tirto.id - Sekolah Rakyat membuka peluang bagi para siswa untuk melanjutkan pendidikan hingga tingkat SMA. Salah satunya adalah Nabila Sagina (16), murid Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 9 Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Ketekunan dan keikhlasan Nabila kini membuahkan hasil berkat program Sekolah Rakyat. Nabila bersama 124 siswa lainnya tinggal di asrama. Fasilitas yang tersedia mencakup seragam, sepatu, makanan, alat tulis, buku pelajaran, perpustakaan, mushola, hingga ruang gym.
“Terima kasih banyak sudah membangun Sekolah Rakyat bagi kami yang putus sekolah atau tidak bisa melanjutkan sekolah karena terhalang biaya,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (5/10/2025).
Siswi asal Kecamatan Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, ini bercerita sejak kecil sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah karena ibunya, Sri Jumiarniah Rahayu, menderita stroke saat Nabila berusia dua tahun.
Hidupnya semakin berat setelah ayahnya, Rudiansyah, meninggal dunia akibat penyakit tuberkulosis paru pada 2023. Nabila bersama adiknya bekerja sama merawat sang ibu, sementara kakak perempuannya telah menikah dan tinggal terpisah dari mereka.
Nabila yang saat itu masih bersekolah di tingkat SMP dituntut untuk lebih cepat dewasa. Ia juga perlu membagi waktu antara belajar di sekolah dan merawat ibunya yang sakit.
Rutinitasnya dimulai pukul 04.00 WITA dengan merapikan rumah, mulai dari mencuci piring, mencuci dan menyetrika pakaian hingga memandikan ibunya.
Nabila mengandalkan bantuan dari saudaranya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Kalau ada, tante yang kasih uang buat makan, kalau enggak dari kakek, kalau enggak dari kakak,” katanya.
Namun, Nabila tak pernah mengeluh atas keadaannya dan tetap dengan sabar serta ikhlas merawat ibu dan adik perempuannya.
Kendati sekarang seluruh kebutuhannya tercukupi, Nabila mengakui awalnya ia cukup kesulitan beradaptasi di SRT 9 Banjarbaru. Pikirannya kerap tertuju pada kondisi ibu dan adiknya yang tinggal berdua di rumah.
Sesekali, kakak perempuannya datang untuk menjenguk dan menginap. Di tengah kesibukan belajar dan menjalani hidup mandiri di asrama, rasa rindu terhadap ibu dan adiknya sering kali menyelimuti hati Nabila.
“Sebenarnya berat juga melepas ibu. Soalnya hari-hari saya yang rawat ibu, kayak contohnya ibu mau buang air, mau BAB, mau makan. Kepikiran, ibu gimana ya di rumah, makannya gimana,” ujar Nabila dengan suara bergetar.
Demi masa depan putrinya, sang ibu meyakinkan Nabila bahwa ia akan baik-baik saja saat Nabila menempuh pendidikan. Nasihat itu menjadi dorongan bagi Nabila untuk melanjutkan sekolah di Sekolah Rakyat dan mengejar cita-citanya menjadi seorang hakim.
Tekad untuk meraih mimpi sekaligus membanggakan keluarga menjadi landasan semangatnya untuk terus bersekolah.
Nabila merasa bahagia belajar di SRT 9 Banjarbaru karena mendapat banyak teman baru dan tempat tinggal yang nyaman. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto atas gagasan sekolah gratis bagi anak-anak yang kurang mampu secara ekonomi.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id


































