tirto.id - Ditemani angin sepoi-sepoi dan pepohonan yang rindang, Lutvi memilih membaca buku 'Gentle Souls' karya Dhannisa Cho. Demi mengikuti klub buku senyap, Lutvi rela menempuh sekira 13 kilometer (km) dari Ciledug, Kota Tangerang, Banten, ke Taman Langsat, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Ia sedikit terkejut dengan partisipan baca bareng yang mencapai ratusan orang hari itu. Padahal selama ia ikut, kegiatan serupa sebelumnya, belum pernah seramai itu. Hari Minggu (27/4/2025) itu adalah kali ketiga Lutvi bergabung dengan sesi membaca senyap atau Silent Book Club (SBC) Jakarta.
Perempuan berusia 25 tahun itu pertama kali ikut sesi membaca senyap, Desember tahun lalu. Kala itu Silent Book Club Jakarta melakukan kegiatan di Taman Literasi, di sekitar Blok M.
“Kemarin pas ke sana ramai banget jalanan. Eh, pas sampai Taman Langsat, ternyata ramai juga yang ikutan baca bareng. Kaget banget karena biasanya tuh gak sampai seramai itu,” kisah Lutvi mencoba mengingat pengalamannya, Sabtu (10/5/2025).
Informasi soal klub buku senyap ini awalnya Lutvi peroleh dari media sosial X. Dengan konsep membaca mandiri dan diadakan di taman terbuka, ia merasa pengalaman ini seperti piknik. Apalagi untuk bergabung tak perlu mendaftar atau berkenalan dengan sesama partisipan, jadi ia tak merasa ribet.
“Semoga (acara ini) bisa terus panjang umur. Berharap bisa ada terus karena berasa refreshing, dan senang sekali tiap selesai ikutan baca bareng,” tutur Lutvi.
Tak cuman Lutvi, Shandya (35) juga terlibat dalam momen meriah membaca senyap bulan April lalu. Tak seperti Lutvi yang janjian dengan kenalannya untuk ikut acara tersebut, Shandya datang sendirian dengan menggendong buku antologi cerita pendek “Kromatika”, yang ditulis oleh tujuh orang alumni kelas menulis Ayu Utami. Kebetulan salah seorang penulisnya merupakan kawan Shandya.
Shandya merasa klub membaca senyap ini ramah terhadap kelompok introvert atau orang-orang yang baru memulai kembali hobi membacanya seperti dia. Menurutnya, konsep klub membaca senyap ini juga, “sangat low effort”.
“Cukup dateng, baca, foto bareng terus pulang. Gak ada pendaftaran, join grup WhatsApp, gak ada sesi diskusi, atau maju ke depan gantian buat jelasin buku yang dibaca,” kata Shandya saat berbincang dengan Tirto, Sabtu (10/5/2025).

Setiap mengunggah kegiatan ini di media sosialnya, Shandya kerap mendapat respons antusias dari teman-teman yang tinggal di luar Jakarta. Dari situ, ia berharap gerakan literasi serupa bisa diadakan di kota-kota lain di Indonesia.
“Aku asalnya dari Bandung, sekarang domisili di Jakarta. Cuma setiap posting ke media sosial abis dari acara SBC, banyak temen-temen luar Jakarta yang komentar, ‘ih pengen ikutan’ gitu,” tutur Shandya.
Klub membaca senyap ini memang masih bergerak di ruang publik area Jakarta. Sebagai bagian dari jejaring Silent Book Club, gerakan literasi tanpa keanggotaan ini umumnya dilakukan sebulan sekali selama 60 menit.
Tak peduli membaca buku fisik maupun digital, prinsipnya yakni, “tenggelam dalam bacaan masing-masing, bersama-sama dalam hening”. Usai acara para partisipan pun bisa langsung pulang tanpa terpaksa ngobrol maupun berdiskusi.
Inisiator Baca Bareng (nama SBC di Indonesia), Hestia Istiviani, mengaku ingin mengkampanyekan membaca sebagai sarana hiburan. Dia ingin membaca bisa dilakukan dengan santai, tanpa harus terpikir membuat ulasan atau lainnya yang justru bikin tertekan.
Sejak dirintis pada 2019, Hestia bilang, pengikutnya semakin lama semakin ramai. Dari hanya 10 orang ketika pertama kali diadakan, kini sudah ada lebih dari 250 partisipan yang terlibat dalam satu sesi.
Hingga berjalan tahun keenam, kata Hestia, setiap bulan selalu ada wajah-wajah baru yang gembira ditemani membaca tanpa harus banyak fafifu dan menghabiskan tenaga.
“Ketika pandemi dan berpindah menjadi baca senyap daring, tetap banyak yang ikut. Malah bisa dari luar Jakarta dan Indonesia. Saat pemerintah sudah memberlakukan new normal pada Mei 2022, aku kembali mengadakan secara luring di Taman Suropati dan antusiasmenya masih besar,” kata Hestia kepada Tirto, Sabtu (10/5/2025).
Hestia mengatakan dirinya memang tumbuh besar dengan aktivitas membaca bersama lantaran dibesarkan oleh kedua orang tua yang suka membaca buku. Jadi, saat menemukan artikel wawancara Silent Book Club, ia mengaku semakin ingin menirunya.
Menurutnya, minimal dia bisa mendapatkan teman yang mau menemaninya membaca tanpa harus melalui proses berkenalan atau bertukar informasi personal.
Dari pengalaman yang sudah-sudah, ada beberapa hal yang mendapat sorotan Hestia. Dia berharap kepada pihak berwajib untuk meningkatkan layanan ruang publik yang sudah ada.
Apalagi jika harus izin untuk menggunakannya, petugas seharusnya bisa menginformasikan dengan lebih jelas. “Petugas juga perlu belajar komunikasi yang asertif layaknya teman-teman yang bekerja pada bidang hospitality. Selain itu, menggalakkan kampanye bahwa ruang terbuka tidak sama dengan area bebas merokok juga perlu digalakkan,” tuturnya.
Sebab, katanya, menjadi melelahkan apabila ia dan teman-teman yang berhak atas udara bersih terus menegur orang-orang atau pengunjung taman yang berpikir bahwa ruang terbuka sama dengan area bebas merokok, padahal tak seharusnya begitu.
Bentuk Baru Kebersamaan
Peneliti psikologi sosial dari Universitas Indonesia (UI), Wawan Kurniawan, mengatakan meski membaca senyap tampak sederhana, namun kegiatan ini sarat makna. Aktivitas tersebut menandakan munculnya bentuk baru kebersamaan yang tidak bergantung pada interaksi verbal, melainkan pada kehadiran dan tujuan bersama.
“Pertama-tama, silent reading dapat dijelaskan melalui teori social facilitation, yang menyatakan bahwa kehadiran orang lain—bahkan tanpa interaksi langsung—dapat meningkatkan performa tugas yang sudah dikuasai. Membaca, sebagai aktivitas yang otomatis bagi banyak orang dewasa, bisa menjadi lebih fokus ketika dilakukan dalam suasana sosial,” kata Wawan kepada Tirto, Sabtu (10/5/2025).
Hadirnya pembaca lain menjadi semacam pengingat sosial implisit bahwa kita semua sedang menjalankan tugas intelektual. Hal ini kemudian akan memperkuat motivasi individu untuk terus membaca.

Di sisi lain, menurut Wawan, kegiatan ini juga mencerminkan bentuk kebersamaan yang disebut sebagai connected solitude. Dengan kata lain kebutuhan untuk merasa terhubung dengan orang lain tanpa harus menegosiasikan identitas, emosi, atau status sosial.
“Ini berkaitan dengan teori affiliation need, bahwa manusia memiliki kebutuhan mendalam untuk merasa menjadi bagian dari kelompok. Namun dalam konteks budaya individualistik modern atau kelelahan sosial pasca-pandemi, bentuk afiliasi ini lebih dihargai ketika tidak menuntut interaksi intensif,” tuturnya.

Konsep minimal group identity juga bisa digunakan untuk melihat fenomena ini, di mana identitas kelompok terbentuk hanya dari kategori sederhana: kita para pembaca. Tak perlu berbagi nilai politik, agama, atau latar belakang budaya, cukup dengan berada di tempat yang sama dan melakukan aktivitas yang sama, individu merasa menjadi bagian dari komunitas yang bermakna.
“Manusia memiliki tiga kebutuhan dasar, autonomi, kompetensi, dan relatedness (keterhubungan). Kegiatan membaca dalam diam secara kolektif memenuhi ketiganya: peserta bebas memilih bacaan (autonomi), merasa mampu dan fokus saat membaca (kompetensi), dan merasa terhubung dengan orang lain dalam suasana yang aman dan mendukung (relatedness). Tak ada tekanan sosial untuk bicara, tapi tetap ada kehadiran sosial yang memberi kenyamanan,” kata Wawan.
Apalagi, orang-orang yang bergabung dalam membaca senyap juga membentuk identitas kelompok baru, yakni pembaca. Identitas ini memberi mereka makna sosial, bahkan ketika interaksi verbal tidak terjadi.

Dalam masyarakat yang semakin terfragmentasi, menurut Wawan, kegiatan ini memberi peluang untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri, tapi tanpa harus menyesuaikan diri secara sosial seperti dalam interaksi formal atau kelompok kerja.
“Ada pula elemen low-effort affiliation, kebutuhan akan keterhubungan dengan energi sosial yang minimal. Ini sangat relevan dalam konteks post-pandemic fatigue dan meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental. Orang-orang mencari bentuk kebersamaan yang tidak invasif, tidak kompetitif, dan tidak menguras,” lanjutnya.
Pada akhirnya, individu mencari lebih dari sekadar kebersamaan. Mereka mencari bentuk komunitas yang memberi rasa nyaman, aman, dan bermakna, tanpa harus menjelaskan siapa mereka, apa yang mereka pikirkan, atau mengapa mereka datang.
Membaca sebagai Pengalaman Personal
Semakin diminatinya sesi membaca senyap memang fenomena yang menarik. Setiap orang merasa nyaman dengan bukunya masing-masing dan punya pengalaman kolektif tanpa harus berinteraksi secara verbal.
Penulis novel ‘Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut’, Dian Purnomo, mengungkap hal yang membuat acara membaca bersama jadi seru yakni komunitasnya. Komunitas disebut selalu menguatkan dan membangkitkan rasa tidak sendiri. Kemudian itu terus menerus dibangun kecil-kecil seperti jamur di berbagai daerah.
“Dan itu bagus. Tapi pendapatku lagi, ini juga masih eksklusif banget, ada banyak wilayah yang anak-anaknya megang buku, selain buku pelajaran sekolah saja, nggak pernah. Di wilayah itu biasanya komunitas ini juga belum ada. Dan ini harusnya tanggung jawab negara,” kata Dian saat dihubungi Tirto, Sabtu (10/5/2025).

Orang mungkin lelah dengan semua-semua yang seolah harus masuk dalam sorotan kamera atau dipamerkan di media sosial. Menurut Dian, membaca adalah pengalaman yang sangat personal. Satu buku yang sama bisa dimaknai secara berbeda oleh orang yang berbeda, dan itu semua sah-sah saja.
“Mungkin menurutku bagian ini yang bikin silent reading seru. Nggak semua orang harus merasakan hal yang sama dan didiskusikan kok. Ada yang membaca sendiri dan punya pemaknaan sendiri dan itu cukup. Ada memang yang merasa penting untuk mendiskusikannya, dan itu juga tidak ada salahnya. Ini kembali ke masing-masing pembaca menurutku,” tambah Dian.
Akan tetapi, seperti yang sudah dia singgung, akses terhadap buku memanglah privilese. Di kota-kota yang banyak perpustakaan seperti Jakarta saja masih terbatas aksesnya, apalagi di daerah lain.
Menjamurnya kafe-kafe yang bertemakan buku atau perpustakaan yang menyediakan kafe, tak menjamin semua orang bisa mengaksesnya.
“Lagi-lagi menurutku buku di semua perpus itu masih sangat eksklusif. Kalau mau beneran, perbanyak perpustakaan motor, sepeda, gerobak. Kalau perlu di gang-gang yang orang-orangnya nggak bisa, nggak mau, atau nggak mampu mengakses kafe atau perpus khusus itu,” kata Dian.

Dian mencontohkan perpustakaan keliling yang dimiliki perpustakaan daerah (perpusda) Sumba Barat dan Sumba Tengah di Nusa Tenggara Timur (NTT), dekat tempat tinggalnya. Katanya, mobil perpustakaan keliling itu tidak berjalan.
“Nah, praktik baiknya rata-rata diambil oleh masyarakat. Di Sumba Barat, ada polisi desa –saya lupa pangkatnya dan namanya– dia bertugas patroli antarkampung, dia sulap motornya jadi gerobak buku. Kedatangan dia di tiap kampung dinantikan banget sama anak-anak. Target dia tercapai banget.
Pertama, keliling patroli, dua, nggak disegani, malahan dicari dan ditunggu sama anak. Yang kayak gini yang seharusnya dipikirkan sama negara dan orang dewasa lain untuk memberi akses buku semudah-mudahnya dan sebaik-baiknya bagi anak,” tutur Dian.
Penulis: Fina Nailur Rohmah
Editor: Alfons Yoshio Hartanto
Masuk tirto.id
































