Menuju konten utama

Soal Tarif Impor 0% untuk AS, PCO: Lihat Produknya

Pasalnya, menurut PCO, produk AS yang masuk ke Indonesia tak begitu banyak, di mana di antaranya hanya gandum dan kedelai.

Soal Tarif Impor 0% untuk AS, PCO: Lihat Produknya
Philips J. Vermonte usai Diskusi Double Check di Retro Cafe, Jakarta Selatan, Sabtu (19/7/2025). tirto.id/Qonita
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kantor Komunikasi Kepresidenan (Presidential Communication Officer/PCO) meminta masyarakat tidak melihat pemberian fasilitas tarif impor 0 persen oleh pemerintah kepada Amerika Serikat (AS), dan pemberian tarif resiprokal sebesar 19 persen oleh Gedung Putih kepada Indonesia, hanya terbatas sebagai tarif saja.

Tenaga Ahli Utama PCO, Philips J. Vermonte, mengatakan yang harus dilihat dari kesepakatan dagang antara Indonesia dan AS adalah produk apa saja yang akan dikirimkan ke AS dan sebaliknya, barang apa saja yang akan dikirimkan AS ke Indonesia.

"Tarif itu biasa dalam perjanjian perdagangan internasional. Kan masalahnya tadi, harus dilihat produknya dan lain-lain, karena kenyataannya memang juga tidak terlalu banyak sebetulnya jenis produk Amerika yang masuk ke Indonesia," ujar dia, saat ditemui usai Diskusi Double Check di Retro Cafe, Jakarta Selatan, Sabtu (19/7/2025).

Sebaliknya, dengan telah turunnya tarif resiprokal yang ditetapkan untuk Indonesia, dari yang sebelumnya sebesar 32 persen menjadi 19 persen, sebenarnya menunjukkan kalau negosiasi yang dilakukan oleh tim negosiator sudah sukses, menurut PCO.

Hal ini terbukti dari posisi Indonesia sebagai salah satu negara yang menerima tarif resiprokal paling rendah di antara negara-negara ASEAN lainnya.

"Tetapi (walaupun) kita tetap menjadi anggota BRICS, bisa melakukan trade deal dengan Trump. Bahkan, mencapai tarif yang lebih rendah dibandingkan negara-negara lain yang bahkan lebih dekat dengan Amerika Serikat," tambah Philips.

Di sisi lain, Indonesia yang juga tetap bisa tetap bertahan sebagai anggota organisasi antarpemerintah BRICS, yang mana di dalamnya terdapat Cina dan Rusia, menunjukkan bahwa politik luar negeri yang ditempuh Presiden Prabowo Subianto dapat diterima oleh kelompok-kelompok yang berbeda.

"Juga bisa mencapai kesepakatan dengan Uni Eropa yang sangat baik buat Indonesia.

Itu menunjukkan bahwa Pak Prabowo membawa politik luar negeri Indonesia bisa diterima oleh berbagai kelompok-kelompok yang berbeda," tuturnya.

Sementara itu, seiring dengan keinginan Prabowo untuk mendapat tarif resiprokal sebesar 0 persen, tim negosiasi yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, masih terus melanjutkan negosiasi hingga waktu penerapan tarif 19 persen berlaku pada 1 Agustus 2025.

Meski begitu, Wakil Menteri Luar Negeri, Arif Havas Oegroseno, menegaskan bahwa Indonesia tak akan mengalami kerugian karena memberikan pembebasan bea masuk kepada Washington.

Pasalnya, produk AS yang masuk ke Indonesia tak begitu banyak, di mana di antaranya hanya gandum dan kedelai. Pun, produk-produk yang bakal masuk juga tidak akan bersaing dengan barang asli Indonesia.

"Jadi, tidak bisa dilihat kita (memberikan tarif impor) 0 (persen), dia (AS memberikan tarif resiprokal) 19 persen. Nggak hitam putih gitu. Jadi, cara melihatnya adalah produknya apa gitu. Jadi, produknya Amerika Serikat kan tidak di sepatu, tidak di apparels, tidak di kopi, tidak di produk sehari-hari kita," tegas Havas, pada kesempatan yang sama.

Baca juga artikel terkait TARIF atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Farida Susanty