Arisan dan Perannya yang Terus Hidup

Kontributor: Daria Rani Gumulya, tirto.id - 22 Sep 2022 08:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Kebutuhan sosial membuat arisan masih terus digemari oleh masyarakat Indonesia yang erat dengan budaya kolektif.
tirto.id - Sejak awal, arisan terbentuk atas dasar budaya gotong royong dan kekeluargaan yang melekat di masyarakat Indonesia. Memiliki kesamaan prinsip, arisan ibu modern sekarang ini hadir dalam rupa yang berbeda. Dengan dasar karakter masyarakat yang guyup dan senang bersilaturahmi, fenomena arisan ibu modern menjadi ajang berkumpul, tempat berbagi informasi dan pengalaman, sampai menjadi sumber untuk mencari jejaring baru dalam melebarkan bisnis para ibu.

Arisan Dulu dan Sekarang
Suasana di sudut kafe di Jakarta Selatan pada siang hari itu meriah. Sekitar 8 ibu-ibu berdandan heboh mengenakan baju berwarna senada. Kompak mengenakan blazer berwarna pink, dan celana putih, serta berkaca mata hitam, mereka berfoto bersama dengan pose candid tertawa tanpa melihat kamera.

Pemandangan tersebut adalah contoh gambaran perubahan yang terjadi dari arisan dulu dan yang dilakukan ibu-ibu saat ini. Jika dulu arisan hanya ada di rumah-rumah, saat ini para ibu cenderung memilih kafe, restoran atau hotel sebagai tempat arisan. Jika dulu arisan karena memiliki kesamaan tempat tinggal atau antar-tetangga saja, kini arisan lebih banyak ruang lingkupnya, seperti arisan ibu-ibu orangtua murid di sekolah, arisan komunitas hobi yang sama, arisan alumni, hingga arisan sesama pemilik usaha.


Arisan merupakan istilah yang digunakan untuk menyederhanakan satu konsep mengenai salah satu sistem regulasi keuangan, khususnya di Indonesia. Rotating Saving and Credit Association (ROSCA) atau yang kenal dengan istilah arisan merupakan salah satu format yang menarik sebagai sebuah lembaga keuangan yang ada di wilayah pedesaan (Otto Hopes di jurnal People That Count: The Forgotten Faces of Rotating Saving and Credit Associations In Indonesia).

Arisan di Indonesia yang menjadi perwujudan budaya gotong royong terlihat jelas pada arisan pada pernikahan Melayu Sambas, Pontianak, Kalimantan Barat. Proses pernikahan yang cukup lama dan memakan biaya besar, menciptakan bentuk arisan dengan kearifan lokal yang saling membantu.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan, arisan adalah kegiatan mengumpulkan uang atau barang yang bernilai sama oleh beberapa orang kemudian diundi di antara mereka untuk menentukan siapa yang memperolehnya, undian dilaksanakan dalam sebuah pertemuan secara berkala sampai semua anggota memperolehnya.

Walau pelakunya tidak selalu perempuan, Ai Syarif, desainer fesyen dan pengamat gaya hidup, membenarkan bahwa arisan identik dengan perempuan.

“Umumnya, ibu-ibu yang tidak bekerja, mencari kesibukkan setelah mengurus suami, anak dan rumah tangga," tuturnya.

Meski demikian, saat ini tak hanya ibu rumah tangga saja yang ikut arisan, pemilik bisnis dan wanita karier juga banyak yang ikut dalam arisan.

Ai menilai, kegiatan arisan ini jarang sekali ditemukan di luar negeri. Tetapi di Indonesia, arisan adalah kegiatan yang dijumpai sehari-hari dan menjadi budaya masyarakat. “Tujuannya tak hanya sekadar silaturahmi,” ungkap Ai. Ia menambahkan, tujuan arisan tergantung individu masing-masing, banyak juga yang ikut komunitas arisan untuk mengembangkan bisnis dan mencari jejaring.


Pengaruh Arisan pada Bisnis Para Ibu
Meski banyak orang menilai arisan hanya kegiatan bersenang-senang atau buang-buang uang saja, namun hal ini tidak berlaku bagi sebagian orang. Anita Sumarsono, misalnya. Wanita yang berprofesi sebagai notaris sekaligus pemilik jaringan hotel Azana ini sudah sekitar sepuluh tahun ikut arisan.

“Saya ikut arisan karena ingin menjalin tali silaturahmi dengan teman-teman secara kontinu,” ungkapnya.

Ia mengatakan, saat ini saya ikut 3 grup arisan dengan nominal uang yang bervariasi antara Rp200 ribu hingga Rp1,5 juta.

Infografik Arisan
Infografik Kocok Dulu. tirto.id/Quita


Anita mengakui, arisan juga bisa menjadi sarana untuk mengembangkan bisnis. Ia mencontohkan, ada seorang teman yang punya bisnis pakaian. Maka teman-teman satu grup arisan akan membeli pakaian itu, dan pada pertemuan berikutnya semua orang foto bersama mengenakan pakaian tersebut sebagai kode berpakaian, lalu mengunggahnya di media sosial masing-masing. “Ini seperti promosi, jadi followers media sosial kita tahu baju tersebut dan mungkin saja akan membeli produk itu jika dia tertarik,” ungkapnya.

Selain pakaian, ada juga teman Anita yang berbisnis restoran. “Kita gunakan resto tersebut sebagai tempat arisan, kita membantu teman, sekaligus mempromosikan restoran itu pada teman-teman di luar circle kita.”

Pengalaman positif mengenai arisan juga dirasakan dengan Salsa Vinandita, pelatih dan pemilik pelantar digital gaya hidup sehat dan olahraga Salsalivefit. Bisnis Salsalivefit ialah menjual produk-produk penurun berat badan dan kelas-kelas olahraga baik daring dan luring.

“Menurut saya arisan banyak banget manfaatnya. Arisan harus diakui masih menjadi salah satu strategi pemasaran yang luar biasa yaitu kekuatan word of mouth.” Memang dalam menjalankan bisnisnya, Salsa juga mengandalkan digital marketing, iklan, sosial media untuk branding dan menarik pelanggan.

Namun baginya, strategi word of mouth ini masih sangat terpakai meningkatkan pendapatan. “Ketika ada teman arisan yang mencoba produk saya dan cocok, ia secara sukarela merekomendasikan produk tersebut pada teman-temannya. Kemudian temannya ini akan mencoba dan bercerita orang lain lagi, seperti efek domino,” ungkap Salsa.

Dari segi bisnis jelas berpengaruh. “Setelah kita punya banyak teman dan jejaring, omzet bisnis bisa mengalami peningkatan. Misalnya saja, dari kelas daring awalnya hanya terjual 100 orang kini bisa 3 kali lipatnya, mencapai 300 orang yang ikut,” jelasnya. Ia bercerita, saat pandemi yang mengharuskan orang untuk di rumah saja, bisnisnya justru meningkat, karena banyak teman arisan yang kemudian mencoba produk dietnya dan bareng-bareng daftar kelas senam daring.


Tempat Berbagi Untuk Perempuan
American Society of Aging mencatat bahwa orang dewasa yang memiliki jejaring sosial lebih luas cenderung memiliki memori dan fungsi kognitif lebih baik, dan beban alostatik - keausan pada tubuh dan otak karena stress - lebih rendah. Memiliki hubungan positif dengan teman-teman dan keluarga terbukti berkontribusi pada efek kesehatan serta memperpanjang usia. Kehidupan yang terbatas selama lebih dari dua tahun di masa pandemi, tentu melegakan bagi para pengikut arisan yang kini bisa bertemu secara langsung.

Saat ini, Salsa mengikuti dua grup arisan yang masih aktif, satu sejak tahun 2016 yang berisi teman-teman alumni SMA, dan satu lagi grup arisan dari ibu-ibu di sekolah anaknya. Menurutnya, keseruan ikut arisan karena dia bisa berbagi pengalaman dengan orang-orang yang punya satu kesamaan misalnya hobi yang sama.

“Juga bisa belajar dari ilmu dari orang lain. Ada teman yang bekerja sebagai sales manajer, ada yang berbisnis perawatan kulit, dan lain sebagainya. Dengan kita ngobrol dan bertukar pikiran tentu dapat pandangan baru yang kita dapatkan. Ini yang membuat arisan jadi lebih fun.”

Selain itu, menurut Salsa, arisan yang diadakan di kafe atau restoran bisa menjadi momen me-time yang sangat diperlukan ibu-ibu. Menurutnya, menjadi ibu juga pernah lelah, setiap hari mengurus anak dan urusan rumah tangga pasti ingin rehat sejenak untuk sekedar pergi keluar bersama teman. “Demi kesehatan mental,” ungkapnya. Arisan menjadi ruang bagi para ibu untuk saling berbagi masalah anak, saling curhat dengan teman yang dipercaya, dan juga saling mengingatkan satu sama lain.

Arisan dalam perkembangannya, masih memberikan manfaat yang sama, khususnya bagi para perempuan, dengan adanya unsur budaya gotong royong dan kekeluargaan. Bahwa dengan bersama-sama, segala sesuatu menjadi lebih ringan, bahkan kini menghasilkan cuan.

Baca juga artikel terkait ARISAN atau tulisan menarik lainnya Daria Rani Gumulya
(tirto.id - Mild Report)

Kontributor: Daria Rani Gumulya
Penulis: Daria Rani Gumulya
Editor: Lilin Rosa Santi

DarkLight