tirto.id - S&P Global Ratings memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat hingga 4,8 persen pada 2029 atau pada akhir masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,1 persen pada 2026.
Dalam laporan Economic Outlook Asia-Pacific Q3 2026: AI-Exposed Markets to Outperform, S&P memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di level 5,1 persen pada 2026, kemudian turun menjadi 5 persen pada 2027, 4,9 persen pada 2028, hingga mencapai 4,8 persen pada 2029.
S&P menilai prospek ekonomi kawasan Asia-Pasifik masih ditopang oleh ketahanan aktivitas ekonomi global. Namun, prospek pertumbuhan antarnegara semakin beragam seiring dampak lonjakan permintaan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI), gejolak harga energi, serta ketidakpastian perdagangan global. Negara-negara yang memiliki basis ekspor teknologi kuat diperkirakan memperoleh manfaat lebih besar dibandingkan negara yang lebih rentan terhadap guncangan energi.
S&P tidak secara khusus menyebutkan alasan pelambatan ekonomi Indonesia dalam laporan tersebut. Namun, kondisi ekonomi Indonesia, khususnya di 2027, sejalan dengan proyeksi lembaga pemeringkat tersebut untuk kawasan Asia Pasifik.
"Secara keseluruhan, kami mempertahankan proyeksi dasar (baseline) pertumbuhan ekonomi kawasan Asia-Pasifik—tidak termasuk Cina—untuk 2026 di level 4,5 persen, sama seperti proyeksi yang kami sampaikan pada Maret lalu. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi kawasan pada 2027 diperkirakan mencapai 4,4 persen," tulis S&P dalam laporannya, dikutip Jumat (26/6/2026).
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi di 2026 dan 2027 di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, diperkirakan akan ditopang oleh kombinasi antara kuatnya aktivitas industri elektronik, permintaan domestik yang relatif stabil, serta tekanan akibat kenaikan harga energi. Selain menikmati lonjakan ekspor produk teknologi, sebagian besar negara di Asia Tenggara juga tengah menerima aliran investasi untuk pembangunan pusat data (data center).
Investasi tersebut mendorong pertumbuhan sektor konstruksi dan belanja modal, terutama di Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Namun tidak dengan Indonesia.
"Secara keseluruhan, kami sedikit menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Tenggara. Revisi tersebut terutama dipengaruhi oleh penurunan signifikan proyeksi pertumbuhan Filipina, sementara proyeksi negara-negara lain relatif tidak berubah dibandingkan perkiraan sebelumnya. Penyesuaian ini dilakukan setelah pada laporan Maret lalu kami sempat merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi beberapa negara di kawasan," jelas S&P.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id




































