tirto.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok pada perdagangan Kamis (21/5/2026) pagi. Berdasarkan data RTI Business hingga sekitar pukul 11.10 WIB, IHSG turun 160,944 poin atau 2,55 persen ke level 6.157,556.
Padahal pada awal perdagangan, indeks sempat dibuka menguat di level 6.366,485 dan menyentuh posisi tertinggi 6.378,811. Namun tekanan jual tiba-tiba membesar dan membuat IHSG terus bergerak ke zona merah hingga menyentuh level terendah 6.150,275.
Data RTI Business menunjukkan sebanyak 572 saham melemah, 131 saham menguat, sementara 105 saham stagnan. Volume perdagangan tercatat mencapai 16,496 miliar saham dengan frekuensi transaksi menembus 1,07 juta kali dan nilai transaksi sebesar Rp8,174 triliun. Sementara itu. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) turut menyusut menjadi Rp10.660,770 triliun.
Kiwoom Sekuritas Indonesia, dalam riset hariannya, menyebut tren pelemahan IHSG sejak kemarin terjadi di tengah pergerakan pasar global yang cenderung beragam.
Wall Street, misalnya, ditutup menguat pada perdagangan Rabu waktu AS seiring meredanya volatilitas pasar dan turunnya harga minyak dunia. Indeks Dow Jones terpantau naik 1,31 persen ke level 50.009,35, S&P 500 menguat 1,08 persen ke 7.432,97, dan Nasdaq melonjak 1,54 persen. Penguatan tersebut dipicu rebound sektor teknologi, industri, dan barang konsumsi setelah harga minyak mentah turun lebih dari 5 persen sehingga meredakan kekhawatiran inflasi energi dan tekanan suku bunga tinggi.
Selain itu, aham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI) dan pusat data juga kembali menjadi motor penguatan bursa AS. Super Micro Computer melesat 9,49 persen, sementara Enphase Energy melonjak 13,67 persen. Di sisi lain, saham energi seperti Chevron turun 3 persen sejalan dengan koreksi harga minyak.
Kiwoom menyebut sentimen pasar global membaik lantaran koreksi harga energi mengurangi kekhawatiran lonjakan inflasi global akibat konflik Timur Tengah dan gangguan pasokan energi.
Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati arah negosiasi Amerika Serikat dan Iran serta potensi kebijakan suku bunga tinggi lebih lama oleh Federal Reserve (The Fed). Sebelumnya, lonjakan imbal hasil obligasi global sempat menekan saham teknologi dan saham berbasis pertumbuhan.
Dari kawasan Asia, mayoritas bursa justru bergerak melemah. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 1,23 persen dan Topix melemah 1,53 persen akibat tekanan pada saham teknologi di tengah kenaikan imbal hasil obligasi Jepang. Di Korea Selatan, KOSPI terkoreksi 0,86 persen karena tekanan pada sektor semikonduktor dan potensi aksi mogok pekerja Samsung Electronics. Sementara itu, Shanghai Composite China turun 0,18 persen setelah bank sentral China mempertahankan suku bunga acuannya.
Adapun harga minyak dunia terkoreksi tajam setelah pasar melihat peluang meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Brent crude turun 6,47 persen ke 104,85 dolar AD per barel, sedangkan WTI crude melemah 5,78 persen ke$98,35 dolar AS per barel.
"Di tengah kondisi tersebut, investor domestik masih mencermati arah kebijakan Bank Indonesia, stabilitas rupiah, dan dinamika pasar obligasi global yang dalam beberapa hari terakhir memicu volatilitas di pasar keuangan Indonesia," jelas tim riset Kiwoom Sekuritas Indonesia dalam risetnya.
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id







































