10 Februari

Sultan Baabullah Sang Penakluk

Pertemuan Francis Drake dan Sultan Baabullah tahun 1579, Lukisan Theodor de Bry (1528-1598). FOTO/Istimewa
Oleh: Iswara N Raditya - 10 Februari 2017
Dibaca Normal 2 menit
Tanggal 10 Februari 1528, pangeran Ternate yang kelak berjuluk penguasa 72 negeri itu lahir. Dia adalah Sultan Baabullah, sang penakluk dari timur Nusantara.
tirto.id - Pagi itu, Ternate berduka. Jasad Sultan Khairun Jamil diangkat dari lautan dalam kondisi mengenaskan. Tampak beberapa luka tusukan melubangi raga penguasa Ternate itu. Pangeran Baab, sang putra mahkota, membopong sendiri jenazah ayahnya sembari berucap dalam hati: dendam harus dituntaskan!

Sehari sebelumnya, 25 Februari 1570, Sultan Khairun datang tanpa pengawalan ketat ke Benteng Sao Paulo milik Portugis yang hanya berjarak sekitar 5 kilometer istananya. Sang sultan sama sekali tidak mengira bahwa undangan perdamaian dari Gubernur Portugis di Ternate, Lopez de Mesquita, itu ternyata jebakan dan berujung petaka.

Seperti yang direncanakan, de Mesquita mengajak Sultan Khairun berbincang. Tanpa diduga, Antonio Pimental yang tidak lain adalah keponakan gubernur, perlahan mendekat dari belakang dan dengan cepat menusukkan kerisnya. Sultan Khairun tersungkur bersimbah darah. Tubuhnya dibuang ke laut malam itu juga.

De Mesquita rupanya tak sadar, tindakan liciknya itu akan membawa kehancuran yang mengerikan bagi Portugis.

Dendam Sang Penerus

Beberapa jam setelah jasad Sultan Khairun ditemukan, para pejabat tinggi istana dan para pemuka masyarakat segera bersepakat untuk menobatkan sang putra mahkota. Pangeran Baab pun resmi menjadi penguasa Kesultanan Ternate dengan gelar Sultan Baabullah Datu Syah.

Saat itu juga di atas singgasananya, Sultan Baabullah bersumpah akan membalaskan dendam sang ayah dan mengusir bangsa penjajah. Ia tidak akan berhenti berperang sebelum orang Portugis terakhir pergi dari wilayah kerajaannya (Djokosurjo, Agama dan Perubahan Sosial, 2001:126).

Sang sultan baru tak main-main. Strategi tempur segera dirancang. Tak cuma berniat menghancurkan lawan di area sekitar Ternate saja, ia juga bertekad menghabisi orang-orang Portugis yang ada di seluruh Kepulauan Maluku. Ambon, Seram, Bacan, Banggai, Buton, Luwik, Sula, Halmahera, hingga Celebes dikondisikan untuk menyiapkan serangan besar-besaran.

Tak hanya itu, Sultan Baabullah juga meminta bantuan Makassar, Jawa, hingga Melayu (Sumatera), untuk bersama-sama melenyapkan kaum kolonialis dari bumi Maluku. Sultan mengobarkan Perang Soya-Soya atau perang pembebasan negeri dengan menyiapkan 2000 armada perahu tempur beserta lebih dari 120.000 prajurit.

Sejak 1571, pos-pos Portugis di berbagai tempat dihancurkan. Benteng penjajah pun satu per satu dapat direbut, dari Fort Tolocce, Santo Lucia Fortress, hingga Santo Pedro, tinggal Sao Paulo yang tersisa. Baabullah memang sengaja tidak langsung menyerang benteng yang didiami de Mesquita sekaligus lokasi pembunuhan ayahnya itu.

Sultan Baabullah menerapkan strategi pengepungan untuk Sao Paulo dengan menutup semua akses, baik jalan maupun distribusi bahan makanan yang dibatasi dalam jumlah tertentu. Benteng yang dibangun pada 1525 ini memang berlokasi tidak jauh dari pusat kesultanan dan termasuk ke dalam wilayah ibukota Ternate (Bambang Budi Utomo, Warisan Bahari Indonesia, 2016:157).

Pengepungan Benteng Sao Paulo berlangsung selama 5 tahun. Selama itu pula, orang-orang Portugis yang tinggal di dalamnya merasakan penderitaan yang teramat sangat dengan segala keterbatasan karena tidak bisa menjalin hubungan dengan dunia luar.

Sultan Baabullah akhirnya memberi kesempatan kepada para penghuni benteng untuk pergi dari wilayah Ternate dalam waktu 24 jam. Sementara bagi mereka yang sudah beristrikan wanita lokal boleh tetap tinggal tapi harus mengabdi kepada kerajaan.

Setelah 15 Juli 1575, Ternate telah bersih dari orang-orang Portugis. Pamor Portugis di Ternate dan sebagian besar Kepulauan Maluku runtuh total. Kekuasaan Sultan Baabullah kini mencapai puncaknya (Vlekke, Bernard H.M., Nusantara: Sejarah Indonesia, 2008:114).



Penguasa 72 Negeri

Majapahit dengan duet Hayam Wuruk dan Gadjah Mada-nya boleh saja mengklaim pernah menguasai sebagian besar wilayah Nusantara, bahkan hingga Semenanjung Malaya. Setelah era Majapahit berakhir, tidak ada kerajaan di Jawa yang mampu mengulang kejayaan itu. Tapi, tidak demikian halnya dengan di timur jauh sana.

Sultan Baabullah tidak hanya mengusir orang-orang Portugis dari wilayahnya, tapi juga berperan besar dalam upaya syiar Islam di Kepulauan Maluku dan sekitarnya. Setelah Portugis ditendang, jumlah pemeluk Kristen di kawasan tersebut menurun drastis. Banyak orang Kristen yang diislamkan oleh Sultan Ternate itu (Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia, 2004:39).

Luas wilayah kekuasaan Kesultanan Ternate di era pemerintahan Sultan Baabullah juga semakin bertambah. Dengan mengusung misi Islamisasi, Sultan Baabullah berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil di Kepulauan Maluku.

Bahkan, di luar kepulauan tersebut, masih cukup banyak kerajaan yang akhirnya memilih bernaung di bawah panji-panji Kesultanan Ternate. Sultan Baabullah menempatkan perwakilannya yang disebut Sangaji di berbagai daerah, termasuk Bali, Nusa Tenggara Barat dan Timur, juga di wilayah Timor Leste sekarang.

Tak hanya itu, Sultan Baabullah juga punya perwakilan yang ditempatkan di Jawa dan Sumatera, sampai Papua. Di Papua sendiri ada cukup banyak daerah yang berhasil dirangkul, seperti Raja Ampat, Sorong, Biak, Jayapura, dan Merauke.

Wilayah taklukan Kesultanan Ternate juga membentang dari Sulawesi Utara dan Tengah hingga Kepulauan Marshall di kawasan Mikronesia, dekat Australia. Filipina bagian selatan alias Mindanao juga berhasil ditundukkan (A.G. Anshori, Hukum Islam: Dinamika dan Perkembangannya di Indonesia, 2008:98).

Seorang peneliti Belanda bernama Valentijn merinci setidaknya ada 72 wilayah atau kerajaan yang berada di bawah pengaruh Kesultanan Ternate. Dari situlah Sultan Baabullah memperoleh julukan sebagai “Penguasa 72 Negeri” (Reid, Anthony, Southeast Asia in the Early Modern Era, 1993:38).

Meskipun sangat berkuasa, namun Sultan Baabullah tidak lantas menutup pintu rapat-rapat bagi orang-orang dari Eropa yang kemudian datang. Mereka tetap dirangkul dan dipersilakan menjalin kerja sama, tapi tidak diberi hak-hak istimewa seperti yang dulu pernah dinikmati oleh bangsa Portugis.

Pada awal 1583, Sultan Baabullah wafat. Hingga sekarang, penyebab kematiannya masih misteri dan menjadi perdebatan. Yang pasti, Sultan Baabullah adalah raja terbesar yang pernah memimpin Ternate. Setelahnya, kejayaan Kesultanan Ternate berangsur-angsur melemah dan kembali dijamah tangan-tangan asing, dari Spanyol kemudian Belanda.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Iswara N Raditya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight