Menuju konten utama

3 Provinsi Terdampak Bencana Sumatra Alami Deflasi

Kelompok komoditas makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang deflasi terbesar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

3 Provinsi Terdampak Bencana Sumatra Alami Deflasi
Petugas Badan Pusat Statistik (BPS) Gayo Lues mendata rumah warga yang terdampak bencana hidrometeorologi di Desa Palok, Blangkejeren, Gayo Lues, Aceh, Kamis (29/1/2026). Pendataan rumah korban terdampak bencana tersebut bertujuan untuk mempercepat proses pemulihan dan memastikan bantuan yang diberikan tepat sasaran serta merencanakan hunian tetap untuk korban terdampak bencana hidrometeorologi akhir November 2025 lalu. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/bar
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono menyebutkan, tiga provinsi di Sumatra yang terdampak bencana banjir hingga tanah longsor mengalami deflasi secara bulanan (month to month/mtm) pada Januari 2026 dibandingkan Desember 2025.

"Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat menglamami deflasi [MTM] setelah sebelumnya di desember 2025 mengalami inflasi yang cukup tinggi," ucapnya saat konferensi pers di kantor BPS, Jakarta Pusat, Senin (2/2/2026).

Ia menjelaskan, Aceh mencatatkan inflasi bulanan sebesar 3,06 persen pada Desember 2025. Namun, pada Januari 2026, provinsi tersebut mengalami deflasi bulanan sebesar 0,15 persen.

Kemudian, Sumatera Utara mengalami inflasi bulanan sebesar 1,66 persen pada Desember 2025. Sementara itu, pada Januari 2026, Sumatera Utara mencatatkan deflasi bulanan sebesar 0,75 persen.

"Di Sumatera Barat, Desember 2025. inflasi 1,48 persen. Sedangkan, di Januari 2026. [Sumatera Barat] mengalami deflasi 1,15 persen," tutur Ateng.

Ia menambahkan, kelompok komoditas makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang deflasi terbesar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

"Seperti di Aceh didorong penurunan telur ayam ras, di Sumatera Utara dan Sumatera Barat didorong oleh penurun posisi cabai merah," sebut Ateng.

Sebagai informasi, perekonomian Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,15 persen secara bulanan pada Januari 2026. Deflasi tersebut terjadi seiring penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 109,92 pada Desember 2025 menjadi 109,75 pada Januari 2026.

Deflasi pada awal tahun ini terutama dipengaruhi oleh melimpahnya pasokan komoditas pangan hortikultura serta penurunan sejumlah harga yang diatur pemerintah.

Kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang deflasi bulanan terbesar. Kelompok ini mencatatkan deflasi sebesar 1,03 persen dan memberikan andil deflasi sebesar 0,30 persen terhadap inflasi Januari.

Sejumlah komoditas pangan tercatat dominan mendorong deflasi, antara lain cabai merah dengan andil deflasi 0,16 persen, cabai rawit 0,08 persen, serta bawang merah sebesar 0,07 persen. Selain itu, daging ayam ras dan telur ayam ras masing-masing menyumbang deflasi sebesar 0,05 persen dan 0,03 persen.

Deflasi juga dipengaruhi oleh penurunan harga bensin serta tarif angkutan udara yang masing-masing memberikan andil deflasi sebesar 0,03 persen. Penurunan harga tersebut sejalan dengan penyesuaian harga BBM nonsubsidi oleh Pertamina pada Januari 2026 serta stabilnya tarif listrik pada periode Januari hingga Maret 2026.

Baca juga artikel terkait BENCANA atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Insider
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana