Menuju konten utama
Miroso

Sup Manten, Elegan dalam Kesederhanaan

Komponen sup manten bisa dihitung dengan jari satu tangan: dua atau tiga kerat wortel, sejumput bihun atau makaroni, dan beberapa suwir ayam.

Sup Manten, Elegan dalam Kesederhanaan
header Miroso Sup Manten yang sederhana tapi elegan. tirto.id/Tino

tirto.id - Mendatangi pesta pernikahan adalah salah satu versi ajang wisata kuliner sejak saya kecil. Jika diajak ke kondangan, hobi saya adalah menebak apa saja hidangan yang akan disajikan.

Sewaktu kecil, saya cukup sering menghadiri pesta pernikahan di area Surakarta dan sekitarnya. Berbeda dengan kondangan masa kini yang hidangannya disajikan secara prasmanan, ditambah aneka gubuk yang bisa dipilih, kondangan di Surakarta dan sekitarnya sebagian besar masih menggunakan tata cara USDEK (unjukan, sup, dahar, es lajeng kondur).

Konsep ini juga sering disebut ‘piring terbang’. Alias para among tamu di pesta pernikahan ini akan membawa piring, dan aneka menu suguhan ini dihantarkan langsung ke tempat duduk para tamu, sesuai dengan urutan tadi. Tidak perlu mengantri dan berdesak-desakan di meja prasmanan, atau berjalan ke tiap-tiap gubuk.

Di perhelatan semacam ini menu yang keluar selalu sesuai urutan. Setelah kudapan beserta minum keluar, lalu berurutan sup, nasi rames, dan es atau hidangan penutup yang menyusul belakangan. Urutan ini saya hafalkan seiring waktu.

Ketika menyantap sup di sistem USDEK untuk pertama kalinya, tak ayal saya cukup heran.

“Bu, ini sup nya kok sedikit sekali isinya? Kuahnya juga," bisik saya.

Kata Ibu, ini porsi yang wajar. Sup manten, kata Ibu menyebut hidangan ini, isinya memang sedikit karena nanti masih ada nasi dan es sebagai penutup.

“Biar tidak kekenyangan,” jelas ibu saya kala itu. Jawaban ini saya yakini hingga saya dewasa.

Meski porsi dan isiannya sedikit, sup manten menjadi salah satu menu sajian kondangan yang selalu saya nantikan. Kekurangan dari segi porsi dan ragam isian, ditutupi oleh kuah kaldu yang rasanya selalu gurih dan menyegarkan. Disajikan hangat, sup menjadi pembuka yang tepat sebelum masuk ke hidangan utama. Jika tamu datang dalam keadaan perut kosong, ia akan nyaman dan tak kaget ketika nanti nasi ramesan disajikan.

Komponen isiannya bisa dihitung dengan jari satu tangan: dua atau tiga kerat wortel, sejumput bihun atau tiga buah makaroni, dan beberapa suwir ayam, terkadang juga diganti rolade yang tipis atau beberapa potong sosis pucat. Yang tak boleh ketinggalan adalah jamur putih, kacang kapri, dan bawang goreng. Kadang ada juga kentang dalam bentuk beberapa helai keripik. Semua isian itu lantas disiram kuah bening gurih berkaldu.

Jarang sekali sup manten disajikan bersama nasi, selalu disajikan sebagai suguhan tunggal. Kehadirannya di antara urutan kudapan dan nasi rames bisa jadi sebab mengapa sup manten tak disajikan dengan nasi atau bentuk karbo lainnya.

Penyajian sup manten ini sangat khas, isiannya sedikit tapi kuahnya banyak jika dibandingkan dengan rasio isiannya. Ngoplah-oplah, begitu ibu saya menyebutnya. Namun selain karena alasan fungsinya sebagai makanan pembuka, ternyata sup manten punya makna khusus.

Beberapa literatur yang saya baca menyebutkan bahwa sup manten yang berisi aneka jenis sayur dan kondimen pelengkapnya menjadi simbol sikap saling menghargai dan menyatunya perbedaan di antara kedua mempelai.

INfografik Miroso Sup Manten yang sederhana tapi elegan

INfografik Miroso Sup Manten yang sederhana tapi elegan. tirto.id/Tino

Isiannya yang sedikit dan bagi saya cenderung tampak tidak niat, ternyata bukan pula tanpa alasan. Jumlahnya yang cuma sekerat dua kerat dengan kuah yang rasanya sederhana, menyimpan makna simbolis. Sajian sup manten tersebut melambangkan kesederhanaan yang diharapkan diteladani mempelai berdua. Kehidupan yang akan mereka hadapi tak selalu baik, karenanya kesederhanaan perlu dijadikan tuntunan.

Selain kedua makna yang disebutkan tentang betapa sederhananya tampilan sop manten ini, ternyata ada alasan lain yang menurut saya paling masuk akal. Alasan lain ini saya temukan ketika saya dewasa dan sering ikut ibu saya membantu meracik hidangan di hajatan saudara. Komponen sop manten ini sangat fleksibel dan tidak ada pakem yang wajib dipenuhi sehingga bisa disesuaikan dengan anggaran si empunya kerja. Dari jenis sayur hingga komponen proteinnya, sangat mungkin diubah sesuai keadaan.

“Kalo (dananya) nggak cukup buat pesen rolade atau sosis, ya pakai ayam suwir saja sudah cukup,” kata Ibu suatu ketika.

Alasan lain yang juga diungkapkan Ibu tentang sedikitnya isi hidangan sup manten adalah perkara kuantitas. Sebagai orang yang sering ikut rewangan di kondangan atau hajatan manten di desa-desa, stok bahan kadang tak sebanding dengan jumlah tamu yang datang.

Racikan sop manten ini dinilai paling luwes direkayasa dari segi jumlahnya sehingga bisa dibagi rata ke semua tamu yang hadir. Jika di piring-piring awal wortelnya ada tiga kerat, maka ketika stok mulai menipis tapi tamu masih terus berdatangan, maka jumlah wortel bisa dikurangi menjadi dua kerat saja. Hal ini juga berlaku untuk bahan-bahan lainnya, bahkan kuah supnya.

Mungkin saat ini tak lagi banyak kondangan yang menyajikan sup manten karena berbagai alasan. Namun jika kita perhatikan di hajatan yang masih menggunakan sistem ‘piring terbang’, rangkaian sajian yang hadir sudah diperhitungkan porsi dan entitas rasa kenyangnya pada masing-masing orang.

Bagi pemilik hajat, cara ini juga dianggap lebih memuliakan tamu karena diberikan satu set sajian dari awal hingga akhir. Lain halnya jika kita datang di pesta prasmanan yang mana tamu harus “berjuang” mendapatkan makanannya, baik dengan mengantri atau berdesak-desakan. Kadang tak jarang antrean ini membuat tempat acara pernikahan jadi seperti arena gladiator.

Pada kondangan semacam ini sebenarnya ada beberapa varian sup lain yang bisa dihidangkan, seperti sup matahari atau sup kimlo. Namun, bagi saya pribadi, sup manten memang paling pas. Terlepas dari makna yang disematkan di dalamnya, sajian ini menjadi salah satu pengingat bagi saya jika kita sedang berada dalam acara pernikahan.

Aroma, rasanya dan suasananya, paling pas dinikmati di kondangan. Ketika saya mendapat sup manten yang kuahnya sudah dingin pun, rasanya tetaplah istimewa dengan segala kesederhanaanya.

Baca juga artikel terkait MAKANAN atau tulisan lainnya dari Lina Maharani

tirto.id - Gaya hidup
Penulis: Lina Maharani
Editor: Nuran Wibisono