Studi: Perang Suriah dan Pengungsian Ubah Sumber Air

Oleh: Ign. L. Adhi Bhaskara - 11 Desember 2016
Dibaca Normal 1 menit
Para peneliti dari Stanford University perang saudara di Suriah dan pengungsian yang terjadi sebagai akibatnya telah menyebabkan penurunan penyimpanan air di bendungan dan irigasi pertanian sampai hampir 50 persen.
tirto.id - Studi terbaru yang dilakukan oleh para peneliti dari Stanford University melalui analisis data satelit menunjukkan bahwa perang saudara di Suriah dan pengungsian yang terjadi sebagai akibatnya telah mengakibatkan perubahan mendadak dalam penggunaan air bersih dan tanah di daerah tersebut.

Dalam apa yang dapat dikatakan sebagai upaya pertama untuk memperlihatkan praktek penanganan air secara terperinci di daerah perang aktif, para peneliti tersebut mendapati konflik Suriah mengarah kepada penurunan penyimpanan air di bendungan dan irigasi pertanian sampai hampir 50 persen dibandingkan dengan kondisi sebelum perang, demikian seperti dikutip dari kantor berita Antara.

"Praktek penanganan air di Suriah telah berubah dan itu terlihat jelas dari udara," kata Steven Gorelick, Profesor di Standford's School of Earth, Energy & Environmental Sciences dan pemimpin peneliti studi tersebut, yang disiarkan di terbitan terkini Proceedings of the National Academy of Sciences.

Gorelick menyatakan perang "telah menghasilkan pengurangan lahan pertanian di Suriah Selatan, kemerosotan dalam tuntutan rakyat Suriah bagi air irigasi dan perubahan dramatis dalam cara rakyat Suriah mengelola bendungan mereka."

Studi itu dipusatkan pada dampak dari 2013 sampai 2015 pada daerah aliran sungai Yarmouk-Jordania -- yang dibagi antara Suriah, Jordania dan Israel, seperti dilaporkan oleh Xinhua. Mereka juga meneliti penanganan air dan pemanfaatan tanah di lembah Sungai Yarmouk di wilayah Jordania dan di Dataran Tinggi Golan, Israel, sebagai garis dasar.

Salah satu penulis studi tersebut Jim Yoon, calon PhD di bidang Ilmu Sistem Bumi di Stanford, Rekan penulis studi Jim Yoon, memikirkan ide untuk mempelajari dampak perang Suriah pada sumber daya air tersebut ketika ia melihat peningkatan aliran Yarmouk River berdasarkan data debit sungai dari Kementerian Yordania Air dan Irigasi .

"Tantangan besar buat kami ialah untuk memperoleh data lapangan di Suriah merupakan suatu hal yang hampir tidak mungkin," kata Yoon. "Kami tak dapat benar-benar menutup cerita ini tanpa informasi di Suriah -- yang kemudian membuat kami menggunakan data pengindera jarak jauh."

Menggunakan gambar gabungan dari 11 bendungan air permukaan terbesar yang dikuasai Suriah di lembah tersebut, para peneliti mengukur penurunan simpanan air di bendungan hingga 49 persen, dan 47 persen penurunan lahan yang diairi di lembah danau itu.

Ditinggalkannya pertanian yang diairi di Suriah, ditambah dengan pemulihan wilayah tersebut dari kemarau parah, mengakibatkan peningkatan aliran air Sungai Jarmouk ke hulu di Jordania.

"Itu untuk pertama kali kami dapat melakukan analisis penginderaan jarak jauh dengan skala luas di daerah perang untuk benar-benar membuktikan hubungan timbal-balik antara konflik dan sumber daya air," kata penulis utama Marc Muller, peneliti pasca-doktoral di Laboratorium Goerlick, di dalam siaran pers dari Stanford.

"Dengan alat baru ini, orang dapat melakukan analisis dan melakukannya lagi dengan sangat cepat --dampaknya sangat kuat, dan sungguh mudah untuk melihatnya secara langsung."

Baca juga artikel terkait SURIAH atau tulisan menarik lainnya Ign. L. Adhi Bhaskara
(tirto.id - Hard News)

Reporter: Ign. L. Adhi Bhaskara
Penulis: Ign. L. Adhi Bhaskara
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara