Menuju konten utama

Xpander Menyalip Avanza, Mobil "Sejuta Umat" Tetap Avanza

Mitsubishi Xpander sukses mengkudeta “mobil sejuta umat” Toyota. Apa yang salah Toyota?

Xpander Menyalip Avanza, Mobil
Deretan mobil Mitsubishi Xpander menunggu didistribusikan pada konsumen di halaman PT Mitsubishi Motors Krama Yudha di Deltamas, Cikarang, Jawa Barat, Selasa (3/10). tirto.id/Arimacs Wilander

tirto.id - Ferrari merah melaju kencang di jalan bebas hambatan yang sedang tak padat kendaraan. Mobil berlogo “Kuda Jingkrak” jauh menyalip Toyota Avanza yang bersusah payah mencoba mengejar. Sayangnya, di depan Ferrari, ternyata sudah ada lagi Avanza. Si pengemudi Ferrari kemudian menginjak gasnya lebih dalam untuk menyalip Avanza.

Ia lagi-lagi berhasil mendahului Avanza kedua. Namun, lagi-lagi sang pengemudi Ferrari dibuat kaget, penampakan Avanza sudah kembali ada di muka moncong Ferrari. Aksi Ferrari menyalip Avanza ini terus berulang hingga akhirnya yang keluar sebagai pemenang adalah “mobil sejuta umat” Toyota Avanza. Ferrari tak pernah mampu "menyusul" Avanza karena populasi mobil ini ada “di mana-mana”.

Cerita menyerupai kisah Kancil dan Keong ini merupakan anekdot yang muncul ketika Avanza memimpin pasar low MPV di Indonesia. Avanza selalu ada di jalanan. Johnny Darmawan, mantan Presiden Direktur Toyota Astra Motor (TAM) periode 2002-2014 mengenang kembali anekdot tersebut kepada Tirto. Ia ingin menegaskan bahwa Avanza memang masih pantas dinobatkan sebagai “mobil sejuta umat” karena populasinya sangat besar di jalanan Indonesia.

“Pada zaman saya, Avanza sempat terjual 21 ribuan unit per bulan,” kata Johnny.

Johnny Darmawan yang juga Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian Kadin Indonesia, adalah orang yang membidani kelahiran Avanza. Kisah kelahiran Avanza diabadikan dalam buku Kiprah Toyota Melayani Indonesia 2002-2014 (2014:76) suntingan Rizka S. Aji. “Kita mengajukan untuk membuat mobil yang persis seperti Kijang tetapi dengan harga yang terjangkau,” kata Johnny.

Gagasan adanya mobil “Kijang” versi murah sudah mulai ada studinya sejak 1999, sebagai respons krisis yang melanda Indonesia dan pasca-rontoknya gagasan mobnas yang kandas di WTO. Johnny harus “ribut” dengan perwakilan Toyota Motor Corporation (TMC) di Indonesia untuk meloloskan konsep mobil adik Toyota Kijang ini. Ia juga harus terbang ke Jepang, membawa proposal Avanza ke markas besar TMC.

“TMC akhirnya setuju, cuma Toyota bilang, kalau kami yang buat harganya akan mahal. Disepakati untuk kolaborasi dengan Daihatsu, lahirlah duo kembar Avanza-Xenia pada 2004,” kata Johnny.

Semenjak diluncurkan pada ajang Gaikindo Auto Expo Desember 2003, dan dipasarkan Januari 2004 dibanderol Rp89,5-99,5 juta, Avanza langsung menggoyang pasar dan sukses terjual 43 ribu unit. “Momentumnya memang tepat. Saat itu perekonomian mulai pulih. Saking tingginya permintaan beberapa konsumen berani membayar lebih mahal untuk mendapatkan dengan segera. Selisihnya bisa mencapai Rp5 juta.”

Dalam tempo 10 tahun, penjualan Avanza mencapai 1 juta unit lebih (per Oktober 2013). Ini membuat Avanza panen rekor MURI, sebab Kijang perlu 25 tahun untuk bisa menembus penjualan sebesar itu. Populasi Avanza di jalan-jalan Indonesia ditaksir mencapai 1,6 juta unit hingga Juli tahun lalu. Bila rata-rata Avanza terjual 9.000 unit per bulan di 2017, maka saat ini populasi Avaza memang belum sampai menembus 1,7 juta unit. Namun, ini sudah cukup menegaskan menyebut Avanza sebagai “mobil sejuta umat”.

Kesuksesan Avanza di pasar low MPV dan puncaknya saat mampu membukukan penjualan 213.458 unit di 2013 membuat pemain lain seperti General Motors (GM) ikut nimbrung di segmen low MPV. GM meluncurkan Chevrolet Spin dirilis 2013, setelah sebelumnya muncul Suzuki Ertiga pada 2012.

Pada 2014, Honda tak mau ketinggalan dengan meluncurkan Honda Mobilio. Semakin padatnya persaingan di segmen low MPV, membuat dominasi Avanza pelan-pelan pudar. Mulai 2014, penjualan Avanza terus tergerus menjadi hanya terjual 162.070 unit, lalu kembali turun pada 2015 hanya terjual 129.205 unit. Pada 2016 hanya 122.654 unit terjual, dan 2017 hanya 109.529 unit. Tahun lalu Avanza hampir turun di bawah “angka keramat” di kisaran 100 ribu unit, atau kembali ke angka penjualan 2009 yang menorehkan 100.065 unit.

Meski dalam tren penjualan menurun, belum ada yang menyaingi penjualan Avanza di segmen low MPV. Penelusuran Tirto dari berbagai penantang Avanza di luar grup merek Toyota, belum ada yang berhasil melewati penjualan bulanan Avanza. Hanya pada Agustus-September 2016, Avanza sempat tersalip oleh sang adik, Toyota Calya.

Namun, tak sampai dua tahun, rekor dominasi penjualan Avanza mulai tercoreng, kali ini bukan oleh saudara mudanya Toyota Calya. Mitsubishi Xpander mampu membalikkan kutukan lawan-lawan Avanza.

Berdasarkan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) penjualan wholesales—dari pabrik ke dealer—Xpander mampu membuat Avanza bertekuk lutut. Wholesales Februari Avanza hanya terjual 6.773 unittermasuk Toyota Transmover untuk taksi— sementara Xpander terjual 7.400 unit atau masing-masing 28 persen dan 31 persen pangsa pasar low MPV.

infografik xpander menyalip avanza

Mitsubishi yang Sumringah dan Kelalaian Toyota

Gelagat Avanza bakal tersalip oleh Xpander sudah tercium sejak Januari 2018. Pada bulan itu ada 7.081 unit Xpander terkirim ke dealer, mengekor di posisi kedua setelah Toyota Avanza yang mencatatkan pengiriman 7.543 unit, termasuk 852 unit Toyota Transmover. Namun, bila Toyota konsisten memisahkan segmen Avanza dan Transmover, maka Xpander sudah jadi penguasa low MPV sejak Januari 2018.

Apa respons Mitsubishi?

Mitsubishi tentu senang bukan kepalang, Head of PR & CSR PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) Intan Vidiasari bersyukur terhadap torehan ini. “Penerimaan masyarakat yang sangat baik kepada Xpander, membuktikan bahwa model ini dapat memenuhi ekspektasi dan kebutuhan konsumen small MPV dan mobil keluarga di Indonesia,” kata Intan kepada Tirto.

Xpander yang mampu menyalip Avanza di awal 2018 pastinya membuat Toyota terpukul. Namun, Toyota punya alibi. Saat Xpander agresif mengekor Avanza, Toyota sedang punya “mainan baru” melalui Toyota All New Rush yang juga sedang naik daun. Catatan Toyota, sudah ada 19 ribu unit Surat Pemesanan Kendaraan (SPK) semenjak mobil ini diluncurkan dua bulan lalu. Artinya dengan target produksi 3.000 unit Rush, maka bakal terjadi inden.

Public Relation Manager PT Toyota Astra Motor (TAM) Rouli Sijabat mengatakan pasokan Rush harus ditambah agar tak terjadi inden panjang. Di sisi lain, ada pengurangan pasokan ke dealer untuk Avanza, karena dianggap rasio stok Avanza ke dealer masih aman untuk memenuhi permintaan konsumen.

“Kalau rasio stoknya bagus, pasokannya kita kurangi dari pabrik, Avanza satu pabrik degan Rush, Terios. Saat akan menaikkan Rush, sehingga berimbas ke yang lain,” kata Rouli.

Namun, apapun alasannya, Toyota sudah lengah untuk urusan pengiriman unit dan stok mereka ke dealer. Pengiriman unit dan penjualan ke retail memang berbeda, tapi bagaimana pun itu masih saling terkait. Di sisi lain, kompetitor seperti Mitsubishi tentu punya strategi dan kepentingan untuk membanjiri dealer dengan Xpander karena pemesanan Xpander per Januari sudah mencapai 55 ribu unit.

Target Mitsubishi untuk memproduksi Xpander tahun ini memang 70 ribu unit atau tak sampai 6 ribu unit per bulan. Namun, kenyataannya dalam dua bulan terakhir wholesales Xpander selalu di atas 7 ribu unit. Fakta ini luput dari pantauan Toyota.

Johnny Darmawan ikut angkat suara ihwal capaian Avanza yang makin melempem semenjak ia pensiun dari TAM pada 2014 lalu, termasuk saat Xpander sudah mengangkangi Avanza di Februari 2018. Namun, Johnny optimistis posisi Avanza sebagai mobil "sejuta umat" sulit mendapat tandingan dari para kompetitor.

"Harusnya enggak bakal kalah, sparepart-nya Avanza ada di mana-mana. Jangan lihat sebulan, akan terlihat dominan itu baru setahun dua tahun,” kata Johnny.

Persaingan di pasar low MPV di Indonesia semakin keras dan tak ada yang bisa menjamin siapa penguasa pasar berikutnya. Toyota sudah membuktikan sendiri saat melahirkan Kijang sebagai mobil berharga terjangkau di era 1970-an, hingga kelahiran Avanza yang tak pernah diduga. Avanza sebagai mobil dengan populasi "sejuta umat" memang tak terbantahkan.

Apakah akan tetap abadi?

Baca juga artikel terkait TOYOTA atau tulisan lainnya dari Suhendra

tirto.id - Otomotif
Reporter: Suhendra
Penulis: Suhendra
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti