Menuju konten utama

Strategi Pemerintah Menghadapi Perlambatan Ekonomi Global

Kemenkeu menilai penurunan kinerja ekspor tidak hanya dialami Indonesia, melainkan terjadi di banyak negara.

Strategi Pemerintah Menghadapi Perlambatan Ekonomi Global
Suasana aktivitas bongkar muatan peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (15/6/2021). ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/foc.

tirto.id - Neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus sebesar 3,12 miliar dolar AS pada Agustus 2023. Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu menuturkan, capaian tersebut mendorong surplus secara kumulatif, dari Januari-Agustus 2023, surplus neraca perdagangan Indonesia telah mencapai 24,34 miliar dolar AS.

"Dengan demikian, Indonesia telah mengalami surplus perdagangan selama 40 bulan berturut-turut. Neraca perdagangan Indonesia masih tercatat surplus di bulan ini, di tengah risiko global yang masih tinggi karena adanya penurunan harga komoditas dan perlambatan ekonomi dunia," katanya dikutip dari keterangan tertulis, Senin (18/9/2023).

Febrio menilai dengan surplusnya neraca perdagangan Indonesia, resiliensi Indonesia masih terjaga dengan baik. Kemudian, surplus ini perlu dipertahankan dan ditingkatkan.

Dia merinci ekspor pada Agustus 2023 tercatat 22,00 miliar dolar AS, terkontraksi 21,21 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, terutama didorong oleh penurunan ekspor semua sektor. Secara kumulatif, ekspor periode Januari – Agustus 2023 mencapai 171,52 miliar AS.

Sementara itu, impor pada Agustus 2023 tercatat 18,88 miliar dolar AS, dan terkontraksi 14,77 persen secara year on year (YoY), terutama bersumber dari penurunan impor bahan baku atau penolong dan barang modal. Kemudian impor barang konsumsi masih tumbuh sebesar 15,47% (yoy).

Secara kumulatif impor periode Januari-Agustus 2023 tercatat 147,18 miliar AS. Febrio menuturkan penurunan kinerja ekspor tidak hanya dialami Indonesia, melainkan juga terjadi di banyak negara. Salah satunya akibat melemahnya aktivitas ekonomi dunia.

Ekspor Cina dan India terkontraksi selama Januari – Agustus 2023. Di Kawasan ASEAN, ekspor Vietnam juga mengalami kontraksi dalam periode yang sama.

Sementara, Malaysia dan Thailand mengalami kontraksi pada periode Januari – Juli 2023. Hal ini menunjukkan dampak perlambatan ekonomi global terjadi secara luas.

Febrio mengatakan, meski pertumbuhan ekspor Indonesia secara nilai termoderasi. Tetapi masih menunjukkan peningkatan secara volume.

"Permintaan ekspor produk unggulan Indonesia masih kuat, tercermin dari pertumbuhan volume ekspor non migas yang masih tumbuh 9,5% pada periode Januari – Agustus 2023," bebernya.

Volume ekspor bahan bakar mineral menurut Febrio, termasuk batu bara, minyak hewani atau nabati, besi baja, kendaraan, logam mulia dan nikel, secara kumulatif Januari – Agustus 2023 masih meningkat signifikan. Dia memproyeksi ke depan kinerja ekspor-impor Indonesia diperkirakan masih berada dalam tren positif.

"Meskipun sedikit melambat seiring dengan moderasi harga komoditas dan perlambatan pertumbuhan ekonomi global," bebernya.

Dia menjelaskan keberlanjutan tahapan hilirisasi mineral yang terus didorong. Langkah tersebut diharapkan dapat mendukung dan berpartisipasi dalam rantai pasok global juga diyakini terus memberikan manfaat yang signifikan pada daya saing dan kinerja ekspor nasional.

"Dampak penurunan harga komoditas dan perlambatan ekonomi global, terutama dari negara mitra dagang utama Indonesia, mulai dirasakan khususnya pada kinerja perdagangan," terang Febrio.

"Untuk itu, Pemerintah akan terus mengambil langkah-langkah antisipatif dengan terus mendorong keberlanjutan hilirisasi Sumber Daya Alam (SDA), meningkatkan daya saing produk ekspor nasional, dan diversifikasi mitra dagang utama," pungkasnya.

Baca juga artikel terkait NERACA DAGANG atau tulisan lainnya dari Hanif Reyhan Ghifari

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Hanif Reyhan Ghifari
Penulis: Hanif Reyhan Ghifari
Editor: Intan Umbari Prihatin