Menuju konten utama

1.000 Warga Jalur Gaza Tewas oleh Israel Selama Gencatan Senjata

Gencatan senjata Hamas-Israel tidak menyurutkan langkah negara Zionis untuk terus menyerang. Sebanyak 1.005 warga Jalur Gaza tewas karena operasi militer.

1.000 Warga Jalur Gaza Tewas oleh Israel Selama Gencatan Senjata
Anak-anak muda Palestina melihat kerusakan di Masjid Hajja Hamida setelah dilaporkan dibakar dan dirusak oleh pemukim Israel di desa Palestina Deir Istiya, dekat Salfit, Tepi Barat yang diduduki Israel, pada 13 November 2025. Kekerasan di Tepi Barat telah meningkat sejak perang di Gaza meletus pada Oktober 2023. (Foto oleh Zain JAAFAR/AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Lebih dari 1.000 rakyat Palestina telah tewas terbunuh dalam operasi militer Israel di Jalur Gaza selama gencatan senjata Hamas-Israel pada Oktober 2025 lalu. Kementerian Kesehatan Gaza mengonfirmasi hal tersebut pada Rabu (17/6/2026).

Seturut AP, serangan yang dilakukan Israel pada Rabu telah membuat jumlah korban terbunuh selama masa gencatan senjata menjadi 1.005 orang. Lebih dari seribu nyawa manusia itu sirna dalam serangan Israel yang hampir setiap hari terjadi di Gaza.

Meskipun gencatan senjata telah tercapai pada Oktober lalu, kekerasan dan pembunuhan terus terjadi, terutama di sepanjang garis pembatas yang kini membelah Gaza jadi zona yang dikuasai Israel dan Palestina.

Penembakan, pembakaran hingga serangan udara terus terjadi. Terbaru, serangan drone Israel dilangsungkan di kota-kota dan kamp pengungsi di Gaza bagian tengah dan Kota Gaza.

Serangan pada Rabu juga dilakukan Israel di kawasan Khan Younis di Gaza bagian selatan. Pejabat Rumah Sakit Nasser di sana menyebut serangan itu telah membunuh dua orang Palestina dan melukai enam orang lainnya.

Militer Israel telah mengakui melakukan serangan di Khan Younis. Dalam klaim mereka, serangan itu dilakukan untuk menargetkan “teroris”, namun tak ada detail apa pun yang dirilis selain keterangan itu.

Saksi mata menyebut serangan drone itu telah menarget sekelompok orang di dekat pantai tempat kamp tenda Muwasi yang luas berdiri. Kawasan itu merupakan tempat tinggal bagi ratusan ribu pengungsi Palestina.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza pada Minggu (14/6), jumlah rakyat Palestina yang terbunuh dalam konflik yang meletus sejak 2023 ini telah menyentuh angka 73.000. Namun, jumlah itu tak menyurutkan niat Israel untuk memperluas kekuasaan mereka di Jalur Gaza.

Israel justru menyatakan bahwa mereka akan terus melancarkan operasi militer untuk menargetkan anggota Hamas dan sekutunya di Gaza. Serangan ini mereka lakukan bersamaan dengan upaya untuk memperluas wilayah mereka dan menggencet luas wilayah Gaza yang dikuasai Palestina.

OKI Ingatkan Rencana Pendudukan Israel di Hebron

Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) baru saja memperingatkan bahaya dari rencana pendudukan Israel di Kota Hebron. Dalam keterangannya pada Rabu, rencana itu akan merusak status politik, sejarah, dan hukum di kota bersejarah tersebut.

Seturut kantor berita Palestina, WAFA, Sekretariat Jenderal OKI menyebut bahwa rencana pendudukan yang berbahaya tersebut adalah rencana Menteri Keuangan Israel untuk mencabut Perjanjian Hebron serta wewenang Pemerintah Kota Hebron atas Masjid Ibrahimi, Kota Tua dan daerah sekitarnya.

OKI menyebut bahwa Kota Hebron tidak termasuk wilayah yang diduduki Israel. Negara Zionis itu seharusnya tidak memiliki kekuatan atas wilayah tersebut, termasuk atas situs suci keagamaan, sejarah, dan warisan budaya di dalamnya.

Kendati hal tersebut telah dijelaskan dalam resolusi PBB dan UNESCO, namun OKI menilai bahwa Israel telah berencana untuk melanggar hal tersebut melalui rencana pendudukan mereka di Hebron.

Rencana pendudukan itu juga tak hanya diterapkan di Hebron. Otoritas Israel telah mengeluarkan perintah pada Rabu untuk membongkar dan mengosongkan 17 bangunan pertanian di daratan Kota Taybeh yang dikuasai Palestina.

WAFA melaporkan bahwa Kota Taybeh yang berada di sebelah utara Hebron kini telah dijadikan target lokasi pembangunan “pelabuhan daratan nasional” Israel seluas 2.200 dunam atau 220 hektare.

Pelabuhan itu disebut akan menjadi lokasi fasilitas pengolahan dan penyimpanan limbah konstruksi padat dan akan melayani wilayah tengah Israel dan Tel Aviv. Namun, penduduk Palestina di Taybeh telah memprotes proyek tersebut karena mengancam lahan pertanian mereka.

Baca juga artikel terkait KONFLIK ISRAEL-PALESTINA atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar