tirto.id - Ada dua hal yang langsung bisa kuperhatikan ketika pertama kali bertemu dengan Sezairi Sezali, seorang solis asal Singapura yang namanya melambung ketika menjadi juara Singapore Idol edisi ketiga, medio 2009 silam.
Pertama, dia amat menyukai Indonesia. Ketika baru masuk di ruang tunggu kantor, matanya berbinar melihat beberapa gelas es kopi susu Tuku.
“Terima kasih sudah menyiapkan Tuku!” ujarnya.
Sez, panggilan akrabnya, sore itu datang untuk syuting Arisan Tirto, bersama dengan sang istri, Syaza Qistina, yang sejak lama resign dari kantor dan memutuskan bekerja bareng sang suami; serta seorang rekan publisisnya di Indonesia. Begitu duduk di sofa dan minum Tuku dengan rasa bahagia, mereka bicara soal nasi Padang. Ada beberapa nama yang disebut mereka, sebagian besar adalah merek terkenal.
“Tapi dari semua nasi Padang yang pernah aku makan, Pagi Sore adalah yang terbaik,” kata Sez tertawa.
Hal kedua, yang ini mungkin tidak kusangka, adalah Sez adalah seorang yang filosofis. Kadang aku berpikir, seperti apa hubungan antara seorang yang sering berpikir dalam dengan lirik yang dihasilkan.
Jika kamu membaca lirik-lirik yang ditulis oleh Sez, ia tampak begitu akrab dengan rasa sedih. Kehilangan. Hingga kisah cinta yang nelangsa. Perasaan itu juga bisa kamu simak di album barunya, The Art of Surrender, yang dirilis pada 2025 ini. Album itu terasa seperti curahan hati sekaligus pengisahan hidup yang getir, sungguh sebuah album yang penuh rasa masygul.
“Apakah hidupmu sesedih itu?” tanyaku, “Atau kamu mengambil inspirasi dari kisah hidup orang lain?”
Sez terdiam sebentar sebelum mengisahkan bahwa dia memang seorang yang suka sekali dengan lagu sedih. Karena emosi, kesedihan, menurutnya, adalah sebuah perasaan yang sangat familiar dalam kehidupannya. Pria kelahiran 6 Agustus 1987 ini juga menekankan bahwa lirik yang dia tulis adalah caranya mengisahkan hidupnya, karena dia bukan tipikal orang yang bisa terbuka ketika bicara.
“Dan, if I don’t write about myself, then what’s the point?” katanya.
Sore itu Cipete yang sedang digelayuti mendung Desember, menjadi tambah sendu ketika Sez mengambil gitar dan berdendang. Suara halusnya menyelinap, menebar rasa pedih dan harap, perkara keinginan hidup bersama sampai hari tua, hingga cinta yang tandas di bawah pohon rambutan.
Mungkin seperti itu Sez bersikap terhadap rasa sedih. Bukan sebagai sesuatu yang harus disembuhkan, melainkan emosi yang harus dijalani dan dihidupi bersama hantu-hantu dari masa lalu."
Masuk tirto.id




























