tirto.id - Warga di kawasan Lapau Munggu, Kelurahan Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat, terpaksa bergotong royong memindahkan aliran sungai yang mengancam keselamatan permukiman mereka pascabanjir bandang pada akhir bulan November 2025 lalu.
Hampir sepekan terakhir, puluhan warga RT 02 RW 06 secara swadaya memindahkan dan menumpuk bebatuan sungai, mulai dari ukuran kecil hingga besar.
Bebatuan tersebut disusun di tepi sungai sebagai pembatas sementara menggunakan tangan kosong dan alat seadanya untuk mencegah aliran air menggerus bantaran sungai yang berdekatan dengan rumah warga.

Pantauan di lokasi pada Senin (29/12/2025), kegiatan gotong royong didominasi kaum perempuan, baik dari usia muda hingga lanjut usia. Hanya terlihat beberapa warga laki-laki yang turut serta, lantaran sebagian besar sedang bekerja.
Meski harus mengangkat bebatuan yang cukup berat, semangat kebersamaan tampak jelas dari wajah para warga yang terlibat dalam kegiatan tersebut.
Salah seorang warga, Nurlida (46), mengatakan gotong royong telah dilakukan hampir setiap hari sejak banjir bandang melanda kawasan itu. Aktivitas tersebut biasanya dimulai pada pagi hari hingga menjelang siang.
“Sudah hampir seminggu ini setiap pagi kami bergotong royong memindahkan batu. Biasanya mulai jam tujuh atau jam delapan pagi sampai sekitar jam sepuluh atau sebelas. Mungkin sudah sekitar 300 hingga 500 meter yang sudah kami kerjakan,” ujarnya.

Ia menambahkan, banyaknya warga perempuan yang terlibat lantaran para pria sebagian besar bekerja di luar rumah.
“Kalau hari ini memang banyak ibu-ibu, karena bapak-bapaknya banyak yang pergi bekerja,” katanya.
Sementara itu, Yet (50), koordinator warga terdampak bencana di kawasan Lapau Munggu, menjelaskan bahwa gotong royong dilakukan setelah alat berat yang sebelumnya membantu normalisasi sungai tidak lagi beroperasi.
Menurutnya, alat berat tersebut ditarik setelah terjadi kehilangan aki atau baterai, yang kemudian menyebabkan warga setempat dituding lalai dalam menjaga peralatan tersebut.
“Sebelumnya ada satu alat berat dari pemerintah yang sudah bekerja sekitar satu minggu. Namun suatu hari aki alat itu hilang, dan warga di sini dituduh tidak menjaga alat tersebut, sehingga akhirnya alat berat itu ditarik,” jelasnya.
Ia menyebutkan, penjagaan alat berat sebenarnya dilakukan secara bergiliran oleh warga. Namun saat kejadian, warga yang berjaga tertidur sehingga kehilangan tersebut tidak terpantau. Peristiwa itu diduga terjadi menjelang subuh, sekitar pukul 03.00 hingga 04.00 WIB.
Pasca kejadian tersebut, warga kembali mengajukan permohonan bantuan alat berat kepada pemerintah daerah dan pihak terkait, namun hingga kini belum mendapat respons.
“Kami sudah menyampaikan permintaan kembali agar alat berat diturunkan, bahkan kami juga menyampaikan kesiapan untuk mengganti aki yang hilang. Tapi sampai sekarang belum ada kejelasan,” ungkap Yet.
Kondisi tersebut membuat warga terus diliputi kekhawatiran, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan tersebut.
“Setiap hujan lebat kami selalu was-was. Kalau hujan deras lebih dari satu jam, air sungai biasanya kembali besar dan kami terpaksa mengungsi karena takut banjir bandang terulang,” katanya.
Warga berharap pemerintah segera turun tangan dengan mengirimkan kembali alat berat untuk memperkuat bantaran sungai dan mengurangi risiko bencana susulan.
“Kami sangat berharap ada perhatian dari pemerintah. Banyak rumah warga yang terancam jika banjir kembali terjadi,” tutupnya.
Penulis: Fajar Alfaridho Herman
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id




























