tirto.id - Informasi pembukaan lowongan Petani Milenial 2026 disertai tautan pendaftarannya kembali beredar di jejaring media sosial Facebook. Unggahan ini disebarkan oleh akun Facebook "INFO LOKER 2026" (arsip) pada 23 Agustus 2026.
Tidak hanya akun tersebut, informasi serupa juga diunggah oleh akun Facebook bernama "Update Indonesia" pada 25 Agustus 2026.
Dari kedua unggahan itu, hanya gambar pada poster yang memiliki perbedaan design. Sedangkan narasi yang dituliskan memiliki banyak kesamaan.
Tertulis bahwa program Petani Milenial 2026 yang digagas oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia kembali dibuka. Dijelaskan juga bahwa program ini merupakan strategi pemerintah untuk meningkatkan minat generasi muda di sektor pertanian.
Dalam unggahan di akun "INFO LOKER 2026", disebutkan kriterianya adalah lulusan SMA/SMK/D3/S1. Kemudian, mencakup seluruh wilayah Indonesia, terutama di pedalaman desa.
Kedua unggahan itu juga memiliki narasi yang sama, yakni kriteria usia 21-45 tahun. Pelamar juga harus memiliki semangat inovasi tinggi.
Ada juga informasi gaji Rp10 juta dalam poster yang diunggah kedua akun tersebut. Selain itu, disertakan sejumlah posisi yang dibutuhkan.
Disertakan pula link pendaftaran yang akan mengarahkan seseorang pada pengisian data diri. Di situs itu, akan tertera kolom nama lengkap sesuai KTP dan nomor Telegram.
Akun Info Loker 2026 memberikan penjelasan mengapa pengisian data diri harus sesuai dengan link Telegram. Berikut narasinya:
"PENGUMUMAN PENTING
Hingga artikel ini ditulis pada Senin (31/08/2026), unggahan pada akun Facebook "INFO LOKER 2026" telah mendapatkan 46 tanda suka dan komentar yang menyayangkan perihal pembatasan usia pendaftaran. Sementara, pada akun Facebook "Update Indonesia" telah mendapat 15 tanda suka, 4 komentar, dan 1 kali dibagikan ulang.
Lantas, apakah benar klaim tentang adanya tautan pendaftaran Petani Milenial 2026 seperti yang diunggah kedua akun tersebut?

Penelusuran Fakta
Pada situs yang dicantumkan oleh kedua akun Facebook tersebut pun tidak mengarahkan pada proses pendaftaran resmi milik instansi pemerintah. Terlebih, sejak 2024 Kementerian Pertanian telah memberikan imbauan mengenai kewaspadaan akan informasi lowongan pekerjaan Petani Milenial.
"Waspada Penipuan! Banyak akun palsu yang menyebarkan informasi tidak benar tentang program Petani Milenial atau Brigade Pangan. Jangan mudah percaya pada link atau akun yang tidak resmi. Pastikan hanya mendapatkan informasi langsung dari website resmi Kementerian Pertanian atau Dinas Pertanian Daerahmu di pertanian.go.id," tulis akun resmi Instagram @bppsdmp.
Dijelaskan juga bahwa tidak ada penghasilan dengan nilai tetap karena usaha yang dikelola bersama. Sehingga, tak dapat dipastikan perihal gaji Rp10 juta tersebut, sebagaimana tertera dalam pengumuman di Facebook.
Untuk lebih memastikan, Tirto mencoba mengklik tautan DAFTAR SEGERA pada bagian bawah unggahan. Ketika diklik, pengunjung diarahkan ke laman dengan tulisan “DAFTAR SEKARANG JUGA”. Di situ, pengunjung diarahkan untuk melakukan pengisian data diri berupa nama lengkap sesuai KTP dan nomor Telegram aktif.
Kemudian, setelah mengisi data pribadi, pengunjung akan diarahkan untuk mengisi kode OTP yang dikirim melalui Telegram. Biasanya, modus ini digunakan untuk memancing korban berkomunikasi langsung dengan pelaku penipuan. Data pribadi yang didapat dari pengguna, biasanya dieksploitasi untuk modus phishing.
Lebih lanjut, Tirto mencoba mengecek keaslian tautan yang diklaim untuk mendaftar program pendaftaran Petani Milenial 2026. Hasil analisis situs UrlScan menunjukkan bahwa tautan yang dibagikan tidak terafiliasi dan bukan situs resmi milik pemerintah.
Tautan tersebut milik to CLOUDFLARENET - Cloudflare, Inc., US berlokasi di Ascension Island dengan domain w1.applly-now.online, dibuat pada 18 Juli 2026, dan berlaku selama 3 bulan.
Kesimpulan
Kementerian Pertanian memang membuka program Petani Milenial di 12 Provinsi. Program ini bertujuan untuk memberdayakan generasi muda melalui pengelolaan pertanian modern.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Editor: Tim Riset Tirto
Masuk tirto.id

































