Siapkah Anda Mengonsumsi Daging Bikinan Lab yang Ramah Lingkungan?

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 14 Juli 2018
Dibaca Normal 3 menit
Ditumbuhkan dari sel hewan, tanpa menyembelih, tanpa rekayasa genetika. Diklaim lebih sehat, emisi karbon dari produksinya juga jauh lebih sedikit. Mau?
tirto.id - “Ada rasa khas yang dicicipi oleh lidah saat saya mengunyahnya. Saya tahu tidak ada lemak di dalamnya, jadi saya tidak bisa memastikan seberapa berairnya (juicy) burger ini. Namun ada beberapa rasa intens. Konsistensinya sempurna,” kata Hanni Rutzler, sebagaimana dilaporkan BBC Science & Environment.

Usai satu-dua kecapan lagi, penilaian kritikus makanan dari Future Food Studio itu terdengar kian mantap. “Ini daging bagi saya. Ini benar-benar sesuatu untuk dimakan, dan saya pikir tampilannya juga sangat mirip (dengan daging).”

Selanjutnya giliran Josh Schonwald, kritikus dan penulis buku kuliner. Schonwald menilai rasanya “seperti hamburger konvensional”. Ketiadaan saus tomat, bawang, dan bacon berpengaruh pada kekuatan rasa dan bumbu, imbuhnya.


Pada 5 Agustus 2013, keduanya mendapat kehormatan untuk mencicipi burger berbahan daging laboratorium pertama di dunia dalam sebuah konferensi pers di London, Inggris. Penciptanya turut hadir, yakni para ilmuwan asal Universitas Maastricht, Belanda, yang dipimpin oleh Profesor Mark Post.

Post dan kawan-kawan telah membudidayakan daging laboratorium untuk burger tersebut sejak Mei 2013. Ada pendonor dana anonim bagi proyek tersebut, dengan besaran sekitar Rp4,7 miliar. Belakangan diketahui si penyumbang adalah Sergey Brin, salah satu pendiri Google.

Post mengambil sel induk dari seekor sapi, lalu menumbuhkannya menjadi potongan-potongan otot yang digabungkan menjadi burger. Di dalam satu burger terdapat kurang lebih 20.000 jaringan otot kultur dengan berat sekitar140 gram. Secara biologis sama dengan daging sapi konvensional, dan tanpa rekayasa genetika.


Sebagai penemuan baru, namanya masih beragam. Media dan jurnal penelitian luar negeri kadang juga menyebutnya dengan “clean meat”, “synthetic meat”, atau “in vitro meat”.

Nama terakhir mengacu pada asal daging yakni yang tumbuh dari kultur sel hewan “in vitro”. Dengan kata lain, daging laboratorium adalah bentuk dari pertanian seluler alih-alih menyembelih hewan ternak sebagaimana yang selama ini dilakukan oleh para pelaku industri daging.

Pertanian seluler dari hewan telah sukses dilakukan sejak 1990-an. Saat itu ilmuwan mampu memproduksi sejumlah kecil jaringan yang pada prinsipnya bisa dimasak dan dimakan. NASA melakukan eksperimen serupa sejak 2001. Hasilnya daging laboratorium dari sel-sel kalkun.


Sampel daging laboratorium yang dapat dimakan pertama kali diciptakan oleh NSR/Touro Applied BioScience Research Consortium. Pada tahun 2002 mereka menumbuhkan sel-sel ikan mas menjadi daging laboratorium yang menyerupai fillet ikan, demikian menurut catatan Time.

Konsep daging laboratorium makin populer berkat makalah seminar yang ditulis oleh Jason Matheny, direktur Intelligence Advanced Research Projects Activity, masih pada awal 2000-an.

Pada 2004, Matheny mendirikan New Harvest, organisasi nirlaba pertama di dunia yang didedikasikan untuk mendukung penelitian daging laboratorium. Setiap tahun mereka mengadakan konferensi khusus untuk membincangkan perkembangan daging laboratorium bersama para pakar.


Satu dekade setelahnya penelitian terkait daging laboratorium makin meluas. Pada 2012, ada kurang lebih 30 pusat penelitian di seluruh dunia yang mengumumkan bahwa mereka sedang mengembangkan daging laboratorium versinya sendiri-sendiri.

Perkembangannya juga cukup pesat. Pada Februari 2016 Memphis Meats, start-up Silicon Valley yang didirikan oleh seorang ahli jantung, meluncurkan daging laboratorium dalam bentuk bakso sapi goreng. Pada Maret 2017 mereka giliran memperkenalkan daging laboratorium ayam dan bebek.

Maret lalu CNN Health meminta pendapat Joe Tetrick, CEO produsen daging JUST. Ia meramalkan konsumsi daging laboratorium oleh masyarakat akan terwujud “sebelum akhir 2018”. Beberapa produk, dimulai nuget ayam, sosis, dan “foie gras” akan ditawarkan di beberapa restoran di Amerika Serikat dan Asia, imbuhnya.


Perusahaan lain memperkirakan penjualan daging laboratorium baru akan dimulai beberapa tahun lagi. Paul Shapiro, penulis "Daging Bersih: Bagaimana Menumbuhkan Daging Tanpa Hewan Akan Mengubah Makan Malam dan Dunia", memperkirakan produk dari daging laboratorium akan menjejali rak-rak toko mulai tahun 2021.

Selain perlu menyempurnakan tampilan dan rasa, kendala terpokok dari pemasaran daging laboratorium bagi korporasi adalah harganya. Sepotong burger yang Post pamerkan pada tahun 2013 berbiaya $330.000.

Namun, kabar baiknya, harganya terus turun dengan cukup pesat. Bakso Memphis Meats, misalnya, dua tahun lalu dibuat dengan biaya $18 ribu/pon. Pada Februari 2017 A Bit of Science melaporkan harga burger berdaging laboratorium turun dari $300.000 ke $11,36 hanya dalam waktu 3,5 tahun. Kini biayanya hanya 9-10 kali lebih mahal (per pon) dari daging sapi standar.


Jika dari segi kualitas dan harga sudah oke, pertanyaan selanjutnya adalah apakah daging laboratorium aman serta menyehatkan?

CNN Health mengutip pernyataan resmi Administrasi Makanan dan Obat-obatan AS (FDA), bahwa “tampaknya masuk akal untuk berpikir bahwa daging laboratorium dapat dikonsumsi dengan aman jika dibuat sesuai dengan standar keamanan yang telah ditetapkan dan melalui semua aturan terkait.”

Marta Zaraska dari Washington Post melaporkan pendapat sejumlah ilmuwan yang menyatakan bahwa dalam beberapa aspek daging laboratorium bisa lebih menyehatkan bagi manusia. Penyebabnya daging ini diproduksi dalam lingkungan yang steril, sehingga akan lebih bebas dari bakteri jahat.


Riset soal dampak buruk dari kandungan antibiotik pada daging konvensional telah lama bergulir. Baik tim peneliti daging laboratorium dari Belanda maupun Memphis Meats tidak memasukkan kandungan antibiotik dalam dagingnya. Ini juga dinilai sebagai kabar baik lain dalam wacana kesehatan mengonsumsi daging laboratorium.

“Mereka juga tidak menggunakan hormon untuk meningkatkan pertumbuhan hewan ternak. Menurut laporan Komisi Eropa, hormon ini punya efek merugikan pada manusia, yakni pada perkembangan fisik, neurobiologis, genotoksik dan efek karsinogenik,” tulis Zaraska.

Karena bisa dikontrol jumlah dan jenis lemaknya, daging laboratorium juga bisa lebih menghindarkan konsumen dari kolesterol yang dikandung daging konvensional. Kolesterol ini lah yang meningkatkan risiko stroke hingga penyakit jantung bagi para pemakan daging di berbagai negara.


Barangkali Anda bertanya-tanya: apa yang menggerakkan peneliti dan korporasi untuk terus mengembangkan daging laboratorium hingga bisa benar-benar dikonsumsi secara luas oleh masyarakat dunia?

Jawabannya adalah dampak lingkungan yang jauh lebih kecil yang dihasilkan oleh produksi daging laboratorium ketimbang produksi daging konvensional. Salah satunya berpedoman pada sebuah studi yang pernah dijajaki oleh para peneliti di Oxford dan University of Amsterdam.

Infografik Daging Laboratorium


Mereka menyimpulkan bahwa daging laboratorium "berpotensi jauh lebih efisien dan ramah lingkungan” sebab produksinya hanya menghasilkan 4 persen emisi gas rumah kaca dibanding emisi yang dihasilkan oleh industri daging konvensional.


Plus, produksi daging laboratorium hanya membutuhkan 2 persen dari lahan yang kini dikuasai oleh korporasi peternakan global. Mengutip New York Times, untuk setiap hektare lahan yang digunakan untuk budidaya dan pengolahan daging laboratorium, 10-20 hektare bekas industri daging konvensional dapat dikonversi kembali menjadi lahan alamiah.

Dengan demikian, daging laboratorium bisa menjadi jawaban atas dilema masyarakat modern: permintaan dan konsumsi daging kian meninggi tiap tahun, tapi industrinya selalu dikritik sebagai penyebab makin parahnya pemanasan global.

Jika pemerintah dan korporasi sudah mendukung penuh, pertanyaannya bukan lagi soal ketersediaan barang, tapi kesediaan masyarakat dunia untuk mengonsumsinya.

Siap menyantap daging laboratorium di meja makan Anda?

Baca juga artikel terkait DAGING atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf