tirto.id - Militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap fasilitas militer Iran setelah Presiden Donald Trump menyebut Teheran melakukan "pelanggaran konyol" terhadap gencatan senjata. Hal ini menyusul serangan drone terhadap sebuah kapal kargo di Selat Hormuz pada Kamis lalu.
BBC melaporkan, tidak ada korban jiwa dalam insiden serangan drone satu arah tersebut. Namun, peristiwa itu memicu evakuasi ribuan pelaut yang terjebak di kawasan tersebut.
Menanggapi hal itu, Komando Pusat AS (Centcom) pada Jumat kemarin menyatakan, telah menyerang gudang penyimpanan rudal dan drone serta posisi radar pantai milik Iran.
Dalam laporannya, BBC menyebutkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyalahkan AS dan Israel atas serangan tersebut.
"Jika agresi ini diulangi, respons kami akan lebih luas dari ini," tegas IRGC.
Centcom menggambarkan serangan tersebut sebagai respons kuat terhadap tindakan agresi yang tidak beralasan terhadap kapal komersial yang melanggar gencatan senjata.
"Iran mengganggu kebebasan navigasi saat perdagangan mengalir melalui koridor perdagangan internasional yang vital ini," bunyi pernyataan Centcom.
Ketegangan ini terjadi di tengah upaya diplomatik untuk menjaga stabilitas di Selat Hormuz.
AS dan Iran sebelumnya telah menyepakati memorandum pemahaman (MOU) 14 poin pada 17 Juni untuk mengakhiri permusuhan, termasuk komitmen Iran menjamin jalur aman bagi kapal komersial selama 60 hari.
Wakil Presiden JD Vance melalui media sosial X menyatakan bahwa jika Iran memiliki perbedaan pendapat terkait penerapan MOU, mereka bisa melakukan komunikasi diplomatik.
"Namun, kekerasan akan dibalas dengan kekerasan," tegasnya.
Sebaliknya, Ebrahim Azizi, ketua komisi keamanan nasional parlemen Iran, menuding AS telah menyerang Iran di tengah negosiasi.
"Pelanggaran gencatan senjata yang ceroboh ini, seperti biasa, akan berujung pada penyesalan bagi mereka," ujarnya.
Kapal yang diserang, Ever Lovely berbendera Singapura, dilaporkan tetap dalam kondisi aman bersama seluruh awak dan muatannya.
Akibat insiden ini, Organisasi Maritim Internasional (IMO) PBB terpaksa menunda evakuasi bagi lebih dari 11.000 pelaut yang terjebak di jalur pelayaran krusial tersebut.
Hingga saat ini, belum ada kejelasan apakah serangan AS merupakan tindakan terisolasi atau bagian dari respons berkelanjutan.
Presiden Trump, saat ditanya mengenai masa depan gencatan senjata, hanya menjawab, "Anda akan segera tahu. Saya tidak suka fakta bahwa mereka menembak kemarin."
Sebelumnya, AS sempat optimistis karena Iran telah memberikan sinyal tidak akan lagi memungut biaya atau tarif bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Namun, ketidakpastian tetap tinggi mengingat pernyataan kepala negosiator Iran, Mohammed Bagher Ghalibaf, yang menekankan bahwa administrasi Selat Hormuz tidak akan kembali seperti kondisi sebelum perang.
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id




























