Setelah Alexis Tak Ada Lagi

Oleh: Mawa Kresna - 6 November 2017
Dibaca Normal 2 menit
Siapa yang akan menggantikan posisi Alexis sebagai raja hiburan malam di Jakarta?
tirto.id - Dari pintu depan Malioboro Hotel, suara musik berdentam-dentam dan nada tebalnya bikin pelapis udara dari seng dekat parkiran bergetar-getar. Dentuman musik itu berasal dari Malio Club, sebuah kelab malam di Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat.

Jumat malam, di kelab itu, ruangan penuh orang. Nyaris tak ada tempat duduk yang tersisa. Kursi di sekeliling panggung dipenuhi para pelancong malam. Deretan sofa di belakangnya terisi. Di atas panggung, sepuluh penari berpakaian seksi meningkahi irama musik.

Seorang pegawai di Malio mengatakan beberapa hari terakhir memang ramai. Pada akhir pekan saja, belum tentu bisa seramai sekarang.

“Sejak Alexis tutup jadi ramai,” katanya, mengacu sebuah hotel dan griya pijat di bilangan Ancol, Jakarta Utara, yang izinya tak diperpanjang oleh pemerintahan baru Jakarta, Anies Baswedan-Sandiaga Uno, akhir Oktober lalu.

Baca juga: Pemprov DKI Tolak Perpanjang Izin Usaha Hotel Alexis

Suguhan di Malio Club sebenarnya sama seperti di Alexis. Mereka menampilkan tarian striptis, menjual beragam merek dan jenis minuman alkohol, dan bahkan soal layanan seks, keduanya punya.

Seorang pelayan di Malio Club mengatakan, di lantai dua biasanya ada layanan seksual bagi para pelancong. Namun, sejak kontroversi penutupan Alexis, jasa semacam ini segera ditiadakan.

Perbedaan paling mencolok antara Malio Club dan Hotel Alexis adalah luas ruangan dan keragaman fasilitas. Di Alexis, ruangan bar bernama 4play yang menyuguhkan striptis jauh lebih luas dari Malio Club. Selain itu Alexis punya dua lantai untuk karaoke, satu lantai untuk restoran, dua lantai hotel, dan satu lantai untuk spa.

Baca juga: Apakah Anies Berani Menutup Alexis?

Saat Malio ramai karena (diduga) imbas penutupan Alexis, Coloseeum Club—yang masih satu grup dengan Alexis—justru terlihat sepi. Pada Jumat malam, kelab di Jl. Kunir, Kota Tua, ini bak orang tua yang membosankan. Meja-meja kosong. Panggung sepi. Tak ada penari seksi. Hanya ada disjoki.

Padahal Colosseum semula kelab bergengsi dengan kapasitas terbesar di Jakarta. Luasnya 1.000 meter persegi, dengan desain interior mewah dan balkon berbentuk sangkar. Tempat ini juga kerap menggelar konser para DJ.

Taman Sari adalah Kunci

Kelab malam besar seperti Colosseum mudah ditemukan di Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat. Lokasi kecamatan ini strategis dan berjarak sekitar 5 kilometer dari Balai Kota, tempat Anies-Sandiaga berkantor. Kelab-kelab besar yang bertengger di sana termasuk Golden Crown, Illigals, Travel, dan Club 36.

Selain itu, ada kawasan Taman Hiburan Rakyat Lokasari, yang diisi kelab-kelab kecil, restoran, panti pijat dan spa, serta bar. Di sekeliling Taman Sari, ada beberapa tempat hiburan malam seperti Malio Club dan Classic Spa.

Pada 2016, Taman Sari menjadi kecamatan yang memberikan pajak terbanyak dari sektor hiburan malam dan pariwisata, yakni Rp350 miliar. Pada tahun yang sama, pendapatan pajak DKI Jakarta di sektor pariwisata sendiri sebesar Rp4,7 triliun.

Camat Taman Sari, Firman Ibrahim, mengatakan sejak Mei 2017, pajak dari sektor pariwisata sudah mencapai Rp147 miliar.

“Sudah 76,42 persen dari yang ditargetkan. Ini baru separuh jalan, belum sampai angka perolehan pada akhir Desember,” kata Firman seperti dilansir dari situs resmi Pemda DKI Jakarta.

Sayangnya, usai penutupan Alexis, beberapa tempat hiburan di sana sepi. Salah satunya THR Lokasari. Selain parkiran di kawasan itu terlihat sepi pada Jumat malam pekan lalu, sejumlah pekerja karaoke seperti pemandu lagu tampak menganggur di depan ruko-ruko.

Infografik HL Indepth Hiburan Malam

Peta Industri Hiburan Malam Jakarta

Tempat hiburan seperti kawasan THR Lokasari hanya segelintir dari bisnis hiburan malam di Jakarta. Dan bisnis kelab di Jakarta dikuasai oleh grup besar, yang memiliki lebih dari satu lini usaha.

Malio Club, misalnya, adalah bagian dari Grup Malio, salah satu pemain besar industri hiburan malam di Jakarta. Grup ini membabat semua segmen pasar, dari kelas bawah hingga kelas atas. Beberapa di antaranya King Cross Club, Level V Karaoke, Classic Club, Travel Club, Medika Club, dan Exodus Club, termasuk griya pijat dan hotel.

Pada Mei 2014, Grup Malio kehilangan Stadium Club yang ditutup oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama. Ahok menutup Stadium lantaran tempat ini terlilit kasus transaksi dan pemakaian narkoba.

Dua hari sesudah manajemen Hotel Alexis menggelar jumpa pers soal penghentian izin bisnis mereka, pada 2 November lalu, Camat Sawah Besar Martua Sitorus melakukan sidak terhadap Classic Club. Sidak itu dilakukan untuk menyingkap kekhawatiran bahwa tempat hiburan malam ini juga menggelar praktik serupa seperti Alexis. Pada Juli 2015, polisi pernah menggerebek Classic dan Travel lantaran ada pekerja di bawah umur dan praktik prostitusi.

Selain Grup Malio, pemain besar dalam bisnis hiburan malam adalah grup Ismaya dan Artha Graha. Grup Ismaya memiliki Dragon Fly dan Blowfish, yang lebih banyak bermain dalam bisnis kafe dan restoran. Sementara Artha Graha memiliki Grand Manhattan Club, Musro Club, dan Golden Crown.

Selain kelompok besar itu, ada grup Supra yang pernah berjaya di Jakarta. Namun, dua kelab andalannya, Millenium dan Mille’s, sudah tutup. Satu usahanya yang masih bertahan adalah Sun City Club, yang lebih berfokus pada restoran.

Dari semua grup ini, Grup Malio memiliki paling banyak lini usaha, yakni tujuh kelab, selain hotel dan griya pijat. Dengan penutupan Hotel Alexis yang menjadi lini bisnis utama grup Alexis, bukan tak mungkin Grup Malio bakal menggantikan posisinya sebagai raja hiburan malam di Jakarta.

Baca juga artikel terkait PENUTUPAN ALEXIS atau tulisan menarik lainnya Mawa Kresna
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Mawa Kresna
Penulis: Mawa Kresna
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan