tirto.id - Di tengah dinamika ekonomi nasional, beberapa sektor di Indonesia tetap menjadi pilar utama yang menopang pendapatan negara dan menyediakan jutaan lapangan kerja. Salah satunya adalah industri tembakau yang memiliki kontribusi ekonomi skala gigantis. Pada 2024, industri ini menyumbang lebih dari Rp216 triliun hanya melalui cukai hasil tembakau, menjadikannya salah satu penyumbang pendapatan terbesar bagi negara.
Tidak hanya itu, industri tembakau ini menciptakan efek berantai yang luas. Jika dunia gastronomi mengenal istilah farm to table untuk menggambarkan rantai industri yang panjang dari lahan pertanian hingga meja makan, begitu juga di industri tembakau.
Dari perkebunan tembakau dan cengkih di pelosok Jawa, Lombok, juga Sumatera; pelinting, hingga toko kelontong di sudut gang di Indonesia, semua merupakan bagian penting dari mata rantai industri padat karya ini. Kementerian Perindustrian mencatat pada 2019 bahwa industri ini menyerap lebih dari 5,9 juta tenaga kerja, baik langsung maupun tak langsung.
Salah satu perusahaan di industri hasil tembakau adalah PT HM Sampoerna Tbk. (Sampoerna). Dengan sejarah lebih dari satu abad, perusahaan ini bukan hanya pemimpin di industri tembakau, tetapi juga memiliki komitmen untuk berkembang dan maju bersama Indonesia melalui investasi berkelanjutan, hilirisasi, inovasi, penyerapan tenaga kerja, pengembangan sumber daya manusia, ekspor, dan penciptaan nilai tambah untuk mendukung target pemerintah dalam mencapai pertumbuhan ekonomi 8%.
Sampoerna terus beradaptasi dengan perubahan zaman, memastikan bahwa kontribusinya bagi Indonesia tetap relevan—baik secara ekonomi maupun sosial. Dari investasi miliaran dolar hingga inovasi produk yang berorientasi pada keberlanjutan, Sampoerna menunjukkan komitmen kuat terhadap masa depan Indonesia.
Menopang Sejak 1913
Didirikan oleh Liem Seeng Tee dan Siem Tjiang Nio, pasangan suami istri yang merantau dari Fujian, Tiongkok, Sampoerna adalah pengejawantahan dari kerja keras dan mimpi. Dengan pengalaman melinting di kawasan Lamongan, mereka kemudian meracik sendiri resep produknya.
Pada 1913, di bawah nama Handel Maatschappij Liem Seeng Tee, pasangan ini menjual produknya dengan resmi. Sejak awal memulai bisnisnya, mereka sudah punya apa yang disebut Falsafah Tiga Tangan, sebuah panduan yang merangkul semua pemangku kepentingan: konsumen dewasa, karyawan, mitra usaha dan pemegang saham, serta masyarakat luas, termasuk pengusaha UMKM Indonesia.
Ada banyak momen menentukan dalam sejarah Sampoerna. Liem sempat dipenjara karena ikut dalam kelompok pejuang yang berperang melawan Belanda. Tapi hukuman penjara tak membuatnya jera. Dia tetap ikut berjuang hingga Indonesia merdeka pada 1945. Dari sejarah panjang lebih dari 111 tahun, sejarah Sampoerna senantiasa tidak lepas dari sejarah Indonesia.
Komitmen Dilanjutkan
Sebagai industri padat karya, Sampoerna memiliki 9 fasilitas produksi dan bermitra dengan 43 Mitra Produksi Sigaret (MPS) yang dimiliki oleh koperasi dan pengusaha daerah yang tersebar di Pulau Jawa, yang mempekerjakan – secara langsung dan tidak langsung – lebih dari 90.000 karyawan, dengan mayoritas karyawan terlibat dalam produksi Sigaret Kretek Tangan (SKT).
Dengan sifatnya yang padat karya ini, tidak heran jika industri SKT disebut sebagai solusi untuk penyerapan tenaga kerja, termasuk bagi pekerja yang tidak memiliki latar belakang pendidikan tinggi. Hal ini ditegaskan melalui hasil studi yang dilakukan oleh Universitas Airlangga pada tahun 2024. Studi ini dilakukan di dua lokasi produksi, yaitu di pabrik produksi SKT Sampoerna di Blitar dan MPS di Dander, Bojonegoro. Pabrik MPS ini dimiliki oleh Koperasi Karyawan Redryng Bojonegoro (Kareb) melalui PT Kareb Alam Sejahtera.
Di kedua fasilitas produksi yang baru dibuka tahun 2024 itu, diketahui bahwa mayoritas (73 persen) pekerja SKT di sana merupakan lulusan SMA/sederajat atau lebih rendah. Yang menarik, 27 persen sisanya adalah pekerja yang telah menempuh pendidikan tinggi. Ini menunjukkan potensi industri SKT untuk juga menjadi solusi terhadap surplus tenaga kerja lulusan sarjana yang ada di Blitar dan Bojonegoro.
Berdasarkan laporan Universitas Airlangga, para pekerja ini tertarik untuk bekerja di industri SKT karena beberapa faktor, misal jaminan untuk menjadi karyawan tetap, berbagai manfaat yang ada selain gaji, hingga lokasi yang dekat dengan rumah dan keluarga. Faktor terakhir menjadi keunikan tersendiri. Sebab, banyak dari para pekerja itu sebelumnya merantau ke kota-kota lain. Dengan kembalinya mereka ke kota asal, tentu perputaran roda ekonomi di daerah akan turut terbantu.
Ditambah, pekerja-pekerja di pabrik SKT Sampoerna di Blitar dan MPS Dander di Bojonegoro ini memperoleh upah yang layak. Bahkan, jika dibandingkan dengan upah pekerja di sektor industri pengolahan yang terletak di dua kota itu berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional 2023, upah pekerja Sampoerna 18 persen lebih tinggi. Padahal, industri SKT Sampoerna di Blitar dan Bojonegoro baru berdiri selama 4-5 bulan ketika survei Universitas Airlangga dilakukan. Sedangkan tenaga kerja industri pengolahan dalam Survei Angkatan Kerja Nasional tersebut telah bekerja rata-rata selama lebih dari 9 tahun.

Maka tak heran, kalau 97 persen pekerja Sampoerna di dua kota itu melaporkan kondisi keuangan dan ekonomi keluarganya membaik. Salah satu indikasinya, 81 persen pekerja merasa percaya diri bisa menyekolahkan semua anaknya hingga perguruan tinggi.
Lagi-lagi, ini adalah komitmen yang terus dipegang teguh oleh Sampoerna. Mereka selalu ingin yang terdepan dalam urusan meningkatkan kesejahteraan karyawannya.
Tidak hanya itu, keberadaan pabrik SKT Sampoerna dan MPS ini bagai durian runtuh bagi perekonomian di Blitar dan Bojonegoro. Tidak hanya karyawannya yang lebih sejahtera, masyarakat sekitar pun mendapat berkah.
Bagaimana tidak, seiring penyerapan tenaga kerja yang tinggi, dan tingkat upah yang juga amat layak, keberadaan pabrik SKT menjadi pintu rezeki bagi para warga lain. Toko kelontong dan warung bermunculan, begitu halnya para pedagang kaki lima yang berjubel dan laris manis. Belum lagi bisnis kos-kosan dan jasa transportasi yang menjadi kebutuhan para tenaga kerja. Semua memperoleh cipratan manisnya dari keberadaan pabrik SKT di Blitar dan Bojonegoro.
Dalam survei yang dilakukan tim Universitas Airlangga, para peneliti juga menemui para pemilik usaha di kawasan Blitar dan Bojonegoro. Para pengusaha UMKM ini mengakui bahwa industri SKT adalah pertimbangan utama dalam membuka usaha. Di sisi lain, mereka juga mengutarakan kekhawatiran jika pabrik-pabrik ini tutup, usahanya akan terdampak mulai dari penurunan omzet hingga berkurangnya konsumen. Terlebih, 68 persen dari mereka menyatakan akan kesulitan membuka usaha baru jika pabrik dan industri SKT tutup.
Konsisten Memberdayakan UMKM
Sampoerna juga konsisten untuk menghadirkan ruang lapang bagi UMKM agar terus berkembang. Ini tak lepas dari sejarah Sampoerna yang berawal dari usaha mikro yang dimulai oleh dua orang saja, kemudian perlahan berkembang, melewati segala jatuh bangun usaha kecil, dan lantas jadi besar seperti sekarang.
Beberapa program seperti Sampoerna Retail Community (SRC) dan Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC) adalah bukti nyata komitmen Sampoerna dalam mengembangkan UMKM hingga ke batas terjauh.
Ismiyati adalah salah satu pengusaha UMKM binaan Sampoerna yang berhasil menggapai mimpi terjauh itu.
Pada April 2024, Ismiyati yang berasal dari Semarang, berhasil menjadi juara dalam ajang Saf-Instant Birthday Bread Challenge yang diadakan di Paris, Perancis. Kemenangan merek Super Roti milik Ismiyati ini menyisihkan 3.500 peserta dari 150 negara, termasuk Perancis, negara yang sering dianggap adiluhung perkara urusan roti dan pastry.
Keberhasilan Ismiyati tentu terdiri dari banyak faktor. Selain keunggulan kualitas produk dan inovasinya yang memakai bekatul (bagian kulit halus di beras), Ismiyati juga mendapat banyak dukungan dari Sampoerna.
"Jadi SETC mendukung saya menang di Perancis kemarin. Karena saya tidak bisa Bahasa Inggris, SETC membantu sarana dan prasarana, termasuk membuatkan brosur sehingga saya pede saat diundang ke kedutaan Indonesia di Paris untuk mengenalkan roti bekatul,” tutur Ismiyati.
Tak hanya mendapat penghargaan kelas dunia, omzet Ismiyati pun melonjak drastis sejak mengikuti pelatihan dari SETC. Bekal pelatihan ini membuat omzetnya naik hingga 60 persen.
Begitu pula para pemilik toko kelontong yang ikut dalam jaringan SRC. Wirdani Nasution, misalnya. Pemilik SRC Rizky yang berada di Tangerang ini mendapat banyak bekal sejak bergabung dengan SRC. Mulai dari penataan barang, manajemen stok barang, hingga digitalisasi.
Dimulai dari petakan dan toko kecil yang ia sewa pada 2004, mereka perlahan mendapat pemasukan lumayan. Mulai dari Rp7 juta hingga Rp8 juta per bulan. Ketika bergabung SRC pada 2018, perubahannya terlihat signifikan. Omzetnya naik drastis menjadi Rp12 juta hingga Rp15 juta per bulan. Dengan menabung laba usaha ini, sekarang Wirdani sudah bisa membeli rumah yang jadi satu dengan tokonya.
“Kami juga sudah membuat toko kedua, buat anak,” ujar Wirda.
Mulai dari toko kelontong, para pengrajin roti, hingga pembatik, Sampoerna percaya mereka dan pengusaha UMKM lainnya adalah salah satu tulang punggung perekonomian nasional. Mereka adalah pahlawan bangsa, yang sudah terbukti menyangga ekonomi Indonesia, termasuk ketika sedang mengalami krisis ekonomi.
Mendukung Mimpi Indonesia
Salah satu praktik yang konsisten dari Sampoerna adalah mendorong sumber daya manusia (SDM) untuk senantiasa berkembang. Para pucuk pimpinan Sampoerna sadar, bahwa pengembangan SDM adalah investasi penting bagi masa depan perusahaan dan negara ini,
Maka inovasi dan pengembangan SDM adalah langkah penting yang terus menerus dilakukan Sampoerna.
Salah satu hasilnya bisa dilihat ketika Sampoerna menginvestasikan lebih dari USD330 juta untuk inovasi produk tembakau inovatif bebas asap. Dari investasi ini, berdirilah pabrik produk tembakau inovatif bebas asap yang terletak di Karawang, Jakarta Barat. Ini adalah pabrik pertama Philip Morris International (PMI), induk perusahaan Sampoerna, di Asia Tenggara, dan ketujuh di dunia yang mempekerjakan 200 ilmuwan Indonesia berketerampilan tinggi dan berdedikasi terhadap ilmu pengetahuan.
Perkembangan Sampoerna jelas punya dampak besar terhadap kemajuan Indonesia.
Dari sektor pajak, Sampoerna telah berkontribusi Rp86,8 triliun untuk penerimaan negara dari pajak pada 2023. Ini masih didukung oleh investasi jangka panjang yang terus ditanam oleh Sampoerna. Sejak 2005, total investasinya di Indonesia sudah mencapai USD6,4 miliar.
Di tengah perkembangan dunia yang makin pesat, tapi sekaligus menimbulkan banyak tantangan, Sampoerna terus tumbuh, memberi manfaat, sekaligus tetap menjadi perusahaan yang bertanggung jawab. Ini disampaikan oleh Direktur Sampoerna, Elvira Lianita.
“Sampoerna percaya bahwa bisnis memiliki tanggung jawab untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Kami berkomitmen untuk bekerja sama dengan para pemangku kepentingan di perusahaan kami untuk terus berkontribusi dan menciptakan dampak positif di Indonesia,” tutur Elvira.
Apa yang dilakukan Sampoerna adalah angin sejuk bagi Indonesia yang sedang menghadapi banyak tantangan. Komitmen Sampoerna untuk terus menjadi salah satu pilar ekonomi nasional dan bagian dari kemajuan bangsa tecermin dari usaha konsisten membuka lebih banyak lapangan kerja, mengembangkan SDM, mendukung UMKM dan koperasi untuk naik kelas, dan melakukan ekspor, sembari menjalankan upaya untuk menjaga lingkungan.
Jika upaya ini terus didukung, dan sinergi terus menerus berjalan dengan baik, maka pertumbuhan ekonomi 8 persen dapat tercapai.
(JEDA)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id


































