tirto.id - Puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) sudah selesai, tapi memiliki kisah abadi. Kenangannya akan terus diputar ulang, saat jemaah pulang ke Tanah Air nanti.
Suka duka yang mereka alami akan selalu diingat. Ketika diceritakan ulang, kerap menghadirkan rasa rindu untuk kembali.
Cerita saat puncak haji tak melulu soal ibadah. Banyak momen spesial justru hadir dengan hal yang tak terpikirkan sebelumnya.
Dari Romantisme Pasutri Hingga Tak Kuat Udara AC
Salah satu cerita unik puncak haji 2026 di Armuzna dialami oleh pasangan Eko Aprianto dan Mega. Hubungan suami-istri ini tiba-tiba menjadi romantis meski usia mereka tak lagi muda.
Pasangan jemaah haji suami-istri dari kloter 19 Embarkasi Jakarta-Pondok Gede (JKG) tersebut terlihat romantis saat tiba di Muzdalifah untuk mabit usai wukuf di Arafah. Eko tampak membawa bawaan cukup banyak.
Saat ditanya "kenapa bawaannya banyak sekali?" Eko bilang untuk persiapan Armuzna.
"Demi cinta [istrinya]" kata Eko sambil tertawa.
Sang istri menimpali "Alhamdulillah rezekinya banyak." Jemaah haji asal Lampung ini mengaku menjalani pernikahan selama 20 tahun.
"Baru kemarin ulang tahun pernikahannya," kata Eko dengan mimik wajah semringah.

Banyak pasangan mungkin ingat tanggal ulang tahun pernikahannya. Namun, tidak semua orang seberuntung Eko dan Mega yang bisa merayakan momen tersebut di Tanah Suci. Terlebih, keduanya ditakdirkan menjumpai momen ini di waktu dan tempat yang sangat mustajab: Padang Arafah.
Pasangan suami-istri ini berdoa agar keluarganya di Tanah Air bisa segera menyusul ke Baitullah, baik umrah ataupun haji. Ia juga mendoakan diberikan kesehatan dan dimudahkan urusannya.
Cerita berbeda datang dari Windri Astuti, jemaah haji asal Magelang, Jawa Tengah. Ia mengaku perjalanan yang dilaluinya menyenangkan.
"Pelayanannya bagus, makanannya juga enak," kata Windri yang tergabung dalam kloter 17 Embarkasi YIA atau Yogyakarta ini.
Windri mengaku pelayanan dari petugas yang berbaju coklat (petugas PPIH) sangat membantunya, terutama selama puncak haji di Armuzna. Windri menilai, petugas haji sabar dalam melayani para dhuyufurrahman.
"Benar, ini tidak mengada-ada," kata Windri saat ditemui Tim Media Center Haji (MCH) di Muzdalifah, pada Rabu dini hari (27/5/2026).
Selama di Tanah Suci, Windri mengaku fokus ibadah. Ia tidak kangen kampung halamannya. Satu-satunya yang ia kangeni adalah cucunya yang berusia 10 tahun.
Di akhir obrolan yang mengalir dengan tim MCH, Windri hanya berpesan kepada anak-anak serta cucu-cucunya di Indonesia agar jaga kesehatan dan saling mendoakan supaya dikasih kesehatan serta ibadahnya lancar.
Cerita unik lainnya datang dari Ngasini, jemaah haji asal Blora, Jawa Tengah. Ia memilih tidur di luar tenda saat mabit di Mina, karena tidak kuat dengan dinginnya AC. Momen ini bahkan mendapat perhatian khusus dari Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak.
Saat mengecek tenda-tenda di Mina, Dahnil menemukan sejumlah kejadian unik, karena beragam kebiasaan jemaah. Misalnya, di hari pertama di Mina banyak jemaah yang tersesat mencari tenda.
Momen Refleksi Diri
Sementara itu, Muhammad Musawir Ginting, jemaah haji asal Kota Banda Aceh, mengaku tak kuasa menahan air mata ketika menjalani wukuf. Ia teringat dosa-dosa yang pernah dilakukan serta sosok ayahnya yang telah meninggal dunia.
"Alhamdulillah saya sempat nangis karena terharu. Teringat orang tua, ayah almarhum," kata Musawir saat ditemui tim Media Center Haji (MCH) di Muzdalifah, Rabu (27/5/2026) dini hari.
Musawir mengatakan, dirinya merasa senang sekaligus emosional dapat mengikuti rangkaian ibadah haji di Tanah Suci setelah menunggu cukup lama. Dia telah mendaftar haji reguler sejak 2011.

Perasaan serupa juga dirasakan Yayang Nurwanda (29), jemaah haji asal Pandeglang. Ia berangkat ke Tanah Suci bersama dua adiknya, Muhammad Nur Adiyanullah (19) dan Najwa Ahada (24).
Yayang dan kedua adiknya telah mendaftar haji sejak 2012. Ia bersyukur dapat menjalani wukuf di Arafah di usia muda dan memanfaatkan momen tersebut untuk berdoa.
"Alhamdulillah pastinya bersyukur banget sudah dapat kesempatan di usia kita yang muda ini," kata dia.
Yayang mengatakan, ia memanjatkan doa untuk kedua orang tuanya agar selalu diberikan kesehatan dan kelancaran dalam menjalani usaha.
Sementara itu, sang adik, Muhammad Nur Adiyanullah, bersyukur bisa menunaikan ibadah haji tahun ini.
"Tidak ada kata selain alhamdulillah," ucap Muhammad Nur Adiyanullah.
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id




























