Menuju konten utama

20 Tahun Reformasi: Yang Terjadi Sepanjang Februari 1998

Memasuki Februari, krisis ekonomi semakin menggila dan dunia politik dipenuhi informasi tentang siapa cawapres yang akan dipilih Soeharto.

20 Tahun Reformasi: Yang Terjadi Sepanjang Februari 1998
TVR Kronik Reformasi Februari. tirto.id/Gery

tirto.id - Memasuki Februari 1998, krisis ekonomi semakin menghebat. Tidak ada tanda-tanda bahwa krisis akan segera berakhir. Penandatanganan Letter of Intent dengan IMF nyaris tak berdampak menenangkan pasar.

Soeharto tampak mulai frustrasi. Dalam Rapim ABRI di Bina Graha, Jakarta, pada 12 Februari 1998, Soeharto bahkan mengatakan krisis ekonomi adalah rekayasa -- pernyataan yang memperlihatkan ia mulai gagap menghadapi keadaan yang begitu dinamis.

Namun Soeharto belum kehilangan kepercayaan diri. Ia masih ingin menjadi presiden dan menyatakan bersedia dicalonkan pada Sidang Umum MPR yang akan berlangsung pada Maret 1998. Perdebatan mulai mengemuka soal siapa wakil presiden yang akan mendampinginya. Nama Harmoko sempat muncul, namun ia mengundurkan diri. Pada Februari ini pula Habibie akhirnya dipilih Soeharto sebagai pendampingnya.

Niat Soeharto maju kembali sebagai presiden di tengah krisis ekonomi ini memicu banyak kritik. Aksi-aksi unjuk rasa menolak Soeharto mulai muncul di bulan Februari ini. Ketidakpercayaan kepada Soeharto sudah tidak mungkin lagi ditutup-tutupi dan sejumlah media massa mulai berani memberitakan hal-hal negatif. Salah satunya: kabar penculikan para aktivis.

Inilah peristiwa-peristiwa penting yang terjadi sepanjang Februari 1998.

3 Februari 1998

Deplu Pulangkan Diplomat

Akibat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang semakin melemah, Departemen Luar Negeri pulangkan 206 diplomat, menghilangkan staf lokal honorer, dan membatasi penggunaan telepon di 111 kantor perwakilan RI di luar negeri.

Rumah Sakit Terancam Kehabisan Obat

Ketua Umum Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) A.W. Boediarso mengatakan soal langkanya persedian obat dan peralatan kesehatan di rumah sakit. Bila nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tetap lemah, dalam waktu dekat rumah sakit bakal kehabisan pasokan obat, reagensia, film rontgen dan CT scan, benang operasi, serta jarum suntik.

(Kompas, 4 Februari 1998)

4 Februari 1998

Bank Dunia Mencairkan $1 Miliar untuk Indonesia

Presiden Soeharto dan Menteri Keuangan Mar'ie Muhammad bertemu Presiden Direktur Bank Dunia James Wolfensohn. Menurut Mari'ie, Bank Dunia akan mencairkan $1 miliar dari janji $4,5 miliar yang disediakan untuk memperbaiki perekonomian Indonesia.

Sebelum bertemu presiden dan menkeu, Wolfensohn mengatakan, Bank Dunia salah memperhitungkan perkembangan ekonomi yang terjadi di Indonesia. Hal itu disampaikannya saat bertemu Emil Salim, Nurcholis Madjid, dan Rizal Ramli. Menurut Emil, tidak ada yang bisa menduga kondisi ekonomi Indonesia akan menjadi seperti sekarang, seraya menafikan kesalahan yang diakui Bank Dunia.

(Kompas, 5 Februari 1998)

5 Februari 1998

Harga Sembako Diserahkan kepada Pasar

Memperindag Tunky Ariwibowo menetapkan harga sembako sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme pasar. Tunky meminta masyarakat tenang, tidak perlu memborong secara berlebihan karena persediaan sembako cukup. Juru Bicara Fraksi Karya Pembangunan (F-KP) Mubha Kahar Muang menilai langkah tersebut positif. Namun, tanpa kesiapan pengaturan dan institusi pelaksana lainnya, kebijakan itu bisa berubah menjadi monopoli swasta.

(Kompas dan Republika, 6 Februari 1998)

6 Februari 1998

Harmoko Layak Jadi Wapres

Ketua DPP Golkar Pinantun Hutasoit mencalonkan Harmoko sebagai wakil presiden periode 1998-2003. Menurutnya, Harmoko pantas disandingkan dengan Soeharto karena dia adalah Ketua Umum Golkar. Sementara itu, Kesatuan Angkatan Muda Sriwijaya mengusulkan nama Try Sutrisno untuk kembali menjadi wapres.

(Republika dan Jakarta Post, 7 Februari 1998)

7 Februari 1998

ABRI Siap Amankan SU MPR

Panglima ABRI Feisal Tanjung mengatakan kepada segenap pasukan pengaman untuk mengambil tindakan keras kepada siapapun yang bermaksud mengganggu Sidang Umum MPR. Polri akan menurunkan 15 ribu personel. Sedangkan gabungan AD, AU, dan AL akan diturunkan sebanyak 10 ribu personel. Pengamanan yang bersandi Pasukan Operasi Mantap Jaya III tersebut dipimpin Panglima Kodam Jaya Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin.

Masyarakat, termasuk warga negara asing, diminta tidak khawatir berada di Jakarta jelang pelaksanaan Sidang Umum MPR 1998. Panglima Kodam Jaya Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin menjamin Pasukan Operasi Mantap Jaya III yang dipimpinnya mampu mengamankan Jakarta. Sedangkan Kapolda Metro Jaya Mayjen Pol Hamami Nata menyerukan kepada kelompok tertentu yang ingin mengganggu SU MPR 1998 untuk mengurungkan niatnya.

(Jakarta Post dan Kompas, 8 Februari 1998)

8 Februari 1998

Demonstrasi & Kerusuhan Meletus di Beberapa Kota

Demonstrasi menentang kenaikan harga barang berlangsung di Ende, Nusa Tenggara Timur. Unjuk rasa yang melibatkan 200 orang ini berakhir ricuh. Sebanyak 16 toko, 2 mobil, dan 2 sepeda motor rusak. Sehari sebelumnya, tiga toko terbakar dan tujuh lainnya rusak saat demonstrasi menentang kenaikan harga barang di Bima, Nusa Tenggara Barat. Kerusuhan serupa juga terjadi di Pasuruan dan Tuban, Jawa Timur; Rembang, Jawa Tengah; Ujungpandang, Sulawasi Selatan dan Donggala, Sulawesi Tengah.

Satgas Negosiator Utang Dibentuk

Tim Penanggulangan Utang Luar Negeri Swasta (PULNS) memasuki tahap awal pelaksanaan kerja. PULNS mencatat total utang nasional sebesar $137,424 miliar. Itu terdiri atas utang sektor publik sejumlah $63,462 miliar dan swasta sebesar $73,962 miliar. PULNS yang dipimpin Radius Prawiro akan membentuk satuan tugas negosiator utang.

(Jakarta Post dan Kompas, 9 Februari 1998)

9 Februari 1998

PDI Jakarta Tak Mau Calonkan Megawati

Dalam sebuah rapat PDI Cabang Jakarta, Wakil Ketua DPP PDI Ismunandar menyerukan untuk tidak menominasikan Megawati sebagai calon presiden. Sekitar 200 pengunjuk rasa padati Jakarta menuntut pemerintah mengembalikan nilai tukar rupiah dan menjamin negara memiliki cukup komoditas pokok. Para demonstran merupakan simpatisan Megawati.

Kerusuhan Mulai Menyasar Warga Tionghoa

Ratusan polisi dibantu tentara masih berjaga di Bima, NTB. Sebanyak 15 orang ditangkap atas kericuhan yang terjadi. Sedangkan laporan terbaru menyebutkan 21 toko, sebagian besar dimiliki warga keturunan Tionghoa, terbakar dan 71 lainnya rusak akibat kerusuhan di Ende, NTT. Lebih dari 100 orang etnis Tionghoa yang menjadi target demonstrasi di Ende diungsikan di kantor polisi dan militer.

(Jakarta Post, 10 Februari 1998)

10 Februari 1998

Panglima ABRI: Ada Penyusup Jelang SU MPR

Panglima ABRI Feisal Tanjung mengatakan ada kelompok tertentu yang menyusup dan memperkeruh situasi jelang Sidang Umum MPR. Usaha itu terlihat dari adanya kerusuhan sosial di beberapa daerah. Tidak hanya ingin mengacaukan SU MPR, kelompok itu juga ingin memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Golkar Belum Resmi Ajukan Wapres

Dalam Rapat Kerja dengan Komisi II DPR, Mensesneg Moerdiono mengatakan bahwa Presiden Soeharto menyerahkan soal calon wakil presiden kepada MPR. Sedangkan Wakil Sekjen DPP Golkar Moestahid Astari menyebutkan Golkar belum membicarakan soal calon wakil presiden, termasuk pencalonan Harmoko. Menurut Moestahid, Harmoko perlu berpikir dua-tiga kali jika ingin menjadi wapres.

(Republika, 11 Februari 1998)

11 Februari 1998

Habibie & Harmoko Kandidat Cawapres Golkar

Rapat pleno DPP Golkar menghasilkan keputusan mencalonkan Habibie dan Harmoko sebagai wakil presiden.

Pemerintah Segera Bentuk BPPN

Dalam sambutannya di Penataran Calon Penatar P-4 Kontekstual Angkatan IV di Jakarta, Gubernur Bank Indonesia Soedrajad Djiwadono mengatakan belum stabilnya sektor perbankan Indonesia, krisis keuangan di Thailand, dan pesatnya permintaan terhadap dolar adalah faktor pemicu gejolak nilai tukar rupiah. Untuk menstabilkan sektor perbankan, pemerintah akan memberikan jaminan penuh kepada deposan dan kreditur dari semua bank umum yang berbadan hukum Indonesia baik yang dimiliki swasta nasional, patungan, atau pemerintah. Pemerintah juga segera membentuk Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

(Media Indonesia dan Pikiran Rakyat, 12 Februari 1998)

12 Februari 1998

Prabowo Jadi Pangkostrad

Feisal Tanjung mengumumkan pergantian pimpinan dalam ABRI. Jenderal TNI Wiranto akan menjadi Panglima ABRI menggantikan Feisal. Sedangkan Letjen TNI Subagyo akan mejabat Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Sementara itu, Prabowo Subianto yang semula menjabat Danjen Kopassus dipromosikan menjadi Pangkostrad.

Soeharto: Gejolak Moneter adalah Rekayasa

Dalam Rapim ABRI di Bina Graha, Jakarta, Presiden Soeharto memerintahkan jajaran ABRI untuk menindak tegas siapapun yang bertindak inkonstitusional yang mengarah kepada disintegrasi nasional. Menurut Soeharto, gejolak moneter dan keuangan adalah bentuk rekayasa kelompok tertentu yang berharap terjadinya krisis kepercayaan terhadap pemerintah.

(Media Indonesia dan Pikiran Rakyat, 13 Februari 2018)

13 Februari 1998

CBS Segera Diterapkan

Presiden Soeharto bertemu ahli Currency Board System (CBS) Steve Hanke di Jalan Cendana. Menurut Henke, CBS bermanfaat menurunkan suku bunga sebab mampu membuat masyarakat mempercayai lagi sistem moneter dan modal luar negeri mulai masuk kembali. CBS juga memaksa langkah transparansi secara total dan mengurangi korupsi. Soeharto menyatakan CBS harus diterapkan di Indonesia kendati ada risikonya.

Sebagian besar toko dan gedung perkantoran di Bandung tutup karena takut bakal terjadi kerusuhan. Dibanding wilayah lain di Bandung, Cicadas terasa mencekam. Sejumlah warga berkerumun di mulut-mulut gang, sementara Polresta Bandung, Polda Jabar, dan satuan kavaleri berjaga.

(Media Indonesia dan Pikiran Rakyat, 14 Februari 2018)

14 Februari 1998

Dua Warga Brebes Ditembak Tentara

Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Mardiyanto menyatakan penembakan terhadap dua warga di Brebes, Tamin bin Darmawi (22) dan Amran (22), sesuai prosedur karena keduanya berusaha mencederai petugas keamanan. Tamin dan Amran meninggal. Sedangkan 6 warga lainnya luka berat.

Habibie Tolak Berkomentar soal Wapres

Habibie enggan menjawab pertanyaan mengenai kesiapannya menjadi wapres. Dia berdalih ingin mensukseskan Sidang Umum MPR lebih dahulu. Menurut Sekteraris Fraksi Karya Pembangunan Andi Mattalata, kesempatan Habibie menjadi wapres sangat besar karena Golkar, PPP, dan PDI menominasikan namanya. Sementara itu, Feisal Tanjung mengatakan Fraksi ABRI sudah punya calon wapres, namun belum mengumumkannya.

(Media Indonesia, 15 Februari 2018)

15 Februari 1998

Mahasiswa Unpad Protes Penangkapan Aktivis

Gerakan Pro-demokrasi Bandung yang dibentuk mahasiswa Universitas Padjajaran (Unpad) melancarkan aksi demonstrasi di lapangan parkir utara Unpad. Mereka memprotes penangkapan tiga aktivis, AZ, JR, dan DB sehari sebelumnya oleh Polres Bandung Tengah. Sementara itu, dua truk berisi puluhan polisi anti huru-hara berjaga di sekitar kampus ITB, Unisba, dan Unpas. Jalan Ganesa yang terletak di depan kampus ITB dijaga ketat petugas sehingga tak satu pun kendaraan bisa lewat.

PPP Resmi Calonkan Habibie

PPP secara resmi mencalonkan Habibie sebagai wakil presiden. Menurut Ketua Umum DPP PPP Ismail Hasan Metareum, Habibie dipilih karena mampu menjalin kesatuan dan persatuan bangsa, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, dan siap menghadapi era globalisasi.

(Pikiran Rakyat dan Media Indonesia, 16 Februari 1998)

16 Februari 1998

Harmoko Mundur dari Pencalonan Wapres

Harmoko mengumumkan mundur dari pencalonan wakil presiden di Kantor Pusat DPP Golkar, Jakarta. DPP Golkar akan menugaskan Fraksi Karya Pembangunan (FKP) untuk mencalonkan Habibie sebagai wakil presiden 1998-2003.

Rizal Ramli: IMF Tidak Etis

Surat IMF kepada Presiden Soeharto mengenai pembatalan paket bantuan senilai $43 miliar apabila Indonesia terapkan CBS bocor. Direktur Econit Rizal Ramli menilai IMF mengambil langkah yang tidak etis. (Media Indonesia)

(Pikiran Rakyat dan Media Indonesia, 17 Februari 2018)

17 Februari 1998

Mahasiswa ITB & Unpad Tuntut Penurunan Harga Sembako

Keluarga Mahasiswa (KM) ITB dan Gerakan Pro Demokrasi Bandung (GPDB) berunjuk rasa menuntut harga sembako diturunkan. KM ITB berusaha keluar kampus sembari membawa spanduk merah bertuliskan "Kembali ke Rakyat". Namun upaya turun ke jalan batal karena dicegah Brimob, Armed, dan Dalmas Polda Jawa Barat yang didukung tiga buah panser. Sedangkan GPDB yang berisi gabungan mahasiswa Universitas Padjajaran (Unpad), pedagang kaki lima, dan buruh dihadang pasukan anti huru-hara untuk keluar kampus Unpad.

(Pikiran Rakyat, 18 Februari 2018)

18 Februari 1998

ABRI Resmi Calonkan Soeharto dan Habibie

Panglima ABRI Feisal Tanjung mengumumkan ABRI mencalonkan Soeharto dan Habibie sebagai presiden dan wakil presiden. Dengan pengumuman ini, maka sudah semua fraksi mencalonkan Soeharto sebagai presiden 1998-2003 dan Habibie sebagai wakilnya.

(Pikiran Rakyat, 19 Februari 2018)

19 Februari 1998

Gus Dur Imbau Warga NU Tidak Destruktif

Ketua PBNU Abdurrahman Wahid alias Gus Dur menuliskan selembar surat yang berisi harapan mengenai Sidang Umum MPR dan wakil presiden, serta imbauan kepada warga NU. Gus Dur berharap Sidang Umum MPR menampung seluruh aspirasi rakyat. Sementara itu, Gus Dur mengharapkan wakil presiden yang dipilih adalah figur yang mendahulukan kepentingan rakyat, mampu mengatasi krisis ekonomi, memiliki program konkret untuk rakyat kecil, dan menjadi teladan disiplin hukum. Kepada warga NU, Gus Dur berpesan agar tidak bertindak destruktif dan ikut dukung-mendukung calon wapres. Saat mengirim pesan, Gus Dur tengah menjalani pengobatan stroke di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Sempati Air Rumahkan 1.400 Karyawan

Maskapai penerbangan Sempati Air bakal merumahkan 1.400 karyawan menyusul krisis ekonomi berkepanjangan. Menurut Manajer Public Relation Sempati Ait Rina Novianti, selama dirumahkan karyawan tetap mendapat tunjangan dan gaji, namun tidak berkerja lagi selama waktu yang tidak ditentukan.

(Media Indonesia, 20 Februari 1998)

20 Februari 1998

Antisipasi Kerusuhan, Pemda Bandung Ubah Jadwal Kerja

Guna mengantisipasi kerusuhan, Pemda Kota Bandung berlakukan tujuh hari kerja bagi karyawannya. Dengan peraturan baru yang diterapkan sejak 13 Februari 1998 tersebut, para karyawan masuk kerja pada Senin-Jumat dari pukul 08.00 hingga 16.00. Menurut Kabag Humas Pemda Kota Bandung Muhammad Ishaq Rauf, aturan ini bertujuan jika terjadi kerusuhan, para pegawai Pemda bisa membantu aparat keamanan, minimal dengan memberi informasi yang tepat mengenai kondisi terkini.

Bom Molotov Ditemukan di Tegal

Aparat keamanan di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah mengamankan lima orang yang kedapatan membawa bom molotov. Kelimanya mengakui bom tersebut akan dipakai untuk meledakkan pabrik tepung tapioka dan sejumlah toko di Tegal.

(Republika, 21 Februari 1998)

21 Februari 1998

Bom Meledak di Semarang

Bom meledak di Semarang, tepatnya di Kampung Batiksari I No. 19 Semarang Timur pada pukul 20.00. Bom yang dikemas dalam kotak paket itu melukai dua orang. Kadispen Polri Brigjen Pol Da'i Bachtiar menyatakan bom yang dikirim lewat paket itu bukan modus baru. Peristiwa yang sama terjadi di Pekalongan beberapa tahun lalu.

AS Siap Bantu Indonesia

Juru Bicara Gedung Putih membeberkan komunikasi antara Presiden Amerika Serikat Bill Clinton dan Presiden Soeharto. Menurutnya, Clinton mengatakan kepada Soeharto mengenai pentingnya menunjukkan komitmen Indonesia dalam reformasi ekonomi. Melalui sambungan telepon, Clinton juga mengatakan AS dan negara lainnya mungkin akan mengurangi masalah kesulitan finansial Indonesia, termasuk tidak tersedianya pembiayaan perdagangan.

(Republika dan Jakarta Post, 22 Februari 1998)

22 Februari 1998

DPR Bantah Akan Bagikan Sembako

Selebaran gelap yang menyatakan DPR akan membagi-bagikan sembako pada Senin (23/2/1998) pukul 10.00 di gedung DPR/MPR dibantah Sekjen MPR/DPR Afif Ma'roef. Menurut Afif, selebaran gelap yang mencantumkan logo DPR itu sengaja disebarluaskan untuk mengacaukan dan menggagalkan Sidang Umum MPR. Selebaran bertanggal 7 Februari 1998 itu telah menyebar hingga tingkat RT/RW di DKI Jakarta.

(Republika, 23 Februari 1998)

23 Februari 1998

Suara Ibu Peduli Protes Kenaikan Harga

Belasan perempuan yang tergabung dalam Suara Ibu Peduli berunjuk rasa di bundaran Hotel Indonesia memprotes melonjaknya harga barang. Tiga orang, termasuk Karlina Leksono, ditangkap polisi karena dianggap menyelenggarakan demonstrasi tanpa izin. Selain itu, demonstrasi juga terjadi di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta dan Yogyakarta. Di TIM, massa yang menamakan diri Solidaritas untuk Amien Rais dan Megawati (Siaga) menuntut pemerintah turunkan harga dan memulai reformasi politik. Sedangkan protes di Yogyakarta dilakukan enam mahasiswa Filsafat UGM dengan cara mogok makan.

Mahasiswa Surabaya Gelar Parade Sembako Murah

Mahasiswa berbagai perguruan tinggi di Surabaya gelar parade pasar murah sembako. Gelaran ini diawali mahasiswa Fakultas Sosial Politik (Fisip) Universitas Airlangga (Unair) pada 23 Februari 1998. Hari berikutnya, mahasiswa Institut Teknologi 10 Nopember (ITS), Universitas Surabaya (Urbaya), dan IKIP Surabaya secara bergantian akan menjual bahan sembako. Rencananya parade ini bakal dilaksanakan selama 10 hari.

(Jakarta Post dan Republika, 24 Februari 1998)

24 Februari 1998

Clinton Kirim Utusan Temui Soeharto

Presiden Amerika Serikat Bill Clinton telah mengutus eks wapres Walter Mondale menemui Presiden Soeharto untuk meyakinkan program reformasi yang disarankan IMF penting dilaksanakan. Mondale akan pergi dari AS menuju Jakarta pada Sabtu (28/2/1998). Sementara itu, Anggota Dewan Pemantapan Ketahanan Ekonomi dan Keuangan (DPKEK) Tanri Abeng menyatakan CBS akan diterapkan dalam lima atau enam bulan mendatang.

Emil Salim Tetap Maju sebagai Cawapres Alternatif

Emil Salim menyatakan tetap mencalonkan diri sebagai wakil presiden pilihan masyarakat di luar partai politik dan Golkar. Dalam sebuah konferensi pers, lembaga Gema Madani yang dibuatnya telah berhasil menerima 6 ribu tanda tangan pendukung Emil.

(Media Indonesia dan Pikiran Rakyat, 25 Februari 1998)

25 Februari 1998

Mahasiswa, Alumni, dan Guru Besar UI Gelar Aksi Keprihatinan

Unjuk keprihatinan terhadap situasi ekonomi dan sosial Indonesia digelar Ikatan Alumni (Iluni) UI di Kampus UI Salemba, Jakarta. Pernyataan keprihatinan dibacakan Ketua Umum Iluni UI Mayjen TNI (Tituler) Hariadi Darmawan. Selain mahasiswa, lima guru besar UI, yakni Mahar Mardjono, Sri Edi Swasono, Selo Soemardjan, Slamet Iman Santoso, dan Juwono Sudarsono, serta Karlina Leksono juga Wahyu Sardono (Dono Warkop) hadir. Acara ini berakhir dengan penutupan papan nama berbunyi "Selamat Datang di Kampus Perjuangan Orde Baru" yang terletak di halaman depan kampus dengan kain kafan putih. Aksi tersebut merupakan kehendak mahasiswa yang semula mengusulkan kepada Hariadi untuk merobohkan papan nama.

(Media Indonesia, 26 Februari 1998)

26 Februari 1998

Ribuan Mahasiswa Unjuk Rasa di Berbagai Kota

Sekitar 5.000 mahasiswa UI menggelar demonstrasi di Kampus UI Depok. Selain mahasiswa, ekonom Faisal Basri dan guru besar Sri Edi Swasono juga turut berorasi. Peserta aksi memasang spanduk bertuliskan Kampus Perjuangan Rakyat pada papan nama di dekat gerbang utama UI. Di tengah aksi tersebut, hasil jajak pendapat dari mahasiswa UI yang tergabung dalam Kelompok Studi Mahasiswa Eka Prastya diedarkan. Jajak pendapat itu menyatakan tidak percaya pada Sidang Umum MPR dan bantuan IMF bisa memperbaiki ekonomi Indonesia, 42,07% mahasiswa UI setuju Habibie jadi wapres, dan menganggap DPR dan MPR tidak mewakili aspirasi rakyat.

Ratusan mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII), Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), dan Universitas Muria Kudus (UMK) juga berunjuk rasa di kota masing-masing. Mereka memprotes kenaikan harga barang.

(Republika dan Pikiran Rakyat, 27 Februari 1998)

27 Februari 1998

Mahasiswa IPB dan ITS Gelar Unjuk Rasa

Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Institut Teknologi 10 Nopember (ITS) menggelar unjuk rasa di kampus masing-masing. Di Kampus IPB Baranangsiang, sekitar 250 mahasiswa menuntut penurunan harga sembako, terwujudnya pemerintah yang bersih, dan penindakan terhadap pembuat kerusuhan. Di Surabaya, 500 mahasiswa ITS yang tergabung dalam Forum Aksi Keprihatinan menggelar aksi mimbar bebas di seputar kampus. Terkait maraknya aksi mahasiswa, Assospol Kassospol ABRI Letjen. TNI Susilo Bambang Yudhoyono mengharapkan semua pihak untuk lebih mengedepankan kewajiban dibanding hak.

Selebaran Gelap Beredar di Brebes dan Tegal

Sejumlah toko buku dan alat tulis di Bumiayu dan beberapa kecamatan lain di Kabupaten Brebes bagian selatan menerima kiriman selebaran gelap berisi ancaman untuk segera menurunkan harga. Di Tegal, muncul selebaran gelap yang ditujukan kepada siswa dengan ajakan untuk berunjuk rasa.

(Republika dan Pikiran Rakyat, 28 Februari 1998)

28 Februari 1998

Keprihatinan di Kampus Unair

Belasan guru besar dan pengajar Universitas Airlangga (Unair Surabaya) bergabung dengan ratusan mahasiswa menyatakan keprihatinan atas makin sulitnya situasi krisis. Para mahasiswa gagal berdemonstrasi di luar kampus karena dihadang aparat keamanan. Beberapa guru besar menyampaikan orasi yang mengecam rendahnya kesadaran para pemimpin negara untuk memahami penderitaan rakyat.

(Kompas, 1 Maret 1998)

Baca juga artikel terkait REFORMASI 1998 atau tulisan lainnya dari Ivan Aulia Ahsan

tirto.id - Politik
Reporter: Husein Abdulsalam & Fadrik Aziz Firdausi
Penulis: Ivan Aulia Ahsan
Editor: Zen RS