Menuju konten utama

Saat Otak Mulai Lupa: Mengenal Sains di Balik Penyakit Alzheimer

Alzheimer merusak koneksi antarneuron di bagian otak yang terlibat dalam memori. Lalu memengaruhi area untuk bahasa, penalaran, dan perilaku sosial.

Saat Otak Mulai Lupa: Mengenal Sains di Balik Penyakit Alzheimer
Ilustrasi alzheimer [Foto/Shutterstock]
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Alzheimer secara perlahan menghancurkan ingatan dan kemampuan berpikir. Banyak area otak dan neuron di sekitarnya yang rusak dan berhenti berfungsi secara normal.

Pemeran Profesor Charles Xavier dalam serial X-Men, Patrick Stewart, dikabarkan meninggal dunia dalam usia 86 tahun pada hari Rabu, 28 Oktober 2026. Dia meninggal setelah melawan penyakit Alzheimer.

Patrick Hewes Stewart lahir 13 Juli 1940 di Mirfield, West Riding of Yorkshire. Ia banyak memenangkan penghargaan selama 6 dekade menjalani karier di dunia seni peran.

Menurut laporan BBC, Patrick Stewart meninggal di rumah pribadi di Los Angeles. Sang aktor mengidap Alzheimer dan Demensia Lewy Body, sebelum mengembuskan napas terakhir.

Tak hanya Patrick Stewart, penyakit Alzheimer selama ini kerap dialami aktor dan aktris global lain hingga menyebabkan kematian. Sebut saja Rita Hayworth, Charlton Heston, Gene Wilder, hingga Evelyn Keyes.

Apa Itu Penyakit Alzheimer?

Secara klinis, Alzheimer merupakan gangguan pada otak. Mengutip laman National Institute of Health (NIH), penyakit ini secara perlahan menghancurkan ingatan dan kemampuan berpikir.

Pada tahap lanjut, Alzheimer juga memengaruhi kemampuan untuk melakukan tugas-tugas paling sederhana. Penyakit ini merupakan bentuk demensia paling umum yang biasanya terjadi pada lansia.

Alzheimer menjadi penyebab demensia yang paling umum. Sebagaimana dijelaskan di laman NHS, penyakit Alzheimer dan jenis demensia lain meningkat seiring bertambahnya usia.

Ilustrasi lansia

Ilustrasi lansia. FOTO/iStockphoto

Diperkirakan, penyakit Alzheimer memengaruhi 1 dari 14 orang di atas usia 65 tahun. Ini juga terjadi pada 1 dari setiap 6 orang di atas usia 80 tahun.

Namun demikian, sekitar 1 dari setiap 13 orang yang menderita Alzheimer juga bisa berusia di bawah 65 tahun, atau kerap disebut sebagai penyakit Alzheimer onset dini atau onset muda.

Alzheimer dikenal sebagai penyakit yang membatasi harapan hidup. Meski demikian, banyak orang yang didiagnosis dengan kondisi ini meninggal karena penyebab lain.

Gejala dan Penyebab Alzheimer

Orang yang mengidap Alzheimer akan mengalami berbagai gejala, dari tingkat ringan hingga parah. Gejalanya pun bisa bervariasi dari satu orang ke orang lain.

Salah satu tanda pertama Alzheimer adalah masalah ingatan. Tanda tahap awal lainnya adalah penurunan aspek kognisi non-ingatan, seperti kesulitan memahami gambar visual dan hubungan spasial, serta gangguan penalaran atau penilaian.

Gejala bisa semakin parah seiring perkembangan penyakit, peningkatan kebingungan, dan perubahan perilaku. Seturut informasi dari laman NIH, Alzheimer biasanya berkembang secara klinis dalam beberapa tahap, yakni praklinis, ringan, sedang, dan berat.

Pada tahap praklinis, perubahan otak kompleks yang berkaitan dengan Alzheimer dimulai satu dekade atau lebih sebelum masalah ingatan dan berpikir muncul. Perubahan itu mencakup pembentukan plak amiloid atau kekusutan tau.

Menurut penjelasan Alzheimer's Society, tau selama ini dikenal sebagai penyebab demensia, termasuk yang paling umum Alzheimer. Tau termasuk protein yang diproduksi secara alami oleh sel-sel, mendukung struktur internal sel agar menjadi lebih kuat, dan sangat penting bagi sel-sel saraf.

Ilustrasi Lansia Jepang

Ilustrasi Lansia. foto/istockphoto

Sementara itu, pada tahap ringan atau yang juga sering disebut tahap awal, seseorang tampak sehat tapi semakin lama semakin kesulitan memahami dunia di sekitarnya.

Di tahap ini, kesadaran bahwa ada sesuatu yang salah sering kali datang secara bertahap. Orang dengan Alzheimer ringan mengalami kehilangan ingatan yang mengganggu kehidupan sehari-hari.

Mereka juga mengalami hilangnya spontanitas dan rasa inisiatif. Selain itu, terjadi pula penilaian buruk yang berujung keputusan salah. Tak jarang, kehilangan jejak tanggal atau tidak mengetahui lokasi terkini.

Penderita Alzheimer membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan tugas harian normal. Mereka mengulangi pertanyaan dan melupakan informasi yang baru saja dipelajari.

Belum lagi kesulitan mengelola uang dan membayar tagihan. Muncul pula tantangan dalam merencanakan atau memecahkan masalah. Orang dengan penyakit ini biasanya berkeliaran dan tersesat.

Ilustrasi Lansia Makan Sendiri

Ilustrasi Lansia. foto/istockphoto

Karena masalah ingatan, penderita sering kehilangan barang atau salah menaruh di tempat yang tidak lazim. Mereka juga kesulitan menyelesaikan tugas-tugas, seperti mandi.

Sering kali, penderita Alzheimer mengalami perubahan suasana hati dan kepribadian. Di tahap ini, kecemasan dan agresi meningkat. Biasanya, penyakit Alzheimer sering didiagnosis pada tahap ringan.

Memasuki tahap sedang, pengawasan dan perawatan yang lebih intensif mulai diperlukan. Gejalanya semakin parah, kebingungan dan kehilangan ingatan meningkat, seperti melupakan peristiwa atau sejarah pribadi.

Penderita Alzheimer menarik diri dari kegiatan sosial dan mengalami ketidakmampuan untuk mempelajari hal-hal baru. Mereka juga mengalami kesulitan berbahasa dan bermasalah dalam membaca, menulis, dan berhitung.

Selain itu, kesulitan dalam mengatur pikiran dan berpikir secara logis. Rentang perhatian dipersingkat dan sering mengalami masalah dalam menghadapi situasi baru.

Ilustrasi Pikiran Sadar dan Pikiran Bawah Sadar

Ilustrasi Pikiran Sadar dan Pikiran Bawah Sadar. foto/Istockphoto

Ada pula perubahan pola tidur, seperti tidur lebih banyak di siang hari dan gelisah di malam hari. Terkadang, kesulitan mengenali keluarga dan teman, serta mengalami halusinasi, delusi, dan paranoia.

Di tahap ini, penderita kesulitan melakukan tugas-tugas familiar yang terdiri dari beberapa langkah, seperti berpakaian. Mereka juga terkadang berperilaku impulsif dan mengalami ledakan emosi yang tidak pantas.

Sore atau malam hari, mengalami kegelisahan, agitasi, kecemasan, mudah menangis, hingga berkeliaran. Mereka juga mengalami pernyataan atau gerakan berulang, dengan kedutan otot sesekali.

Pada tingkat yang parah, penderita Alzheimer tidak bisa berkomunikasi dan sepenuhnya bergantung pada orang lain untuk perawatan. Gejala yang muncul biasanya tidak ada kesadaran terhadap pengalaman atau lingkungan sekitar.

Kemudian, penurunan berat badan dengan sedikit minat makan. Lalu penurunan kondisi fisik secara umum, termasuk masalah kulit, gigi, dan kaki. Penderita Alzheimer juga mengalami kejang dan kesulitan menelan.

Mereka mengerang, mendesah, atau mendengus. Meningkatkan waktu tidur dan kehilangan kendali buang air besar dan air kecil.

Ilustrasi buang air kecil

Ilustrasi buang air kecil. FOTO/freepik.com

Alzheimer bisa disebabkan oleh kombinasi perubahan usia di otak, bersama dengan faktor genetik, kesehatan, dan gaya hidup. Sebagian penderita Alzheimer adalah para lansia sehingga mengalami perubahan di otaknya.

Mengenai faktor genetik, sesuai penjelasan laman NIH, Alzheimer tidak memiliki penyebab genetik tunggal. Penyakit bisa dipengaruhi oleh banyak gen yang dikombinasikan dengan gaya hidup dan faktor lingkungan.

Seseorang mungkin membawa lebih dari satu varian genetik atau kelompok varian yang bisa meningkatkan atau mengurangi risiko penyakit Alzheimer. Mereka yang memiliki orang tua atau saudara kandung dengan diagnosis penyakit ini mempunyai risiko lebih tinggi daripada yang tidak.

Faktor di luar usia dan genetika bisa berperan dalam perkembangan penyakit Alzheimer. Kondisi medis lain yang terkait dengan risiko yang lebih tinggi mencakup gangguan pendengaran, depresi, gangguan kognitif ringan, dan gegar otak atau cedera otak traumatis lainnya.

Alzheimer juga turut dipengaruhi oleh gaya hidup, seperti merokok, minum alkohol, makan tidak sehat, jarang olahraga dan lainnya.

Saat Otak Digerogoti, Bagaimana Alzheimer Bisa Terjadi?

Perubahan usia di otak bisa merusak neuron, sebagaimana dijelaskan di laman NIH. Ini memengaruhi jenis sel otak lainnya sehingga berkontribusi pada kerusakan akibat Alzheimer.

Perubahan meliputi penyusutan bagian-bagian otak tertentu, peradangan, dan kerusakan pembuluh darah. Kemudian, terjadi produksi molekul tidak stabil yang disebut radikal bebas dan penurunan produksi energi dalam sel.

Otak biasanya menyusut sampai batas tertentu selama proses penuaan yang sehat. Namun, otak tidak kehilangan neuron dalam jumlah besar.

Ilustrasi Otak manuasia

Ilustrasi Otak manuasia. foto/istockphoto

Hal ini berbeda dengan penyakit Alzheimer. Kerusakan terjadi secara luas karena banyak neuron berhenti berfungsi dengan baik, lalu kehilangan koneksi dengan neuron lain, dan akhirnya mati. Alzheimer mengganggu proses-proses vital bagi neuron dan jaringannya, termasuk komunikasi, metabolisme, dan perbaikan.

Awalnya, Alzheimer merusak koneksi antarneuron di bagian otak yang terlibat dalam memori, termasuk korteks entorhinal dan hipokampus. Lalu memengaruhi area di korteks serebral yang bertanggung jawab untuk bahasa, penalaran, dan perilaku sosial.

Pada akhirnya, banyak area otak lain dan neuron di sekitarnya rusak dan berhenti berfungsi normal. Seiring waktu, orang dengan Alzheimer kehilangan kemampuan untuk hidup dan berfungsi secara mandiri sehingga penyakit ini bisa berakibat fatal.

Ilustrasi demensia

Ilustrasi Alzheimer. FOTO/iStockphoto

Baca juga artikel terkait ALZHEIMER atau tulisan lainnya dari Umu Hana Amini

tirto.id - GWS
Kontributor: Umu Hana Amini
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Beni Jo