Mengolah 'Makanan Kambing' dari Hutan Bakau Muara Gembong

Oleh: Alfian Putra Abdi, Storigraf - 21 Januari 2020
Dibaca Normal 2 menit
Warga di pesisir Muara Gembong melestarikan hutan bakau dan mendapatkan keuntungan darinya.
tirto.id - Tujuh perempuan memenuhi dapur rumah di Kampung Beting, menyiapkan aneka penganan “istimewa” untuk dipasarkan. Para perempuan ini adalah anggota dari Kelompok Bahagia Berkarya (Kebaya), yang mengolah hasil hutan bakau menjadi kudapan.

Mereka bekerja di rumah milik Rahmat, yang bersama kakak perempuannya, Albiyah, mengolah produk-produk makanan dari hasil hutan mangrove.

“Tadinya tidak ada nama kelompok. Awal-awal kami cuma menyebutnya olahan bakau. Seiring berjalan, ada masukan kalau setiap produk itu harus punya nama, brand,” ujar Rahmat.

Albiyah mengusulkan nama Kebaya pada 2017 dan seluruh anggota kelompok menyambut baik. Menurut Rahmat, nama itu mudah diingat dan pas.

“Kami, kan, posisinya ada di Desa Pantai Bahagia, bagaimana kalau misalkan ada unsur kata bahagianya juga? Harapannya produk kami familier, seperti nama Kebaya itu sendiri,” jelasnya.

Kami menemui Rahmat dan perempuan-perempuan pekerja itu pada akhir November 2019. Kampung mereka, seluas sekitar 600 hektare, bertumpu pada benteng hutan mangrove demi menghindari ancaman parah abrasi di sepanjang pesisir Pantai Utara Jawa. Kampung ini berada di Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat.

Rahmat mengisahkan kepada kami bahwa ide mengolah makanan dari hasil hutan bakau, yakni buah dari pohon pidada (Sonneratia caseolaris) yang dikenal sebutan apel bakau, mencuat pada 2013.

Warga setempat mengenali buah itu, tetapi biasanya sebagai makanan kambing dan penganan monyet-monyet liar. Mereka semula pesimis atas ide Albiyah dan Rahmat bahwa “makanan kambing” bisa menjadi “makanan manusia.”

Namun, dua bersaudara itu tak surut langkah. Didukung beberapa warga, mereka memulai proses produksi. Memahami pada masa lalu pidada kerap diolah menjadi dodol dan bahan minuman dingin oleh warga Muara Gembong, Rahmat cs mengawalinya dengan dua produk tersebut.

Setahun kemudian, mereka dibantu oleh Save Mugo, lembaga nirlaba pelindungan kawasan hutan mangrove di Muara Gembong, yang menyarankan agar Rahmat dan warga menambah varian produk.

Selain pidada, mereka mulai mengolah daun beluntas (Pluchea indicha) dan api-api (Avicennia), jenis tanaman lain yang jadi bagian dari hutan bakau.

Maka, dari tangan mereka, lewat merek dagang “Mang Oge”, lahirlah kacang dan keripik umpet, dodol, sirup, stik, peyek, dan dendeng daun bakau dalam beragam rasa dan ukuran.

Mereka memasarkannya dengan cara menawarkan langsung kepada tamu yang datang ke Desa Pantai Bahagia atau menitip di toko atau mengikuti pameran. Harganya berkisar Rp15 ribu untuk produk makanan olahan ukuran 150 gram hingga 170 gram; sementara untuk minuman antara Rp25 ribu hingga Rp30 ribu.

“Kami juga punya galeri di Cibitung. Selain itu, ikut pameran. Pernah juga kirim ke Palembang dan Belanda,” kata Rahmat.

Dalam waktu dekat, Kebaya berupaya menghasilkan terobosan produk baru, yakni tepung mangrove, setelah menerima bantuan mesin giling dari mahasiswa-mahasiswa dari salah satu universitas swasta di Bekasi.


Muara Gembong Bekasi
Kaum ibu di Kampung Beting, pesisir Muara Gembong, Bekasi, sedang mengolah bahan baku hutan bakau menjadi produk makanan (27/11/2019. tirto.id/Alfian Putra


Saat ini ada 20 pegawai di Kebaya, mayoritas adalah kaum ibu. Jika tak ada pesanan khusus, dalam satu hari, tim Kebaya mengolah 3 kilogram bahan baku dari hutan mangrove menjadi sekitar 50 buah makanan.

Menurut Wakil Ketua Kebaya, Siti Suabah, perkumpulan terbuka untuk para warga; tidak ada sistem rekrutmen ala korporasi.

“Waktu kerjanya juga tidak tentu. Tergantung pesanan. Kalau lagi banyak sampai begadang-begadang bisa,” ujar Suabah sembari mengupas buah pidada berbentuk hijau bulat.

Jam kerja cukup lentur. Kalau memang tiba-tiba ada urusan rumah tangga, para pegawai bisa izin pulang dulu.

“Sekarang saja ada yang lagi cuti, ada yang baru lahiran, bantu suami nelayan,” ujarnya. “Paling nanti kalau lagi banyak orderan atau harus dikirim besok, alhamdulillah ibu-ibu ini pada ngertiin.”

Soal penghasilan, Suabah berkata cukup buat membantu ekonomi keluarga, minimal Rp200 ribu per bulan.

“Keuntungannya kami bagi-bagi. Kami ambil modal produksinya dulu, baru dibagi rata ke kelompok,” terangnya.

Rahmat mengakui pendapatan dari produk olahan bakau memang belum seberapa. Akan tetapi, pemanfaatan hasil hutan mangrove, selain menggerakkan ekonomi komunitas, juga menjadi bagian dari ikhtiar mereka menjaga kelestarian pesisir pantai utara Jawa. Apalagi, bahaya abrasi semakin parah terus mengintai sepanjang tahun.

“Artinya, kalau misalnya kami menjaga mangrove tapi tidak bisa mengolahnya, percuma, dong. Kami campaign juga untuk menanam mangrove. Tapi kami juga campaign untuk mengolah mangrove. Biar seimbang dan tidak seperti bisnis tambak sebelumnya,” ujar Rahmat.

Baca juga artikel terkait ABRASI PANTAI atau tulisan menarik lainnya Alfian Putra Abdi & Storigraf
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Alfian Putra Abdi & Storigraf
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight