tirto.id - Program Sekolah Rakyat yang merupakan inisiatif Presiden Prabowo Subianto akan segera diluncurkan pada bulan ini. Berbagai fasilitas pendukung kegiatan belajar mengajar hampir seluruhnya telah diselesaikan sesuai jadwal.
Dalam program Indonesia Bicara TVRI bertajuk "Sekolah Rakyat: Harapan Baru Pendidikan Merata", Wakil Menteri Sosial RI, Agus Jabo Priyono, menjabarkan kesiapan dari sisi kurikulum, tenaga pengajar, hingga infrastruktur.
"Untuk Sekolah Rakyat ini yang mempersiapkan bukan hanya Kemensos, tapi lintas kementerian. Alhamdulillah progresnya sesuai target," ujarnya.
Ia menyebutkan bahwa salah satu sekolah yang berada di Magelang telah mencapai kesiapan hingga 98 persen.
"Gedung, guru, siswa, kepala sekolah sudah siap. Rencananya 14 Juli mulai masa orientasi sebelum launching oleh Presiden," urainya.
Menurut Agus Jabo, meskipun data keluarga miskin tersebar di berbagai wilayah Indonesia, lokasi sekolah rintisan untuk tahap awal difokuskan di gedung-gedung milik Kementerian Sosial yang mayoritas berada di Pulau Jawa dan Sumatera.
“Penduduk miskin itu berada di Jawa, tetapi untuk sekolah rintisan ini, karena ini harus dipersiapkan secara cepat dan tidak mungkin membangun dari nol, kita menggunakan gedung-gedung yang sudah ada milik Kemensos, seperti sentra dan Pusdikkat. Mayoritas memang berada di Jawa dan Sumatera,” terangnya.
Ia menambahkan bahwa pada tahap selanjutnya, pembangunan sekolah permanen akan didistribusikan secara merata ke seluruh wilayah Indonesia. Saat ini, Kemensos sedang memverifikasi lahan-lahan usulan dari pemerintah daerah sebelum menyerahkannya kepada Kementerian Pekerjaan Umum untuk dilakukan penilaian teknis.
“Presiden maunya ideal itu lahannya 8,2 hektare, minimal 5 hektare. Harus milik pemerintah, tidak di daerah rawan bencana, kontur tanahnya juga harus sesuai,” tambahnya.
Agus Jabo menekankan bahwa pendirian Sekolah Rakyat bertujuan untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Berdasarkan data yang ada, sebagian besar keluarga miskin tidak mampu membiayai pendidikan anak-anak mereka.
“Pak Presiden ingin supaya dengan Sekolah Rakyat ini bisa memutus transmisi kemiskinan. Semua anak Indonesia harus sekolah, sehat, pintar. Kalau orang tuanya tukang becak, anaknya tidak harus jadi tukang becak,” katanya.
Program ini juga mendapat sambutan emosional dari masyarakat penerima manfaat. Agus Jabo mengungkapkan bahwa banyak orang tua merasa sangat terharu mengetahui anak mereka akan bisa kembali mengenyam pendidikan.
“Mereka rata-rata bilang sambil menangis, tidak ingin anaknya bernasib sama. Bahkan di Temanggung, saking bahagianya sampai sujud di kaki Pak Menteri,” tutur Agus Jabo.
Pemerintah telah menyiapkan anggaran sekitar Rp2 triliun untuk mendukung pelaksanaan program ini. Estimasi kebutuhan biaya untuk pembangunan satu sekolah permanen, termasuk operasionalnya, mencapai Rp200 miliar.
Untuk saat ini, sekolah rintisan menggunakan fasilitas yang telah ada dan dilakukan renovasi seperlunya. Kapasitas sementara masih terbatas, misalnya hanya empat ruang kelas. Nantinya, siswa-siswa dari sekolah rintisan akan dipindahkan ke sekolah permanen yang memiliki kapasitas lebih besar.
“Kalau lahan itu milik Kemensos, nanti bisa dilanjutkan sebagai sentra layanan sosial. Kalau milik Pemkab/Pemkot bisa difungsikan untuk layanan sosial daerah,” jelasnya.
Ke depan, Sekolah Rakyat dirancang untuk menggunakan sistem asrama (boarding school), yang mencakup jenjang SD, SMP, dan SMA dalam satu lokasi terpadu. Setiap sekolah ditargetkan mampu menampung minimal 1.000 siswa.
“Rencananya satu rombel 25 siswa, kebutuhan gurunya sekitar 1.544 guru untuk 100 titik. Kalau SD 600, SMP 300, SMA 300, bisa 1.200 siswa dalam satu lokasi,” kata Agus Jabo.
“Bayangkan kalau nanti ada 500 sekolah dengan masing-masing 1.000 siswa, kita akan punya 500 ribu anak-anak unggulan yang berasal dari keluarga miskin,” tutupnya.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id

































