Menuju konten utama

Ulil Bantah Kunjungan PBNU ke 3 Kedubes atas Arahan Asing

Langkah tersebut penting agar PBNU tak hanya bergantung pada informasi media, tapi juga memperoleh perspektif resmi.

Ulil Bantah Kunjungan PBNU ke 3 Kedubes atas Arahan Asing
Ulil Abshar Abdalla. insatrgam/Ulil Abshar Abdalla

tirto.id - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menegaskan bahwa langkah diplomasi yang dilakukan dengan mengunjungi kedutaan besar bukanlah bentuk intervensi atau arahan dari pihak asing, melainkan bagian dari upaya mendorong perdamaian di tengah konflik global.

Ketua PBNU, Ulil Abshar Abdalla, menyampaikan bahwa kunjungan ke kedutaan besar Iran, Arab Saudi, dan Amerika Serikat dilakukan dalam kerangka diplomasi lunak (soft diplomacy) yang bertujuan menyerap informasi sekaligus menyampaikan sikap organisasi.

“Kunjungan ke tiga kedutaan besar negara-negara yang terlibat konflik itu pertama untuk menyampaikan aspirasi PBNU sebagai lembaga, dan kedua untuk mendapatkan informasi langsung dari masing-masing negara terkait situasi yang terjadi,” ujar Ulil dalam Diskusi Pojok Kramat Spesial Hari Lahir (Harlah) ke-41 LAKPESDAM PBNU bertema “Peran NU dalam Perdamaian Dunia” yang digelar di Lobby Plaza PBNU, Senen, Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026).

Ulil menegaskan bahwa langkah tersebut penting agar PBNU tidak hanya bergantung pada informasi media, tetapi juga memperoleh perspektif resmi dari pihak-pihak yang terlibat langsung dalam konflik.

Oleh karena itu, Ulil menyayangkan munculnya narasi negatif di media sosial yang memelintir kunjungan tersebut. Dia menyebut adanya framing jahat yang menuduh PBNU menerima mandat dari pihak tertentu, khususnya dari Amerika Serikat.

“Beredar tuduhan bahwa PBNU diperintahkan oleh kedutaan Amerika untuk menyampaikan sikap tertentu. Itu tidak benar. Itu bagian dari black campaign yang terus berkembang,” tegasnya.

Ulil juga menanggapi kritik personal yang muncul, termasuk soal ekspresi dirinya saat bertemu diplomat asing. Ia menilai hal tersebut tidak relevan dan hanya dijadikan bahan untuk membangun opini negatif.

Lebih lanjut, PBNU menegaskan bahwa posisi organisasi tetap konsisten, yakni mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi dan perdamaian. Menurut Ulil, perang hanya akan membawa dampak luas, tidak hanya bagi kawasan Timur Tengah tetapi juga bagi masyarakat global, termasuk Indonesia.

“Posisi kami jelas, kita menghendaki perang ini segera selesai dan jalur diplomasi harus didahulukan. Dampak perang ini menyengsarakan masyarakat dunia,” katanya.

Dia juga menyoroti potensi dampak ekonomi dari konflik, seperti kenaikan harga minyak yang dapat membebani negara dan masyarakat. Karena itu, upaya meredakan konflik menjadi kepentingan bersama.

PBNU memilih untuk tetap aktif berperan dalam diplomasi global sebagai bagian dari tanggung jawab moral dalam menciptakan perdamaian dunia, sekaligus memberikan narasi penyeimbang di tengah maraknya disinformasi.

“Kami tidak bisa menghentikan penyebaran informasi yang keliru, tapi kita bisa memberikan informasi yang benar sebagai pembanding,” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait PBNU atau tulisan lainnya dari Intern tirto

tirto.id - Flash News
Reporter: Intern tirto
Penulis: Intern tirto
Editor: Fadrik Aziz Firdausi