Alzheimer & Demensia: Perbedaan, Gejala, Mitos, dan Fakta-Faktanya

Kontributor: Ai'dah Husnala Luthfiyyah Ans, tirto.id - 26 Agu 2022 11:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Berikut adalah penjelasan tentang perbedaan Alzheimer dan Demensia beserta mitos-mitos yang sering disalahpahami.
tirto.id - Saat berbicara tentang kehilangan memori atau penurunan kognitif, Alzheimer dan Demensia sering digunakan secara bergantian. Namun yang perlu ditekankan, Alzheimer dan Demensia mempunyai perbedaan.

Penyakit Alzheimer dan gejala awal yang dialami oleh penderita terkadang dapat menyebabkan perasaan frustrasi, marah, atau menarik diri dari pergaulan.

Stigma dan salah persepsi tentang penyakit Alzheimer dapat berdampak negatif pada interaksi sosial antara teman dan anggota keluarga serta penderita penyakit Alzheimer sendiri.


Perbedaan Alzheimer dan Demensia


Agar tidak salah dalam memahami penyakit ini, berikut ini ulasan lengkap mengenai Alzheimer sebagaimana dikutip dalam portal Alzheimer's Indonesia.

Meski penyakit Alzheimer seringkali disebut dengan Demensia, tetapi keduanya merupakan istilah yang berbeda.

Istilah Demensia mengacu pada adanya serangkaian gejala, seperti gangguan memori, pemikiran, penalaran, dan perilaku. Sedangkan Alzheimer hanyalah salah satu jenis Demensia saja.

Penyakit Alzheimer adalah penyebab paling umum dari Demensia. Selama sakit berlangsung, zat kimia dan struktur otak berubah sehingga menyebabkan kematian sel-sel otak.

Penyakit ini pertama kali dijelaskan oleh ahli saraf Jerman, yaitu Alois Alzheimer. Disebutkan bahwa penyakit ini merupakan penyakit fisik yang memengaruhi otak.

Selama berjalannya waktu penyakit protein plak dan serat yang berbelit berkembang dalam struktur otak yang menyebabkan kematian sel-sel otak. Orang dengan Alzheimer juga memiliki kekurangan beberapa bahan kimia penting dalam otak mereka. Bahan kimia ini terlibat dengan pengiriman pesan dalam otak.

Alzheimer adalah penyakit progresif, bertahap dari waktu ke waktu dan menyebabkan lebih banyak bagian otak yang rusak. Karena itulah gejala yang muncul menjadi lebih parah.

Berdasarkan laporan Fakta dan Angka 2022 Asosiasi Alzheimer dalam situs CNET, diperkirakan bahwa 6,5 ​​juta orang Amerika berusia 65 dan lebih tua hidup dengan Alzheimer pada tahun 2022.

Sejauh ini, tidak ada satu faktor utama yang telah diidentifikasi sebagai penyebab penyakit Alzheimer. Sangat mungkin bahwa kombinasi beberapa faktor mempengaruhi seperti usia, pembawaan genetik, faktor lingkungan, gaya hidup dan kesehatan umum. Pada beberapa orang, penyakit ini dapat berkembang diam-diam selama bertahun-tahun sampai gejalanya muncul.

Tidak ada obat untuk penyakit Alzheimer, tetapi perawatan dapat membantu memperlambat perkembangannya serta mengelola gejalanya.

Gejala Penyakit Alzheimer


Gejala Alzheimer yang berhasil dirangkum dari portal CNET mencakup kehilangan memori progresif, agitasi, kebingungan dan ketidakmampuan untuk mengenali teman dan keluarga.

Tanda dan gejala penyakit Alzheimer sangatlah bervariasi dari setiap individu. Pada tahap awal, penderita penyakit Alzheimer dapat mengalami kehilangan ingatan dan kesulitan kognitif lainnya. Mereka mungkin menunjukkan banyak gejala yang terkait dengan bentuk lain dari demensia, seperti tersesat, mengulang pertanyaan dan membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan tugas normal.

Ketika penyakit berkembang ke tahap sedang, kehilangan memori memburuk. Orang tersebut mungkin tidak dapat secara konsisten mengenali teman dan keluarga, menjadi mudah bingung atau gelisah, berperilaku impulsif dan lebih lanjut berjuang dengan penalaran dan pemikiran sadar.

Saat penyakitnya menjadi parah, jaringan otak orang tersebut telah menyusut secara signifikan dan mereka menjadi sepenuhnya bergantung pada pengasuh.



Kesalahpahaman Stigma Penyakit Alzheimer


Dilansir dari situs Medical News Today, di bawah ini adalah beberapa kesalahan persepsi umum tentang individu dengan Alzheimer yang harus diketahui oleh teman dan kerabat dekat individu dengan Alzheimer tahap awal.

  • Mengenali otonomi, penting untuk diketahui bahwa individu dengan Alzheimer masih mampu bertahan hidup mandiri dan terus memiliki tujuan yang mungkin ingin dicapai. Pengasuh dan anggota keluarga dapat membantu individu dengan Alzheimer merencanakan masa depan mereka dan mempertahankan kualitas hidup yang baik saat penyakit mereka berkembang.
  • Diagnosis Alzheimer tidak mendefiniskan seseorang, seseorang dengan Alzheimer tidak mengubah preferensi individu untuk melakukan aktivitas atau hubungan. Anggota keluarga harus dengan sabar mendengarkan individu dengan Alzheimer dan menghindari menggurui mereka.
  • Fluktuasi gejala, gejala seseorang dengan Alzheimer dapat berfluktuasi dari hari ke hari. Pada hari-hari tertentu, individu dengan AD dapat menunjukkan peningkatan fungsi kognitif dan suasana hati yang lebih baik. Sebaliknya, individu yang sama mungkin menunjukkan gejala yang lebih parah, yang melibatkan kecemasan, agitasi, lekas marah, dan peningkatan pengulangan kata-kata pada hari-hari yang buruk. Dengan demikian, anggota keluarga harus memahami bahwa perilaku tertentu bisa berada di luar kendali individu dengan Alzheimer dan harus bersabar dengan mereka.
  • Alzheimer awitan dini, meskipun penderita Alzheimer sebgain besar berusia di atas 65 tahun, individu yang lebih muda menyumbangkan sekitar 5-10% dari semua kasus. Individu dengan Alzheimer yang berada di bawah usia 65 tahun disebut dnegan Alzheimer dini. Persepsi bahwa Alzheimer adalah suatu kondisi yang hanya memengaruhi individu yang lebih tua menyebabkan individu yang lebih muda mengabaikan gejala Alzheimer dan menunda mencari bantuan yang diperlukan.
  • Komunikasi langsung, teman atau anggota keluarga mungkin tidak yakin tentang bagaimana harus bereaksi terhadap seseorang yang diagnosis dengan Alzheimer. Namun, percakapan langsung dengan orang dengan Alzheimer tentang kesehatan mereka lebih mungkin diterima sebagai perhatian.

  • Menghindari penghakiman, penolakan juga merupakan reaksi umum di antara teman dan anggota keluarga dari individu dengan diagnosis AD baru-baru ini. Penyangkalan ini dapat memanifestasikan dirinya dalam komentar yang menyinggung individu yang terlalu muda atau tampak berfungsi "normal" untuk didiagnosis dengan AD. Meskipun tidak bermaksud buruk, komentar seperti itu mungkin tampak meremehkan. Mereka mungkin mengabaikan perjuangan psikologis untuk mengatasi diagnosis yang dialami oleh individu dengan AD dan gangguan yang disebabkan oleh kondisi itu sendiri.
Selain itu, dalam situs Nia Nih, disebutkan 11 mitos mengenai penyakit Alzheimer, di antaranya adalah sebagai berikut.

  • Alzheimer dan Demensia adalah hal yang sama.
  • Alzheimer adalah penyakit genetik/keturunan.
  • Hanya orang berusia 70 tahun dan lebih tua yang terkena penyakit Alzheimer.
  • Gejala penyakit Alzheimer normal seiring bertambahanya usia.
  • Tidak ada perawatan untuk penderita penyakit Alzheimer.
  • Sering lupa pastilah bukan penyakit Alzheimer.
  • Membeli suplemen online untuk mencegah atau menyembuhkan penyakit Alzheimer.
  • Penyakit Alzheimer dapat dicegah.
  • Penyakit Alzheimer tidak dapat didiagnosis secara pastii sampai setelah kematian.
  • Tes genetik dapat meberi tahu apakah seseorang menginap Alzheimer.
  • Tidak ada yang dapat membantu melawan penyakit Alzheimer.
Hal-hal yang disebutkan di atas merupakan mitos yang kerap kali berderar. Oleh karena itu, perlu bagi setiap individu untuk mengetahui secara detail mengenai penyakit ini agar tidak salah dalam mendiagnosis maupun bertindak.


Baca juga artikel terkait DEMENSIA atau tulisan menarik lainnya Ai'dah Husnala Luthfiyyah Ans
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Ai'dah Husnala Luthfiyyah Ans
Penulis: Ai'dah Husnala Luthfiyyah Ans
Editor: Yulaika Ramadhani

DarkLight