tirto.id - Airbus menarik kembali sekitar 6.000 pesawat jenis A320 untuk pembaruan perangkat lunak pada Jumat (28/11/2025) waktu setempat. Hal ini dilakukan setelah ditemukan bahwa radiasi matahari yang intens dapat mengganggu komputer kendali penerbangan di dalam pesawat.
Dikutip dari BBC, Airbus mengatakan bahwa pihaknya menemukan masalah tersebut setelah penyelidikan terhadap insiden pada Oktober lalu.
Saat itu, sebuah pesawat yang terbang antara AS dan Meksiko tiba-tiba kehilangan ketinggian. Penerbangan JetBlue Airways tersebut melakukan pendaratan darurat di Florida.
Pembaruan perangkat lunak ini disebut membutuhkan waktu beberapa jam. Beberapa pesawat dapat terbang kembali hanya dalam beberapa jam setelah menjalani pembaruan.
Salah satu maskapai, Wizz Air, mengonfirmasi kepada BBC bahwa pihaknya telah menyelesaikan pembaruan tersebut pada semua pesawat A320 yang terdampak dalam semalam dan seluruh penerbangan pada hari Sabtu (29/11/2025) akan beroperasi seperti biasa.
Namun, terdapat 900 pesawat yang merupakan versi lebih lama, membutuhkan waktu pembaruan yang lebih lama. Hal itu terjadi lantaran pesawat versi lama itu memerlukan penggantian fisik komputer di dalam pesawat.
Lama waktu pengerjaannya sangat bergantung pada ketersediaan komputer pengganti. Ratusan pesawat ini dilarang terbang sebelum semua proses penggantian komputer dan pembaruan selesai dilakukan.
Airbus mengatakan pihaknya menyadari bahwa hal ini akan menimbulkan “gangguan operasional bagi penumpang” dan menyampaikan permintaan maaf.
“Airbus menyadari bahwa rekomendasi ini akan menyebabkan gangguan operasional bagi penumpang dan pelanggan,” kata Airbus, dikutip dari Al Jazeera.
Daftar Maskapai Indonesia yang Terdampak Recall Airbus
Menindaklanjuti pengumuman recall Airbus, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Ditjen Hubud Kemenhub) telah berkoordinasi dengan 6 maskapai penerbangan di Indonesia yang mengoperasikan pesawat terbang dengan jenis A320.
Maskapai Indonesia yang menggunakan Airbus A320 yaitu Batik Air, Super Air Jet, Citilink Indonesia, Indonesia Airasia, Pelita Air, dan Transnusa.
Total ada 207 pesawat dan yang beroperasi sebanyak 143 di Indonesia. Sedangkan pesawat yang terdampak dengan recall ini berjumlah 38 pesawat atau sekitar 26 persen dari total pesawat yang beroperasi.
"Kondisi ini diperkirakan akan menyebabkan gangguan penerbangan mengingat banyaknya pesawat A320 yang beroperasi di Indonesia dan juga armada sejenis di seluruh dunia," kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, dikutip dari laman resmi Ditjen Hubud.
Menurut Ditjen Hubud, kebijakan yang dikenal dengan Kelaikudaraan Darurat Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa (EASA) ini berlaku efektif tanggal 29 November 2025 pukul 23.59 UTC atau 30 November 2025 pukul 06.59 WIB.
"Kami mengimbau kepada masyarakat yang telah memiliki tiket penerbangan pada tanggal 30 November sampai dengan 4 Desember 2025, agar segera melakukan konfirmasi jadwal keberangkatan pada masing-masing airline," kata Lukman.
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id

































