tirto.id - Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menyinggung eksploitasi dan eksplorasi Sumber Daya Alam (SDA) di era pemerintah kolonial saat membuka Pre event Specialty Indonesia 2025, di Jakarta, Kamis (3/6/2205).
Faisol mengatakan, Indonesia memiliki bahan baku berlimpah dan dapat dimanfaatkan untuk mendorong industri makanan dan minuman berbasis ekspor. Keberlimpahan bahan baku itu pula yang mendorong kolonialis seperti Belanda dan Portugis datang ke Indonesia.
"Sebenarnya ekspor-impor yang paling mudah adalah makanan dan minuman. Yang lain kan memiliki berbagai macam persyaratan yang kita harus miliki. Dan makanan dan minuman kan yang paling melimpah, bahan bakunya di negara kita. Kalau tidak melimpah, tidak mungkin Belanda dan Portugis menjadikan Indonesia sebagai tujuan untuk kolonialisasi,” katanya.
Untuk itu, menurutnya, sebagai penduduk asli Indonesia, para pelaku usaha harus memiliki cara pandang yang sama dalam memanfaatkan kekayaan alam negeri ini.
“Cara berpikir mereka saja, cara berpikir para kolonial itu, bagaimana mengeksploitasi dan mengeksplorasi potensi alam yang ada di Indonesia. Masa kita yang asli Indonesia tidak bisa memanfaatkan? Ini kalau kata Rhoma Irama, terlalu," ujarnya.
Dia menjelaskan, industri mamin berkontribusi 41,14 persen terhadap PDB industri nonmigas dan 7,3 persen terhadap PDB nasional di kuartal I-2025. Sektor ini juga mencatat surplus neraca dagang sebesar 8,67 miliar dolar AS pada Januari Februari 2025, dengan nilai ekspor 11,78 miliar dolar AS dan impor 3,11 miliar dolar AS.
Namun, di balik angka positif tersebut, ketergantungan pada impor bahan baku masih tinggi. Faisol menyampaikan bahwa Indonesia gagal mengolah SDA sendiri. Untuk produk susu, 80 persen masih dipenuhi oleh impor. Sedangkan, kakao meskipun sebagian besar komoditas ini diekspor, namun pasokan bahan baku dari petani menurun. Begitu pula dengan kopi dan teh.
“Industri kopi kelihatannya belum dikenal di kalangan para industri kopi olahan di dunia walaupun kita berkali-kali menyelenggarakan (pameran),” ucapnya.
Ia juga menegaskan pentingnya riset dan kolaborasi untuk meningkatkan daya saing produk agro Indonesia. Melalui sinergi antar pemangku kepentingan, diharapkan lahir produk specialty bernilai tambah yang mampu menembus pasar global.
=====
Adendum
Redaksi tirto.id mengubah judul artikel ini dan memberi konteks lebih lengkap atas pidato Wamenperin Faisol Riza saat membuka Pre event Specialty Indonesia 2025.
Pada versi sebelumnya, artikel berjudul: "Wamenperin Dorong Pebisnis Tiru Kolonial Belanda Eskploitasi SDA". Terima kasih atas perhatian dan koreksi dari pembaca.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id







































