Menuju konten utama

Siapa Solehah Yaacob yang Dipecat karena Isu Sejarah Melayu?

Solehah Yaacob dipecat IIUM setelah kontroversi sejarah Melayu. Kenali profil, klaim kontroversial, dan alasan kampus menghentikan hubungan kerjanya.

Siapa Solehah Yaacob yang Dipecat karena Isu Sejarah Melayu?
Solehah Yaacob. wikimedia/Beta Eridani
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nama Solehah Yaacob menjadi trending topic setelah International Islamic University Malaysia (IIUM) mengonfirmasi bahwa hubungan kerja akademiknya telah dihentikan efektif 27 April 2026. Siapa Solehah Yaacob dan benarkah alasannya dipecat karena kontroversi sejarah Melayu?

Selain mengumumkan Solehah bukan lagi pengajar di universitas tersebut, IIUM juga menegaskan bahwa Solehah tidak lagi memiliki afiliasi resmi dengan IIUM.

“Hal ini juga berlaku untuk materi promosi, laporan media, iklan, konten media sosial, materi publisitas, atau bentuk penyebaran informasi publik lainnya,” bunyi pernyataan tersebut dikutip Free Malaysia Today, Minggu(23/8/2026).

Keputusan ini mencuat ke publik setelah Solehah dikenal luas karena sejumlah pernyataan kontroversial mengenai sejarah dan peradaban Melayu, terutama klaim bahwa bangsa Romawi belajar teknik pembuatan kapal dari orang Melayu.

Profil Solehah Yaacob dan Kontroversinya

Solehah Yaacob adalah akademisi dan linguis asal Malaysia yang dikenal terutama karena kepakarannya dalam linguistik bahasa Arab, filsafat tata bahasa Arab, semantik, pragmatik, linguistik historis, serta hubungan bahasa dengan budaya dan peradaban.

Ia lahir di Pasir Mas, Kelantan, dan menempuh seluruh pendidikan tinggi di International Islamic University Malaysia (IIUM).

Ia meraih gelar sarjana Bahasa dan Sastra Arab pada 1995, kemudian master dalam pengajaran bahasa Arab sebagai bahasa kedua pada 1998, sebelum menyelesaikan doktoral di bidang Bahasa Arab dengan spesialisasi Philosophy of Arabic Grammar pada 2005.

Karier Solehah di IIUM dimulai pada 1995, tidak lama setelah menyelesaikan pendidikan sarjananya. Ia berturut-turut menjadi asisten dosen, dosen, asisten profesor, dan kemudian profesor madya.

Dalam perjalanan akademiknya, ia mengajar berbagai mata kuliah yang berkaitan dengan tata bahasa Arab, linguistik historis, semantik, pragmatik, struktur bahasa, serta teori linguistik komparatif.

Ia juga aktif dalam penelitian dan publikasi ilmiah. Salah satu bidang yang menjadi perhatian utamanya adalah hubungan antara tata bahasa Arab klasik dengan perkembangan teori linguistik modern.

Karya-karyanya antara lain membahas perkembangan historis bahasa Arab, filsafat tata bahasa Arab, serta hubungan antara balaghah atau retorika Arab dengan semantik dan pragmatik modern.

Pada 2016, profil yang diterbitkan IIUM menggambarkannya sebagai akademisi yang sangat aktif menulis jurnal, artikel, dan buku, serta memiliki minat besar terhadap penelitian mengenai bahasa, sejarah, budaya, dan peradaban.

Selain kegiatan mengajar dan penelitian, Solehah juga pernah menjalankan berbagai tugas akademik dan administratif di lingkungan IIUM. Ia tercatat pernah menjadi koordinator program, memimpin unit penelitian di Departemen Bahasa dan Sastra Arab, serta terlibat dalam berbagai kegiatan mahasiswa dan akademik.

Ia juga pernah diundang menjadi pembicara dalam berbagai program radio, seminar, pelatihan kepemimpinan, konferensi bahasa, dan kegiatan akademik.

Pada 2009, misalnya, ia mendapat undangan dari International Linguistic Association di New York untuk mempresentasikan penelitian mengenai hubungan sintaksis dan semantik dalam konsep Ma’ani al-Naḥw dalam tata bahasa Arab dan gagasan Modistae dalam tradisi tata bahasa Latin.

Solehah kemudian menjadi viral karena sejumlah pernyataan mengenai sejarah Melayu dan peradaban masa lalu yang menuai kontroversi. Salah satu yang paling terkenal adalah klaim bahwa orang Romawi belajar teknik pembuatan kapal dari bangsa Melayu.

Pernyataan tersebut menjadi viral setelah potongan video kuliahnya beredar di media sosial pada 2025 dan kemudian mendapat perhatian media Malaysia maupun internasional.

Ia juga dikaitkan dengan sejumlah klaim kontroversial lainnya, termasuk pernyataan mengenai kemampuan orang Melayu kuno untuk terbang dan mengajarkan "kung fu terbang" kepada orang China, serta teori bahwa kelimpahan bijih besi di Kedah kuno berkaitan dengan jatuhnya meteor.

Klaim-klaim tersebut mendapat kritik dari sejumlah akademisi dan sejarawan yang mempertanyakan dasar bukti sejarah dan arkeologinya.

Kontroversi tersebut semakin besar karena terdapat pula kritik terhadap penggunaan sumber dalam salah satu karya akademiknya.

Pada 2025, seorang peneliti independen menyoroti penggunaan artikel satir dari The Onion dalam sebuah tulisan Solehah dan mempertanyakan bagaimana sumber tersebut dapat digunakan dalam konteks akademik.

Kontroversi Solehah pada 2026

Kontroversi mengenai Solehah berlanjut hingga 2026, ketika ia dikaitkan dengan pernyataan bahwa tokoh Iban abad ke-19, Rentap, memiliki keturunan Melayu dan merupakan keturunan Hang Tuah.

Pernyataan tersebut kembali diperdebatkan oleh akademisi Malaysia karena menyangkut sejarah dan identitas masyarakat Sarawak.

Pada Agustus 2026, muncul pula laporan mengenai teorinya bahwa keberadaan bijih besi dalam jumlah besar di Kedah kuno mungkin berkaitan dengan hujan meteor. Teori tersebut mendapat bantahan dari penelitian arkeologi mengenai kompleks Sungai Batu yang menunjukkan bahwa bijih besi yang ditemukan memiliki asal-usul terestrial, bukan berasal dari meteor.

Puncak persoalan terjadi ketika IIUM mengonfirmasi bahwa hubungan kerja Solehah dengan universitas tersebut telah dihentikan efektif 27 April 2026.

Dalam klarifikasi pada Agustus 2026, universitas menyatakan bahwa setelah penghentian tersebut, Solehah tidak lagi berstatus profesor dan tidak diperbolehkan menggunakan jabatan, gelar, atau afiliasi resmi yang menghubungkannya dengan IIUM dalam materi promosi, pemberitaan media, iklan, media sosial, maupun bentuk publikasi lainnya.

IIUM menjelaskan bahwa klarifikasi tersebut diperlukan untuk mencegah masyarakat salah memahami posisi Solehah dan untuk menjaga integritas institusi dalam merepresentasikan status akademiknya.

Namun, Solehah membantah proses tersebut dan menyatakan bahwa ia akan membawa persoalan pemecatan itu ke Industrial Court Malaysia. Ia menilai proses penghentian hubungan kerjanya tidak profesional dan mengklaim tidak diberikan kesempatan untuk mengajukan banding.

Baca juga artikel terkait PROFESOR atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra