Menuju konten utama

TNI AL Sebut Kematian Kelasi Dua Ghofirul karena Bunuh Diri

Hasil visum tidak ditemukan lebam akibat kekerasan benda tumpul pada tubuh almarhum.

TNI AL Sebut Kematian Kelasi Dua Ghofirul karena Bunuh Diri
Ilustrasi Mayat. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kepala Dinas Penerangan Komando Armada Republik Indonesia I, Kolonel Laut (P) Ary Mahayasa, membantah tewasnya prajurit TNI AL, Kelasi Dua (Kls) Ghofirul Kasyfi di Kapal Republik Indonesia (KRI) dr Radjiman Wedyodiningrat-992, karena tindakan kekerasan.

Ary menerangkan pihaknya telah melakukan visum et reprtum secara resmi di Rumah Sakit Pusat Angkatan Laut (RSPAL) dr. Mintohardjo Jakarta dan hasilnya tidak ditemukan luka bekas kekerasan pada 26 April 2026.

"(Hasilnya) tidak ditemukan lebam akibat kekerasan benda tumpul pada tubuh almarhum," kata Ary, dalam keterangan pers kepada Tirto, Senin (4/5/2026).

Ary menuturkan proses visum tersebut juga dihadiri oleh pihak keluarga dan tidak ditemukan adanya bekas pendarahan di area selangkangan, sebagaimana narasi yang disampaikan oleh keluarga Ghofirul Kasyfi.

"Tidak ditemukan pendarahan pada area selangkangan sebagaimana informasi yang beredar. Pemeriksaan visum tersebut, juga dihadiri oleh pihak keluarga almarhum," jelas Ary.

Pihak dokter RSPAL menyampaikan bahwa Ghofirul Kasyfi postif meninggal akibat gantung diri. Indikasi tersebut diketahui dari temuan luka pada leher serupa dengan tekanan yang melingkar diserta kulit arinya yang terkelupas.

"Luka pada bagian leher merupakan luka tekan yang melingkar, disertai pengelupasan kulit ari yang pola dan karakteristiknya secara medis identik dengan luka gantung. Dengan demikian, hasil pemeriksaan medis menyimpulkan bahwa penyebab kematian almarhum adalah murni akibat gantung diri, bukan karena tindakan kekerasan," ujar Ary.

Dirinya menambahkan luka lebam yang ditemukan di jasad Ghofirul Kasyfi adalah livor mortis yang merupakan perubahan warna kulit menjadi kebiruan atau keunguan pada bagian tubuh terendah jenazah akibat pengendapan darah yang berhenti bersirkulasi, dipengaruhi gaya gravitasi.

"Sedangkan luka lebam pada jenazah yang terlihat sesaat sebelum dimakamkan, adalah livor mortis di mana merupakan salah satu tanda pasti kematian yang disebabkan oleh berhentinya sirkulasi darah, sehingga sel darah merah (eritrosit) mengendap ke bagian tubuh terendah akibat pengaruh gaya gravitasi," terangnya.

Ary juga mengklarifikasi perihal kunjungan pihak TNI AL ke kediaman Ghofirul Kasyfi di Bangkalan, Madura. Kunjungan tersebut, kata Ary, dilakukan sebagai bentuk pengecekan personel kapal. Karena menurut data TNI AL, Ghofirul beberapa kali tidak hadir di atas glada KRI Rajiman.

"Kemudian berkaitan dengan adanya pihak Angkatan Laut yang mendatangi kediaman almarhum, itu disebabkan karena pada saat penegecekkan personel di kapal, almarhum tidak hadir beberapa kali, sehingga pihak KRI meminta bantuan kepada Lanal Batuporon untuk mengunjungi kediaman serta menanyakan keberadaan almarhum," ungkapnya.

Ary menyampaikan pihak TNI AL telah memakamkan Ghofirul Kasyfi secara militer, dan pihak keluarga telah menandatangani surat penolakan untuk otopsi.

"Terkait langkah hukum lebih lanjut, kami informasikan bahwa pada tanggal 30 April 2026, pihak keluarga (diwakili oleh Ibu Kandung almarhum) telah menyatakan secara sadar untuk menolak tindakan autopsi, yang telah dituangkan dalam dokumen pernyataan resmi," jelas Ary.

Baca juga artikel terkait TNI AL atau tulisan lainnya dari Irfan Amin

tirto.id - Flash News
Reporter: Irfan Amin
Penulis: Irfan Amin
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama