Abrasi di Pantura: Berkukuh Diterjang Ombak

Oleh: Storigraf - 25 Januari 2020
Dibaca Normal 2 menit
Potret permukiman pantai utara Jawa menghadapi abrasi dan bencana iklim.
tirto.id - Nyaris setiap pagi air laut bertamu di halaman rumah Leli di Kampung Beting. Leli, 35 tahun, masih berkukuh karena di situlah harta dia satu-satunya dan kehidupan yang dikenalinya.

Terletak di Desa Pantai Bahagia, penduduk di kawasan pesisir utara Muara Gembong, Bekasi, itu telah banyak mengungsi, pindah ke tempat yang lebih aman dan tinggi dari terjangan abrasi. Meninggalkan rumah kosong dan berlumpur. Ombak pasang telah mengisi sekolah hingga tempat ibadah.

Kolaborasi Storigraf dan Tirto
SURAU I Seorang pria berdiri di depan Masjid Al-Fajar, Kampung Beting, Bekasi, 27/11/2019. FOTO/Bismo Agung untuk Storigraf


Wajah pesisir utara Semarang juga tak lagi sama. Abrasi telah menghancurkan sedikitnya 337.968 hektare luasan pesisir di ibu kota Jawa Tengah itu hanya dalam lima tahun, dari 2008 hingga 2013.

Bukan hanya garis pantai yang rusak, potensi banjir rob semakin jamak di sepanjang kawasan tersebut.

Kolaborasi Storigraf dan Tirto
TERPAKSA I Warga bertahan di tengah ancaman abrasi di Muara Gembong, Bekasi. Membangun rumah dengan pondasi lantai lebih tinggi demi mengatasi air pasang. FOTO/Bismo Agung untuk Storigraf


Tahun demi tahun, air semakin mendekati permukiman, bersamaan ikhtiar warga yang memulihkan ekosistem pesisir dengan menanam dan melestarikan pohon-pohon bakau.

Betapapun pohon bakau dan sejenisnya bisa menyelamatkan mereka, sekalipun untuk sementara, tapi hanya segelintir dari mereka yang bermukim di pinggir utara Pantai Jawa yang mau membuang waktu dan tenaga untuk menanam benteng alami penangkal abrasi.

Kolaborasi Storigraf dan Tirto
IRONI I Ibu dan anak berjalan di pinggir Pantai Mangunharjo, Mangkang, Semarang, Jawa Tengah (11/11/2019). Pantai yang dulu ditetapkan salah satu ekowisata kini rusak akibat abrasi. FOTO/Wisnu Agung Prasetyo untuk Storigraf


Bagi para ahli, bagaimanapun, upaya melestarikan hutan mangrove secara swadaya tetap kalah cepat dari laju perusakan lingkungan, yang mengubah ruang hijau menjadi beton-beton pembangunan dan kawasan pertanian dan permukiman.

Kolaborasi Storigraf dan Tirto
ALIH FUNGSI I Kawasan bakau di Desa Bedono, Sayung, Demak, Jawa Tengah (13/11/2019). Sekitar 1970-an, kawasan ini dipenuhi tambak ikan dan udang. Abrasi perlahan mengikisnya. FOTO/Wisnu Agung Prasetyo untuk Storigraf


Mereka menyarankan setidaknya para pemangku kebijakan harus segera membangun tanggul buatan. Bukan hanya untuk memecah ombak, tapi juga demi membantu proses rehabilitasi wilayah yang sudah telanjur rusak.

Kolaborasi Storigraf dan Tirto
HIDUP DI LAUT I Kapal nelayan bersandar di Pantai Kelapa Tuban, Jawa Timur (19/11/2019). Berdasarkan data Survei Sosial dan Ekonomi Nasional (Susenas) BPS 2015, jumlah nelayan paling banyak di Indonesia terdapat di Jawa Timur, sekitar 334.000 orang. FOTO/Wisnu Agung Prasetyo untuk Storigraf


Bencana iklim yang ditandai dengan kenaikan permukaan air laut, plus masifnya pembangunan di sepanjang pesisir, mengakibatkan berlapis-lapis krisis ekonomi dan kemanusiaan serta perubahan politik dalam tiga dekade ke depan.

Kolaborasi Storigraf dan Tirto
REHABILITASI I Pohon-pohon bakau demi menangkal abrasi mulai tumbuh di kawasan pesisir Desa Penunggul, Pasuruan, Jawa Timur (20/11/2019). FOTO/Wisnu Agung Prasetyo untuk Storigraf


______

Liputan ini adalah kolaborasi antara Storigraf dan Tirto.id atas dukungan dan kerja sama dari Internews’ Earth Journalism Network (EJN) dan Resource Watch.

Baca juga artikel terkait ABRASI PANTAI UTARA JAWA atau tulisan menarik lainnya Storigraf
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Storigraf
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight