tirto.id - Setelah meniti karier selama 10 tahun, pada tahun ini, Mora akhirnya memutuskan untuk berhenti (resign) dari pekerjaannya. Ini memang bukan pertama kali perempuan berusia 30 tahun itu memutuskan untuk resign.
Sepanjang perjalanan kariernya, Mora memang kerap mengajukan resign, berganti jenis pekerjaan, sampai sekadar istirahat dari hiruk pikuk rutinitas sehari-hari. Namun kali ini berbeda. Ia resign tanpa punya rencana karir ke depan.
Perempuan asal Bekasi, Jawa Barat, itu sebelumnya bekerja sebagai perekrut di divisi Human Resources (HR) pada sebuah perusahaan marketing agency.
Selama 10 tahun, ia telah mencicipi berbagai pengalaman bekerja sebagai HR di sejumlah perusahaan agency. Meskipun terbilang sudah cukup berpengalaman, dalam beberapa bulan terakhir, Mora tetap menghadapi tantangan yang membuatnya menjadi jenuh.
Tantangan HR Menghadapi Karakter Pekerja Zaman Sekarang
Sebagai perekrut, setiap harinya Mora harus menghadapi kandidat-kandidat pekerja dengan karakter yang jauh berbeda dari saat pertama kali ia berkarir dulu.
Ia menyadari sebuah fenomena di mana para kandidat pekerja saat ini cenderung lebih kritis sebelum memutuskan untuk bergabung ke dalam perusahaan, sedangkan pihak perusahaan justru tidak bisa memberikan kompensasi yang lebih kepada mereka.
“Jadi itu juga nih yang membuat aku kayaknya udah nggak apa ya, boleh dibilang udah nggak match nih dengan fenomena [di industri kerja] saat ini gitu kan,” kata Mora saat dihubungi Tirto, Jumat (21/8/2026).
Akibatnya, Mora mengalami kejenuhan untuk bekerja sebagai HR. Belum lagi ia harus menghadapi atasan yang banyak menuntut, rekan kerja yang toksik, sampai beban pekerjaan yang semakin tidak realistis.
Sehingga, saat ini ia memilih untuk keluar terlebih dahulu dari pekerjaan, baru memikirkan rencana apa yang ke depannya akan ia jalani.
Pentingnya Dana Darurat Sebelum Memutuskan Mundur

Namun, sebelum memutuskan untuk resign, Mora sudah mengumpulkan tabungan yang dia nilai cukup untuk bertahan hidup dan menopang pengeluaran selama menunggu pekerjaan berikutnya.
Baginya, keputusan untuk resign tanpa memiliki tabungan in this economy juga tidaklah bijak. Ia juga memilih untuk menahan pengeluaran yang ditujukan hanya untuk bersenang-senang semata.
“Aku tuh selalu mengutamakan enggak having fun dulu, dalam arti aku saving money dulu,” sebutnya.
Keputusan untuk resign dari pekerjaan tanpa mengantongi rencana cadangan seperti yang dilakukan oleh Mora memang kerap terjadi akhir-akhir ini.
Sebanyak 8 persen menginginkan untuk resign setelah mendapatkan Tunjangan Hari Raya (THR), 10 persen ingin resign dalam waktu enam bulan ke depan, 8 persen ingin resign dalam waktu satu tahun ke depan, dan 34 persen ingin resign tetapi tidak memiliki waktu yang pasti. Sedangkan yang tidak memiliki rencana untuk resign hanya 41 persen responden.
Dalam survei lain yang dilakukan oleh Tirto bersama Jakpat pada September 2022 terhadap 1.500 responden, alasan terbesar mengapa Gen Z ingin untuk pindah tempat kerja adalah karena gaji kurang memadai (23,89%).
Selain itu, 21,67 persen responden juga ingin untuk resign karena mengalami ketidakcocokan dengan lingkungan kerja, memiliki beban kerja yang terlalu berat (11,67%), sampai tidak punya waktu luang untuk keluarga atau kepentingan pribadi lainnya (10,56%).
Sementara itu, berdasarkan laporan Mobilitas Tenaga Kerja Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2024 lalu, perpindahan pekerjaan paling banyak terjadi pada kelompok usia pekerja yang lebih muda.
Sekitar 5,8 persen pekerja berusia 25-34 tahun dan 5,4 persen pekerja berusia 15-24 tahun berganti pekerjaan dalam waktu satu tahun. Sedangkan untuk kelompok usia 35 tahun ke atas, perpindahan pekerjaan hanya kurang dari 5,0 persen.
Hasil Sakernas 2024 juga menunjukkan bahwa tenaga kerja muda lebih sering berpindah pekerjaan karena alasan internal. Adapun alasan internal yang dimaksud meliputi ketidaksesuaian dengan lingkungan kerja sebelumnya, seperti masalah lokasi, relasi dengan rekan kerja, sampai ketersediaan fasilitas.
Ironi Perusahaan: Tenaga Kerja Sedikit, Tapi Banyak Menekan

Pengamat Ketenagakerjaan Universitas Gadjah Mada (UGM), Tadjudin Nur Effendi, memandang fenomena resign dari pekerjaan tanpa adanya rencana cadangan bisa terjadi karena pihak pemberi kerja atau perusahaan belum mampu memberikan upah yang layak kepada para pekerjanya.
Ia juga menyoroti banyaknya perusahaan yang memberikan beban kerja berlebih kepada para pekerjanya. Sehingga, satu orang bisa melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh dua atau lebih orang.
Namun, Tadjudin tidak sepenuhnya menyalahkan perusahaan. Sebab menurutnya, saat ini perusahaan juga mengalami tantangan besar akibat situasi ekonomi di Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja.
Mulai dari biaya impor yang meningkat akibat melemahnya nilai tukar rupiah, sampai dengan iklim investasi dan industri yang penuh dengan ketidakpastian, dinilai menjadi akar mengapa perusahaan tidak mampu membayar lebih para pekerjanya.
“Mereka [perusahaan] akan mengurangi produksi, efisiensi. Efisiensi yang paling gampang ya PHK atau orang disuruh kerja lebih, itu yang memungkinkan ya,” kata Tadjudin kepada Tirto, Jumat.
Di tengah tekanan ekonomi tersebut, perusahaan harus terus menggenjot produksi untuk memperoleh lonjakan keuntungan. Akibatnya, para pekerja yang menjadi korban dengan bekerja lebih lama dan di luar tugasnya.
Situasi yang tidak ideal itu kemudian membuat pekerja cepat jenuh dan stres, sehingga memilih untuk resign dari pekerjaan, bahkan saat mereka belum terpikir rencana apa yang akan dilakukan ke depan.
Menurut Tadjudin, tidak banyak yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengatasi situasi ini, selain memperbaiki situasi ekonomi dan meningkatkan kepercayaan para pelaku industri.
Terlebih, sampai saat ini saja pemerintah disebutnya belum mampu menyelesaikan permasalahan terkait jutaan lulusan sarjana yang belum mendapatkan pekerjaan.
“Bayangkan aja, satu juta lebih sarjana yang menganggur, itu kan juga enggak diapa-apain oleh negara kan. Buat program Magang [Nasional] juga enggak gampang. Peserta Magang selama satu tahun cuma [ribuan orang] ya, sedangkan penganggurannya lebih dari satu juta,” sebutnya.
Untuk menanyakan terkait fenomena para pekerja resign tanpa rencana cadangan ini, Tirto berupaya mewawancarai Menteri Ketenegakerjaan (Menaker), Yassierli.
Kami bertanya, apakah pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan sudah mengamati fenomena banyaknya pekerja yang resign karena mengalami burnout, menghadapi lingkungan toksik, sampai pertimbangan gaji.
Namun, sampai dengan Jumat sore, Yassierli belum membalas pertanyaan yang disampaikan Tirto melalui pesan singkat tersebut.
Resign Tanpa Backup Plan Berisiko, Apa yang Perlu Disiapkan?
Perencana keuangan sekaligus Founder Mitra Rencana Edukasi (MRE), Mike Rini, mengatakan bahwa keputusan para pekerja untuk resign tanpa menyiapkan rencana cadangan sejatinya sangat berisiko.
Risiko terbesar yang akan dihadapi tentu saja berkaitan dengan arus kas (cashflow). Ia mencontohkan, saat seorang pekerja memilih untuk resign, mereka tetap harus membayar sewa rumah, kendaraan, atau sekadar keperluan untuk makan dan minum.
Alhasil, beberapa pekerja harus merogoh tabungan mereka. Jika tabungan sudah mulai habis, maka ujungnya mereka akan mulai berutang atau mengajukan pinjaman.
“Semakin banyak [tabungan yang] terpakai ya semakin menipis juga cadangan emergency fund-nya, semakin tinggi juga risiko untuk mulai terpaksa mengambil utang gitu ya, bisa mengarah ke debt snowballing,” tutur Mike kepada Tirto, Jumat.
Apabila semakin lama menganggur, Mike juga khawatir para pekerja yang resign tanpa rencana cadangan akan mudah stres dan frustasi.
Hal itu dapat membuat mereka memilih pekerjaan tidak dengan pikiran yang matang, dan mulai meragukan rencana kehidupan yang sudah mereka susun sebelumnya.
Dari segi finansial, kondisi itu disebutnya berpotensi mengganggu pertumbuhan aset serta investasi yang sebelumnya telah dimiliki oleh pekerja.
Oleh karenanya, ia menekankan pentingnya persiapan finansial secara matang sebelum memutuskan resign dari pekerjaan. Salah satu hal paling krusial yang perlu disiapkan adalah dana darurat atau emergency fund.
Mike menyebut, sebelum memilih untuk resign, seorang pekerja juga seharusnya menghitung rasio utang terhadap pendapatan mereka. Misalnya, pekerja harus membatasi utang atau cicilan maksimal 30 persen dari gaji bulanan mereka.
Selain itu, pekerja juga seharusnya mulai memikirkan untuk membangun passive income atau sumber pendapatan lain sebelum memilih resign. Bisa dengan menjalani pekerjaan freelance, atau menyewakan aset properti maupun kendaraan.
“Atau punya aset saham ya yang memberikan dividen, atau punya obligasi yang memberikan kupon bunga ya. Itu adalah passive income yang bisa mendukung masa-masa di mana ketika Anda resign tidak punya penghasilan,” terang Mike.
Tujuan Resign Harus Jelas, Tak Boleh Impulsif
Menurut Mike, alasan seorang pekerja untuk memutuskan resign harus jelas dan sebaiknya tidak didasari oleh alasan-alasan impulsif seperti kesal dengan atasan atau bertentangan dengan rekan kerja semata.
Kalaupun seorang pekerja sudah tidak tahan dengan kondisi di kantor, mereka tetap harus mempersiapkan berbagai macam hal sebelum akhirnya mengajukan surat pengunduran diri.
“[Siapkan waktu] dua atau tiga bulan persiapan itu untuk misalnya keluar dari lingkungan kantor yang toksik, misalnya gitu ya. Menurut saya, itu lebih disarankan gitu dibandingkan kalau Anda sekonyong-konyong gitu tiba-tiba [resign] tanpa persiapan,” katanya.
Selain itu, pekerja juga harus menarget durasi jeda dari pekerjaan yang realistis bagi mereka. Misalnya, dalam waktu enam bulan, mereka sudah harus kembali mendapatkan pekerjaan pengganti.
Mike juga menyarankan para pekerja untuk lebih dulu melempar lamaran ke berbagai perusahaan pada masa-masa persiapan menuju resign.
Dengan begitu, risiko finansial serta perkembangan karir yang kemungkinan terjadi akan lebih mudah diredam, karena pekerja sudah menyiapkan berbagai hal sebelum memutuskan mengundurkan diri.
“Resign tanpa backup plan bukan soal berani atau enggak berani, tapi soal persiapan finansial yang matang sih. Pekerja muda yang ingin resign ya sebaiknya fokus pada bangun emergency fund building dulu ya, bukan langsung resign,” tutupnya.
Penulis: Naufal Majid
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id































