tirto.id - Aliansi Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak) menggelar aksi demonstrasi di Patung Kuda, Jakarta Pusat, Kamis (4/9/2025). Massa terlihat memenuhi badan jalan menuju Monas dengan membawa spanduk yang berisi sejumlah tuntutan. Selain itu, mereka juga terlihat membawa patung tikus berdasi yang diikatkan ke sejumlah tiang penyangga.
Hingga pukul 17.00, massa masih melakukan orasi dan menyampaikan tuntutannya secara bergiliran di atas mobil komando.
Ketua Umum Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI), Sunarno, mengatakan patung tikus berdasi tersebut sengaja dibawa sebagai simbol pejabat yang korupsi. Binatang pengerat itu disebutnya karena para koruptor yang memakan uang rakyat.
“Pasca reformasi 98 bukan membaik, tapi justru banyak koruptor di pemerintahan kita. Hal ini kami sampaikan dengan simbol patung tikus ini, harapan kami segera para koruptor ditangkap dan diadili,” kata Sunarno kepada wartawan Kamis (4/9/2025).
Sejumlah untutan yang disuarakan dalam aksi ini antara lain penurunan pajak rakyat, penurunan gaji pejabat tinggi, penangkapan dan pengadilan para koruptor dengan pengembalian seluruh aset kepada negara.
Selain itu, aksi ini juga menyoroti praktik represif aparat terhadap aksi unjuk rasa. Mereka menilai hak demokrasi rakyat untuk menyampaikan pendapat semakin dibatasi. Total terdapat sekitar 12 tuntutan yang mereka suarakan.
Setelah melakukan orasi, massa aksi kemudian menggelar doa bersama seraya memegang lilin sekitar pukul 18.00 WIB, dipimpin oleh Sekjen Konsorsium Pembaruan Agraria KPA, Dewi Kartika. Doa itu ditujukan untuk para korban yang gugur dalam aksi demonstrasi yang terjadi belakangan ini.
“Dengan keyakinan masing-masing, mari kita kirimkan doa kepada kawan-kawan, setidaknya 10 orang yang telah meninggalkan dan bertaruh nyawa demi cita-cita keadilan sosial, keadilan ekonomi, keadilan politik, dan kesetaraan,” ungkapnya.
Menurutnya, apapun situasi yang tengah terjadi saat ini di mana masyarakat mengalami ketidakadilan secara terus menerus, tetapi dengan semua tantangan itu, mereka masih bisa menyuarakan keadilan dan memperjuangkannya.
“Dari gerakan buruh bersama rakyat, mari kita terus tebarkan semangat perjuangan, mari kita sebarkan solidaritas tanpa batas. Seluruh gerakan buruh, gerakan tani, gerakan masyarakat adat, gerakan perempuan, gerakan nelayan, gerakan pemuda, mahasiswa, dan seluruh rakyat yang merindukan lahirnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujarnya.
Usai berdoa, massa aksi menyanyikan lagu “Gugur Bunga” dan suasana menjadi syahdu.
Lebih lanjut, sejumlah massa kemudian membakar patung tikus berdasi yang dibawanya. Mereka kembali bernyanyi sambil menari memutari patung yang dibakar.
Sekitar pukul 18.25 massa perlahan meninggalkan tempat aksi untuk kembali menuju tempatnya masing-masing. Di sisi lain, petugas kebersihan membersihkan area dan sampah yang tersisa.
Berikut sejumlah tuntutan yang dibawa oleh massa aksi:
- Hentikan brutalitas aparat kepolisian dan TNI, bebaskan seluruh peserta aksi dan aktivis pro-demokrasi yang ditangkap; bentuk tim independen untuk mengusut tuntas dan menindak tegas pelanggaran HAM terutama kasus kematian 10 orang warga dan massa aksi.
- Bentuk pengadilan HAM untuk mengadili para pelaku pelanggaran HAM di masa lalu dan sekarang.
- Reformasi total institusi kepolisian, dan kembalikan TNI ke barak.
- Reformasi total sistem pemilu dan partai politik yang menjadi biang kerok kerusakan sistem demokrasi.
- Hapuskan hak istimewa, potong gaji dan tunjangan pejabat negara, perwira tinggi, pejabat lembaga non kementerian, komisaris dan direktur BUMN hingga setara upah buruh rata-rata, yang kemudian dialihkan untuk anggaran pendidikan dan kesehatan gratis, subsidi serta program kesejahteraan bagi rakyat.
- Batalkan kenaikan tarif pajak bagi kelompok masyarakat menengah ke bawah dan mengalihkan bebannya kepada konglomerat, korporasi dan perbankan dengan memberlakukan pajak progresif.
- Sahkan RUU Perampasan Aset untuk mengadili dan menyita aset para koruptor.
- Turunkan harga pangan dan sembako, tarif air dan listrik, bahan bakar minyak; serta batalkan kenaikan iuran BPJS yang semakin mencekik kehidupan rakyat.
- Hapus sistem outsourcing; memastikan jaminan kerja dan upah layak, hentikan PHK massal, dan bangun industrialisasi nasional di bawah kontrol penuh rakyat.
- Tertibkan monopoli konsesi dan tanah telantar korporasi, distribusikan kepada rakyat melalui reforma agraria untuk menjamin keadilan dan pemerataan ekonomi.
- Batalkan dan cabut kebijakan yang bertentangan dengan konstitusi dan menindas rakyat (UU Cipta Kerja, KUHP, UU Minerba, Proyek Strategis Nasional, UU Kehutanan, RKUHAP, dan lain-lain).
- Menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat dan gerakan rakyat di berbagai daerah untuk meneruskan perjuangan; fokus pada cita-cita perjuangan sampai tuntutan-tuntutan kita dilaksanakan oleh Rezim Pemerintahan Prabowo-Gibran.
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id




























