Menuju konten utama

Warga Ungkap Rutinitas Diplomat Kemlu yang Tewas di Indekos

Menurut warga, Arya adalah sosok pendiam yang irit bicara serta kerap mengelap mobil di halaman indekos.

Warga Ungkap Rutinitas Diplomat Kemlu yang Tewas di Indekos
Suasana di depan rumah indekos Gondia International Guesthouse. tirto.id/ Naufal Majid

tirto.id - Suasana di depan rumah indekos Gondia International Guesthouse yang menjadi tempat kejadian perkara (TKP) tewasnya diplomat Kementerian Luar Negeri, Arya Daru Pangayunan (39), kini tampak sepi.

Berdasarkan pantauan Tirto di lokasi pada Rabu (9/7/2025) pagi, rumah indekos itu kini sudah terkunci rapat. Tepat di depan kamar 105 yang dihuni oleh Arya, tampak telah terbentang garis polisi.

Sejak Rabu pagi, tampak tak ada aktivitas dari para penghuni indekos. Area makan yang berada di sisi kanan rumah juga tampak kosong dan gelap.

Sementara itu, toko rokok elektrik yang terletak di beranda rumah masih beroperasi pada pagi ini. Tirto pun berbincang dengan Rifqi, seorang penjaga toko yang biasa mulai bekerja di toko itu sejak pukul 9 pagi hingga 10 malam.

Rifqi mengatakan, ia biasa bertemu dengan Arya selepas pulang kerja sekitar pukul tiga sampai empat sore. Menurut Rifqi, Arya memang selalu pulang ke rumah indekosnya pada waktu-waktu tersebut.

“Sejauh ini saya lihat dia [Arya] cuma sore sih. Mungkin jam 3 atau jam 4 ya. Semenjak saya jaga di sini ya, dia rutin dia [pulangnya]. Saya jaga di sini dari Januari,” tutur Rifqi kepada para wartawan, Rabu.

Rifqi menuturkan, Arya kerap mengelap mobilnya yang terparkir di halaman depan saat berada di indekos. Mobil itu selalu dipakai Arya berkendara saat berangkat maupun pulang kerja.

“Dia cuma mengelap mobil setiap harinya, setiap saya ketemu dia, datang [ke rumah kos], parkir mobil, terus langsung masuk aja,” ucap Rifqi.

Menurut Rifqi, Arya adalah sosok pendiam yang irit bicara. Ia dan Arya hanya sesekali bertukar sapa dan jarang untuk berbincang panjang.

“Mungkin saya cuma tegur sapa untuk di depannya ya, karena kan saya masih sering duduk di depan. Tapi kalau untuk dia ngobrol tuh udah jarang banget,” sebutnya.

Rifqi mendeskripsikan sosok Arya sebagai laki-laki yang berpostur pendek, namun memiliki tubuh yang tegap dan berotot layaknya binaragawan.

“Dia orangnya tuh pendek, tapi badannya gede. Pokoknya kecil lah, kecil tapi dia gede. Kayak binaragawan badannya,” urainya.

Rifqi menjelaskan, pada malam sebelum jasad Arya ditemukan tewas di kamar indekosnya, ia tak merasakan ada hal-hal janggal yang terjadi.

Saat hendak menutup tokonya sekira pukul 22.30 WIB, Rifqi berkata saat itu cuaca sedang hujan. Ia pun tak mendengar ada suara apa pun dari arah kamar Arya.

“Terus kalau untuk terakhir malam itu, beneran gak ada apa-apa sama sekali, terakhir saya closing. Pokoknya saya pulang, kan rintik-rintik hujan. Suara gak ada,” ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, Arya Daru Pangayunan (39) ditemukan meninggal dunia di kamar indekosnya dalam kondisi kepala ditutupi lakban.

Kapolsek Menteng, Kompol Rezha Rahandhi, mengungkapkan penemuan jenazah tersebut diketahui setelah istri korban sejak Selasa (8/7/2025) subuh menghubungi dan tidak ada jawaban.

Istri korban kemudian menghubungi penjaga indekos dan mengetuk kamar korban yang terkunci, namun tak ada respons.

"Jadi, istrinya menghubungi si penjaga indekos, menanyakan keberadaannya dicek diketuk-ketuk. Nah mungkin dari olah TKP, memang ada dibuka paksa untuk mengetahui korban di dalam bagaimana," ucap Rezha saat dihubungi, Selasa.

Dia mengonfirmasi kondisi korban dalam keadaan kepala dilakban. Jenazah korban kemudian dibawa ke RSCM untuk proses autopsi. Dari hasil pemeriksaan luar, tidak ditemukan adanya tanda kekerasan.

"Nih belum dipastikan, saya juga bisa enggak bisa bilang, bukan ya karena tidak ada tanda-tanda kekerasan. Tidak ada barang yang hilang. Kami masih selidiki, kami juga sudah kirim jasad korban itu ke RSCM," ungkap dia.

Baca juga artikel terkait DIPLOMAT KEMLU atau tulisan lainnya dari Naufal Majid

tirto.id - Flash News
Reporter: Naufal Majid
Penulis: Naufal Majid
Editor: Andrian Pratama Taher