tirto.id - Presiden Prabowo Subianto menyampaikan kritik terhadap sejumlah kalangan yang dinilainya terus membangun narasi pesimistis mengenai kondisi Indonesia dengan menyebutnya sebagai “Londo Ireng”. Apa arti istilah Londo Ireng?
Kritikan Presiden Prabowo tersebut disampaikan saat memberikan pidato pada peringatan Hari Lahir (Harlah) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Kamis (23/7/2026).
Dalam kesempatan itu, Prabowo menegaskan bahwa pemerintah tidak anti terhadap kritik karena kritik merupakan bagian dari sistem demokrasi. Namun, ia menilai terdapat pihak-pihak tertentu yang menurutnya tidak sekadar mengkritik, melainkan terus berupaya menggiring opini publik bahwa Indonesia berada dalam kondisi yang buruk dan akan mengalami kegagalan.
Ia kemudian menyebut beberapa profesi dan kelompok, seperti wartawan, jurnalis, pengamat, serta lembaga swadaya masyarakat (LSM), sebagai bentuk baru dari “Londo Ireng”.
"Kita negara demokrasi. Kita tidak anti kritik. Tapi kita bukan anak kecil. Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut londo ireng, ya. Yang ikut Belanda perang lawan kita. Londo-londo ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain. Wartawan, jurnalis, apa itu, pengamat, LSM," ujar Prabowo.
Apa Arti Londo Ireng?
Dalam konteks sejarah, "Londo Ireng" atau "Belanda Hitam" yang dalam bahasa Belanda disebut Zwarte Hollanders merupakan istilah yang merujuk kepada orang-orang Afrika Barat yang direkrut oleh pemerintah kolonial Belanda untuk menjadi prajurit Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) pada abad ke-19.
Mereka bukan orang Belanda secara etnis, melainkan berasal dari wilayah Pantai Emas Belanda (Dutch Gold Coast) yang kini menjadi bagian dari Ghana, serta beberapa wilayah Afrika Barat lainnya seperti Burkina Faso, Mali, Niger, Pantai Gading, dan Benin.
Julukan "Belanda Hitam" muncul karena mereka bertugas sebagai tentara Belanda, mengenakan seragam KNIL, menggunakan nama-nama Belanda seperti Johannes atau Mozes, serta memperoleh status hukum yang disamakan dengan tentara Eropa di lingkungan militer kolonial.
Dalam bahasa Jawa, mereka kemudian dikenal sebagai "Londo Ireng", yang secara harfiah berarti "Belanda berkulit hitam."
Perekrutan Londo Ireng berlangsung antara 1831 hingga 1872, ketika Belanda mengalami kekurangan personel militer setelah menderita kerugian besar dalam Perang Jawa (1825-1830) melawan Pangeran Diponegoro. Ribuan tentara Belanda dan puluhan ribu tentara pribumi tewas dalam perang tersebut.
Di sisi lain, Belanda juga kehilangan sebagian sumber daya manusia setelah Belgia memisahkan diri pada tahun 1830. Untuk mengatasi kekurangan pasukan, pemerintah kolonial mengikuti langkah Inggris dan Prancis yang saat itu juga merekrut tentara dari Afrika untuk bertugas di wilayah jajahan mereka.
Diperkirakan lebih dari 3.000 orang Afrika Barat direkrut menjadi anggota KNIL. Sebagian memang bergabung secara sukarela, tetapi banyak pula yang berasal dari kalangan budak atau tawanan perang yang dibeli dari pasar budak di wilayah Kekaisaran Ashanti.
Belanda memiliki beberapa alasan memilih tentara Afrika. Selain untuk menutupi kekurangan personel, pemerintah kolonial meyakini bahwa prajurit Afrika lebih tahan terhadap iklim tropis dibandingkan tentara yang didatangkan dari Eropa.
Belanda juga menganggap tentara yang berasal dari luar Nusantara tidak memiliki ikatan emosional dengan penduduk setempat sehingga kecil kemungkinan akan bersimpati kepada perlawanan rakyat Indonesia terhadap penjajah.
Karena alasan tersebut, mereka ditempatkan dalam berbagai operasi militer untuk memperluas kekuasaan kolonial Belanda di Hindia Belanda.
Selama bertugas, Londo Ireng ikut diterjunkan dalam sejumlah peperangan besar, termasuk Perang Padri, operasi militer di Kalimantan, Sulawesi, Bali, Timor, hingga Perang Aceh yang berlangsung puluhan tahun.
Dalam berbagai catatan militer Belanda, pasukan Afrika dikenal sebagai prajurit yang disiplin, tangguh, dan berani. Beberapa di antaranya bahkan menerima penghargaan militer tertinggi atas keberanian mereka di medan perang, seperti Jan Kooi, seorang prajurit asal Elmina yang memperoleh penghargaan Militaire Willems-Orde setelah menyelamatkan perwira Belanda dalam Perang Aceh.
Untuk konteks modern, penggunaan "londo ireng" dipakai sebagai metafor bagi pihak lokal yang dianggap mengabdi atau membela kepentingan asing alih-alih negaranya sendiri.
Istilah ini kerap muncul dalam kritik sosial atau politik untuk menyoroti kelompok tertentu yang dinilai merugikan kepentingan nasional.
Dalam pidato Presiden Prabowo Subianto, istilah "londo ireng" merupakan sebuah kiasan atau metafora politik, bukan dalam arti sejarah.
Menurut Prabowo, istilah tersebut merujuk kepada orang Indonesia yang dinilainya lebih mengabdi atau berpihak kepada kepentingan asing dibandingkan kepentingan bangsa sendiri.
Ia mengaitkan istilah itu dengan orang-orang yang dinilai memiliki sikap seperti para pembantu pemerintah kolonial pada masa penjajahan, yakni mendukung pihak luar atau melemahkan bangsanya sendiri.
Dalam konteks pidato tersebut, Prabowo menyebut istilah itu untuk menyindir pihak-pihak yang menurutnya terus menyebarkan narasi pesimistis mengenai Indonesia, termasuk sebagian wartawan, jurnalis, pengamat, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM).
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id






























