari 10 bulan atau 304 hari, dengan setiap tahun baru dimulai pada vernal equinox (Maret), menurut tradisi yang diciptakan oleh Romulus, pendiri Roma, pada abad ke-8 Sebelum Masehi (SM). Numa Pompilius, seorang raja berikutnya menambahkan bulan Januarius dan Februarius.

Kemudan pada 46 SM Kaisar Romawi, yaitu Julius Caesar memperkenalkan kalender Julian, yang sangat mirip dengan kalender Gregorian yang lebih modern yang digunakan sebagian besar negara-negara di dunia saat ini.

Kemudian, tahun baru yang awalnya jatuh pada Maret, ditetapkan menjadi 1 Januari oleh Kaisar Julius Caesar. Hal tersebut dilakukan untuk menghormati nama yang sama dengan bulan tersebut, yaitu Janus, dewa permulaan Romawi, yang memiliki dua wajah. Satu wajah melihat ke depan, dan satu wajahnya melihat ke belakang, sehingga memungkinkan Janus untuk melihat kembali ke masa lalu dan melihat masa depan.

Pada tanggal 31 Desember, orang-orang Romawi membayangkan Janus melihat ke belakang, yaitu melihat ke tahun lalu, dan maju menuju tahun yang baru. Hal itu yang menjadikan orang Romawi membuat resolusi tahun baru dan memaafkan musuh atas masalah di masa lalu, demikian dilansir dari Wonderopolis.

Bangsa Romawi juga percaya, Janus dapat memaafkan mereka atas kesalahan mereka pada tahun sebelumnya. Pada perayaan tahun baru, bangsa Romawi akan membagi-bagikan hadiah untuk orang-orang terdekat, dan membuat janji atau resolusi, karena mereka percaya Janus akan melihat hal tersebut dan memberkati mereka di tahun mendatang.

Live Science menulis, sebenarnya tidak kaitan langsung dari tradisi Romawi kuno ke resolusi di tahun baru di masa modern seperti sekarang. Akan tetapi keinginan untuk memulai lagi pembuatan resolusi ini muncul berulang kali dalam peradaban barat.

Pada 1740, John Wesley, pendiri Methodism, menciptakan jenis pelayanan gereja yang baru. Layanan-layanan ini disebut Covenant Renewal Services atau layanan malam hari.

Pelayanan ini diadakan selama Natal dan tahun baru sebagai alternatif untuk liburan. Orang-orang akan bernyanyi, berdoa, merenungkan kehidupan di tahun tersebut dan memperbarui perjanjian mereka dengan Tuhan.

Resolusi Tahun Baru telah menjadi tradisi sekuler dan kebanyakan orang Amerika Serikat membuat resolusi peningkatan diri. Pemerintah AS bahkan membuat situs web untuk membantu mereka yang mencari kiat untuk mencapai beberapa resolusi populer, seperti menurunkan berat badan, menjadi sukarelawan, berhenti merokok, makan sehat, bebas utang, dan menabung.


Baca juga artikel terkait PERAYAAN TAHUN BARU atau tulisan menarik lainnya Maria Ulfa
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Maria Ulfa
Editor: Dipna Videlia Putsanra