Sophie Martin Tidak Dibikin dari Perancis

Iklan tas Chicory dari katalog produk Sophie Martin. FOTO/Sophie Martin Paris
Oleh: Petrik Matanasi - 2 September 2017
Dibaca Normal 2 menit
Banyak yang menyangka produk Sophie Martin Paris adalah impor dari Perancis. Padahal, produk ini asli dibuat dibuat di Indonesia.
tirto.id - Bruno Hasson punya kemampuan desain dan doyan bikin produk baru. “Saya bisa berjam-jam mengamati sebuah produk yang saya anggap menarik,” katanya dalam bukunya Fashion Branding: 7 Jurus Sukses Branding Bisnis MLM Fashion (2008).

Dia merupakan lulusan Institut Superieur des Techniques d'Outre-Mer (Istom), sebuah institut pertanian milik pemerintah Perancis. Hasson menikah dengan Sophie Martin, keduanya sama-sama berkebangsaan Perancis. Seperti Bruno, istrinya juga desainer. Bruno pernah berkunjung ke Indonesia ketika masih kuliah. Mereka kemudian memutuskan hijrah ke Indonesia, untuk memulai bisnis.

Pada tahun-tahun pertama setelah Hasson lulus dari Istom, Indonesia masih dianggap Macan Asia. Pertumbuhan eknominya dianggap cepat, kala itu. Gambaran itu membuat Bruno nekad terbang ke Indonesia. Meski masih belum tahu apa yang harus dilakukannya nanti di Indonesia, Bruno hanya punya keyakinan dia akan berbisnis di Indonesia.

Tidak mudahnya sukses dalam berbisnis pernah dirasakan Bruno. Dia jatuh bangun dalam berbisnis. Dia pernah jualan pipa besi dan alat-alat pabrik.

Seperti banyak orang asing terpelajar yang datang ke Indonesia. Mereka mengamati perilaku orang Indonesia, termasuk cara ingin tampilnya. Menurut pengamatan Bruno pada 1995 terhadap produk tas masyarakat kelas menengah: “Kebanyakan tas saat itu desainnya sangat jelek dan bahannya tidak berkualitas, padahal harganya juga tidak murah.” Kondisi lain yang dilihat Bruno adalah “banyak produk lokal mengaku (sebagai) produk impor asal Perancis. Mereka juga mengaku memiliki desainer orang Perancis yang langsung turun tangan membangun produk. Padahal semua itu tidak benar.”

Bagi Bruno, idealnya, bisnis (sebaiknya) “berawal dari rasa empati akan keadaan masyarakat sekitar yang tidak terpenuhi kebutuhan dan keinginannya dengan produk dan jasa yang ada.“ Bisnis haruslah menghadirkan solusi bagi masyarakat, “sedang profit akan berjalan seiring waktu.” Itu semua membuat Bruno bertekad memproduksi tas dengan desain menarik bergaya Perancis.

Meski diproduksi di Indonesia, merek berbau luar negeri tentu akan menarik bagi konsumen Indonesia. “Untuk memperkuat citra Perancis saya sengaja menggunakan penggalan nama istri saya, Sophie Martin, yang memiliki asosiasi kuat ke kata Perancis,” aku Bruno.

“Merek dagang yang awalnya di bawah bendera PT. Nadja Sukses Utama (NSU) ini didirikan pada 1995. Bermodal 40 juta rupiah, Bruno Hasson dan istrinya memulai usaha dari ruko berlantai tiga di Grand Wijaya Center, Jakarta,” tulis Satrio Wahono dan Kurniawan Abdullah dalam The Mantra Rahasia Sukses Berinovasi Jawara-Jawara Industri Dalam Negeri (2010). Mereka memulainya dengan 3 mesin jahit.

Semula, produk-produknya dijual di mal. Menurut Bruno, hasil penjualannya masih kecil pada awalnya. Sampai kemudian, seorang perempuan yang datang dan ngotot ingin memasarkan produk Sophie Martin di Bandung. ”Saya tolak, tapi dia minta terus," cerita Bruno seperti dilansir dari Tempo (4/10/2010).

Setelah berkali-kali ditolak, Bruno akhirnya beri kesempatan. Alhasil, “ternyata laris.” Bruno pun tertarik pada sistem direct selling. Seperti “Michael Dell, pendiri Dell Computer, mengawali bisnis direct selling-nya setelah melihat IBM terlalu banyak memberikan margin kepada distributornya yang menyebabkan harga akhir komputer IBM menjadi mahal sekali,” tulis Bruno.

Harga mahal dan membuat produk sulit diinginkan konsumen tidaklah bagus. Bagi Bruno, Dell berusaha membuat harga komputer terjangkau. Dell begitu mempengaruhi Bruno, hingga dia berusaha membangun jaringan distribusi ala Multi Level Marketing (MLM). Hingga di dunia MLM Indonesia, Bruno dianggap sebagai salah satu pelopornya.

Menurut Bruno, Indonesia adalah “pasar menjanjikan bagi perusahaan MLM. Apabila dilihat perbandingan jumlah perusahaan MLM di Malaysia dan Indonesia berbanding jumlah penduduk, maka jumlah pelaku MLM di Indonesia terbilang sedikit.” Anggota MLM Sophie Martin sendiri sudah tembus 1 juta anggota. “Mimpi terbesar saya untuk Sophie adalah untuk menjadi perusahaan direct-selling terbesar di Indonesia dan juga di ASEAN,” aku Hasson.



Awal-awal bisnis Sophie Martin diwarnai dengan pecahnya kerusuhan di Jakarta. Bruno tak mau terpengaruh. Laki-laki berdarah Mesir-Perancis ini tetap bertahan di Jakarta. Bisnisnya terus jalan meski pasar lesu. Setelah perekonomian Indonesia berjalan lagi, Sophie Martin mampu bersaing di pasaran Indonesia.

Sophie Martin lalu berkembang. Ada konsep yang disebut Sophie Paris. Pada tahun 2009, Sophie Martin bahkan punya perwakilan di Casablanca, Maroko dan 2010 di Vietnam. Tak hanya tas saja yang belakangan diproduksi tapi juga parfum dan kosmetik. Pabrik parfum dan kosmetiknya berada di Ciamis, Jawa Barat. Kantor pusat dari Sophie Martin Paris sendiri berada di Jakarta, bukan Perancis.

Baca juga artikel terkait SEJARAH PERUSAHAAN atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight