Sejarah G. Kolff & Co, Penerbit Paling Sukses Era Kolonial

Gedung G Kolff & Co di Batavia sekitar tahun 1890. Tropenmuseum, part of the National Museum of World Cultures/Wikimedia Commons)
Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 8 Agustus 2020
Dibaca Normal 5 menit
Penerbit G. Kolff & Co jadi perusahaan sukses pada awal abad ke-20. Eksistensinya berakhir diterpa gelombang nasionalisasi.
Di antara anggota Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia (Persagi), pelukis S. Sudjojono paling bersemangat. Meskipun bukan ketua, tapi dalam organisasi yang berdiri pada 23 Oktober 1938 itu dia bak ideolog. Sudjojono selalu percaya kualitas para pelukis bumiputra tak kalah dari pelukis-pelukis Barat yang berkarya di Hindia Belanda.

Setelah setahun berdiri dan merasa cukup berlatih, Sudjojono dan kawan-kawan lalu menggagas pameran bersama. Tak tanggung-tanggung, mereka menetapkan pameran akan digelar di Kunstkring—gedung kesenian paling prestisius di Hindia Belanda kala itu. Maka, dengan modal 36 lukisan, Persagi mengirim proposal kepada pengelola Kunstkring.

Beberapa waktu kemudian Persagi menerima surat penolakan dari sekretaris Kunstkring, De Loos Haaxman. Alasannya, pengelola tak bisa menyewakan tempatnya untuk pelukis-pelukis yang belum ketahuan mutunya. Penolakan itu membuat Sudjojono muntab.

“Langsung di surat itu juga saya beri catatan tinta merah bahwa mereka akan kecewa dan menyesal lusa atau besok tentang penolakan mereka itu,” kenang Sudjojono dalam memoar Cerita tentang Saya dan Orang-orang Sekitar Saya (2017, hlm. 62).


Sudjojono bahkan menganggap penolakan itu sebagai tamparan bagi pelukis bumiputra. Dia ingin menunjukkan bahwa lukisan anak-anak Persagi tak kalah mutunya dari pelukis Barat. Tujuannya kini bukan sekadar unjuk gigi, tapi merebut kehormatan.

Sebagai alternatif, Persagi lantas menyewa galeri milik firma G. Kolff & Co. Bagi Persagi, komisi yang diminta firma itu—sebesar 25 persen per lukisan terjual—masih masuk akal. Maka jadilah Persagi menggelar pamerannya yang pertama pada pertengahan 1940.

Dendam Sudjojono kepada Kunstkring, terutama sekeretaris Haaxman, terbalas di malam pembukaan pemeran. Banyak kalangan elite Batavia hadir, juga beberapa kritikus seni dari berbagai surat kabar. Lebih memuaskan lagi, mereka memberi apresiasi positif terhadap karya-karya pelukis Persagi.

“Dari itu saya tak heran dengar Ny. Loose Haaxman datang lebih-kurang 7 kali ke pameran Persagi ini,” kata Sudjojono bangga (hlm. 63).

Persagi tak salah memercayakan manajemen pameran pertama mereka kepada G. Kolff & Co. Firma ini memang berpengalaman dalam mengelola pameran seni. Pelukis terkenal Hindia Belanda Ernst Dezentje, misalnya, pernah menggelar pameran di galeri G. Kolff & Co pada 1936. Gubernur Jenderal B.C. de Jonge pun turut hadir dalam pameran itu. Jadi, boleh dikata prestisenya tak kalah jauh dari Kunstkring.

Tak sekadar menyewakan tempat, G. Kolff & Co mengurus hampir semua keperluan pameran. Mulai dari urusan promosi, undangan, keamanan, tata pameran, hingga penerimaan tamu. “Mereka punya pengalaman, kita tidak,” tutur Sudjojono.

G. Kolff & Co memang bukan firma biasa. Mereka adalah perusahaan percetakan, penerbitan, dan jaringan toko buku paling terkenal di Hindia Belanda, juga masuk dalam empat besar produsen kartu pos di era kolonial—bersama Visser & Co, Tio Tek Hong, dan F.B. Smits.


Lahirnya Percetakan Partikelir

Cikal bakal firma ini adalah sebuah toko buku di Buiten Nieuwport Straat (kini Jalan Pintu Besar Selatan) yang didirikan pengusaha Belanda Willem van Haren Noman pada 1848. Usaha toko buku saat itu terbilang baru di Hindia Belanda. Namun cukup menjanjikan karena meluasnya pendidikan sejak Gubernur Jenderal Van der Capellen mengeluarkan aturan tentang kewajiban pemerintah menyediakan fasilitas pendidikan bagi anak-anak bumiputra pada 1818.

Iklim perbukuan di Hindia Belanda juga mulai tumbuh dengan adanya perusahaan percetakan milik pemerintah, Landsdrukkerij. Dibangun pada 1809, Landsdrukkerij menjadi badan penerbitan penting pemerintah Hindia Belanda. Ia memonopoli pencetakan surat kabar resmi pemerintah, De Javasche Courant dan Het Staatblad van Nederlandsch Indie, serta publikasi-publikasi resmi pemerintah.

Menurut Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya jilid I (2018), keadaan itu mulai berubah sekitar 1820-an. Saat itu usaha-usaha penerbitan dan percetakan partikelir mulai bergeliat di luar Batavia. Umumnya percetakan partikelir itu dimiliki oleh pengusaha Eropa dan Tionghoa.

“Setelah tahun 1840, banyak percetakan swasta didirikan di kota-kota besar,” tulis Lombard (hlm. 184). Peluang pasar perbukuan inilah yang dimanfaatkan oleh Van Haren Noman.

Usahanya mulai berkembang ketika Gualtherus Johannes Cornelis Kolff datang dari Belanda pada 1850 untuk membantunya. Keduanya lalu membentuk kongsi bernama Van Haren Noman & Kolff.

“Pada 1853 ia menjadi mitra Van Haren Noman yang empat tahun kemudian pulang ke Eropa tersebab sakit. Usai pulih ia memutuskan untuk tetap di Eropa dan pensiun berbisnis,” tulis Steven Wachlin dalam Woodbury & Page: Photographers Java (1989, hlm. 43).

Maka, sejak itu Kolff mengambil alih bisnis rintisan Haren Noman dan mengubah nama usahanya menjadi G. Kolff & Co.

Sepuluh tahun beroperasi, skala bisnis Kolff pun membesar. Itu bersamaan dengan mekarnya “masa pencerahan” di Hindia Belanda. Di tambah lagi sekolah-sekolah mulai berdiri di antero Jawa—kondisi yang sangat mendukung bagi pertumbuhan bisnis perbukuan.

Pada 1860, Kolff membeli sebuah bangunan di sudut selatan Pasar Pisang yang kini dikenal sebagai Jalan Kali Besar Timur III. Ia lalu memindahkan kantor dan toko bukunya ke sana. Pasalnya, toko lama di Buiten Nieuwpoort Straat tidak cukup lagi menampung aktivitas bisnisnya.

Mikihiro Moriyama dalam Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19 (2013) menyebut di paruh kedua abad ke-19 itu firma Kolff ikut berperan dalam perkembangan pendidikan melalui penerbitan buku pengajaran berbahasa lokal di berbagai daerah. Di tatar Priangan, misalnya, Kolff menerbitkan buku-buku berbahasa Sunda melalui cabangnya di Bandung yang berdiri pada 1897. Di ceruk ini firma Kolff mesti bersaing dengan penerbit partikelir lain seperti Lange & Co., G.C.T. van Dorp, dan Albrecht & Co.

“Penerbit-penerbit itu juga menerbitkan ratusan buku dalam berbagai bahasa, tampaknya perdagangan mereka mendatangkan keuntungan karena mereka tetap bertahan dalam bisnis ini,” tulis Moriyama (hlm. 115).


Masa Jaya

Firma Kolff tidak hanya menerbitkan buku-buku pengajaran. Sejauh yang bisa ditelusuri, Kolff juga menerbitkan cacatan perjalanan, laporan penelitian, sains populer, etnografi sosial, sejarah, hingga panduan pertanian. Lain itu, Kolff juga mencetak segala macam produk grafis yang bisa mendatangkan keuntungan.

"G. Kolff & Co mencetak buku, kartu pos, dan koran, yaitu Java Bode (1850), yang berafiliasi dengan koran di Semarang, De Locomotief, dan Het Soerabaiasche Handlesblad di Surabaya," ujar kolektor kartu pos kuno dan penekun sejarah Scott Merrillee sebagaimana dikutip Kompas (23 November 2015).

Seturut penulis buku Greeting from Jakarta: Postcards of a Capital 1900-1950 itu, firma Kolff punya andil pula menerbitkan Bataviaasch Handelsblad. Diterbitkan pertama kali pada 1885, koran itu didaku sebagai surat kabar pertama yang terbit harian di Batavia. Koran perdagangan ini bertahan setidaknya setengah abad.

Bisnis firma Kolff makin membesar lagi menjelang pergantian abad. Demi mendekatkan diri dengan target pasarnya di daerah perluasan kota yang baru di Weltevreden, G. Kolff & Co membuka cabang baru di Noordwijk (kini Jalan Juanda) pada September 1894. Menyusul kemudian cabang-cabang baru di beberapa kota di Jawa, seperti Bandung, Cirebon, Yogyakarta, Semarang, Madiun, Kediri, Surabaya, Malang, dan Jember.

"G. Kolff & Co kemudian menjadi pencetak buku-buku pendidikan di Hindia Belanda dan menjadi produsen terbesar kartu pos Batavia pada awal abad ke-20. Foto-foto dalam kartu pos itu sangat bermanfaat untuk melihat topografi Jakarta pada abad tersebut," ujar Merrillees.



Pada 1930, Ratu Belanda memberikan hak pada Kolff untuk menggunakan label “Koninklijke”. Sejak itu, nama resmi perusahaan pun berubah jadi NV Koninklijke Boekhandel en Drukkerij G. Kolff & Co. Bisnisnya pun makin menguntungkan kala Pemerintah Hindia Belanda memberinya kontrak untuk mencetak bandrol cukai tembakau dua tahun berselang.

Lain itu, firma ini juga menangani beberapa proyek penerbitan penting. Salah satu proyek prestisius yang pernah dikerjakan firma Kolff adalah memoar Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat. Bangsawan Sunda kelahiran Pandeglang, 16 Agustus 1877, itu bukan orang sembarangan. Ia pernah menjabat bupati Serang, Batavia, dan anggota Volksraad.

Semula, Balai Pustaka yang diserahi mandat mengerjakan proyek memoar ini. Manajemen Balai Pustaka lantas mengajak Kolff berkolaborasi. Mengingat status sosial Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat, Kolff bersedia menerima ajakan itu. Alasannya, tentu untuk memoles citra perusahaan.

“Balai Poestaka tidak akan melakukan produksi-bersama seperti itu kalau penerbit counter-partnya dan penulis naskahnya tidak dinilai tangguh,” tulis Polycarpus Swantoro dalam Dari Buku ke Buku: Sambung Menyambung Menjadi Satu (2016, hlm. 62).

Naskah memoar ini mulai ditulis oleh Pangeran Achmad Djajadiningrat sejak pertengahan 1933. Butuh sekitar tiga tahun hingga hingga memoar ini akhirnya terbit dalam dua edisi bahasa, Melayu dan Belanda, pada 1936.

Dalam proyek itu Kolff dapat jatah sebagai penyunting. Tugas penyuntingan itu dilakukan oleh Diet Kramer atas permintaan firma Kolff. Dari naskah awal yang tebalnya mencapai 1000 halaman folio, firma Kolff menyuntingnya hingga separuhnya. Diet Kramer lalu ikut menulis kata pengantarnya.

“Buku Pangeran Achmad Djajadiningrat itu termasuk genre karya-tulis yang masih langka di Indonesia sebelum Perang Dunia II,” tulis Swantoro (hlm. 65).


Berujung Nasionalisasi

Pamor firma Kolff meredup sejak kedatangan tentara Jepang pada 1942. Operasinya tetap berjalan meskipun tertatih-tatih. Pada akhir 1945, Kolff disebut jadi pencetak Oeang Republik Indonesia (ORI). Serikat buruh percetakannya terlibat dalam usaha ini atas instruksi Menteri Keuangan A.A. Maramis.

Tim serikat buruh G. Kolff di Jakarta selaku tim pencari data, mencari percetakan dengan teknologi yang relatif modern di Jakarta mengusulkan G. Kolff di Jakarta dan percetakan Nederlands Indische Mataaalwaren en Emballage Fabrieken (NIMEF) di Malang sebagai calon percetakan yang memenuhi persyaratan,” tulis laman Kemenkeu.

Aktivitas G. Kolff & Co diperkirakan berjalan normal lagi ketika perang kemerdekaan usai. Beberapa buku yang terbit jadi tengaranya. Pada 1950, misalnya, firma ini menerbitkan Hikayat Bachtiar karya Abdul Muis. Johannes Leimena juga diketahui menerbitkan buku Dokter dan Moral serta Membangun Kesehatan Rakyat melalui G. Kolff & Co pada 1951. Selain penerbitan, percetakan, dan toko buku, firma Kolff pun diketahui memiliki pabrik tinta.

Eksistensi G. Kolff & Co meredup tatkala gelombang nasionalisasi perusahaan Belanda menerpa pada akhir 1957. Namun, proses nasionalisasi G. Kolff & Co baru dilaksanakan dua tahun kemudian.

Melalui terbitnya PP No. 50/1959, pemerintah memasukkan G. Kolff & Co dalam daftar 18 perusahaan grafika yang dinasionalisasi. Seluruh anak perusahaan firma Kolff seperti Kolff’s Inkt Fabriek (pabrik tinta) dan Nordhoff Kolff (penerbit), serta cabang perusahaan di Surabaya diambilalih. Semuanya lalu ditampung oleh Badan Penyelenggara Perusahaan Industri dan Tambang (BAPPIT).

Pada 1962, firma Kolff dan anak usahanya itu dilebur menjadi PN Gita Karya yang bergerak di bidang percetakan, penerbitan, dan pabrik tinta.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight