tirto.id - Penyakit saluran cerna dan hati masih menjadi tantangan kesehatan yang signifikan di Indonesia. Keluhan kesehatan seperti penyakit hati kronis, sirosis, hepatitis, kanker hati, GERD, dan kelainan saluran empedu terus menunjukkan angka kejadian tinggi seiring perubahan pola hidup masyarakat. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat peningkatan bermakna pada prevalensi penyakit lambung dan GERD di wilayah perkotaan, sementara Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menempatkan penyakit hati kronis dan sirosis sebagai salah satu penyebab kematian tertinggi yang terkait organ dalam, menegaskan besarnya beban klinis kondisi ini.
Di samping itu, kasus fatty liver non-alcoholic atau kondisi penumpukan lemak pada organ hati kini juga semakin banyak ditemukan pada individu dengan obesitas, diabetes, dan sindrom metabolik. Sejumlah studi hepatologi menunjukkan bahwa metabolic dysfunction-associated fatty liver disease dapat berkembang menjadi peradangan kronis, fibrosis, sirosis, hingga kanker hati jika tidak ditangani dengan tepat. Peningkatan prevalensi obesitas di Indonesia dalam satu dekade terakhir ikut memicu tren kenaikan kasus penyakit hati yang berhubungan dengan metabolik.
Sementara itu, data dari Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2022 menempatkan kanker hati sebagai salah satu dari lima penyebab kematian akibat kanker terbanyak di Indonesia, dengan tren yang terus meningkat dalam sepuluh tahun terakhir. Ironisnya, sebagian besar pasien kanker hati di Indonesia baru terdiagnosis dalam stadium lanjut, saat pilihan terapi sudah lebih terbatas. Kondisi ini menimbulkan dampak klinis dan finansial yang besar, mulai dari keterlambatan penanganan, risiko komplikasi yang lebih tinggi, hingga meningkatnya angka rawat inap.
Situasi tersebut menegaskan pentingnya teknologi diagnosis yang presisi serta pendekatan penanganan gastroenterologi dan hepatologi yang lebih modern, yakni layanan yang lebih akurat dan presisi, lebih cepat, dan bersifat minimal invasive, sehingga penyakit dapat dideteksi lebih cepat dan progresi penyakit dapat dicegah sejak dini.
Sebagai respons terhadap kebutuhan tersebut, RS Pondok Indah Group menyelenggarakan forum ilmiah perdananya, RS Pondok Indah Clinical Excellence Forum. Mengusung tema ‘Precision, Progress, and Innovation in Gastroenterohepatology’, forum ini dirancang sebagai sarana pembaruan ilmiah, kolaborasi lintas disiplin, serta manifestasi komitmen RS Pondok Indah Group dalam menghadirkan layanan kesehatan modern berbasis bukti. Dalam forum ini, pakar-pakar nasional di bidang gastroenterologi dan hepatologi berbagi pengalaman, memaparkan teknologi terbaru, dan membahas pendekatan klinis yang semakin presisi.
“Penyakit saluran cerna dan hati berkembang cepat dalam aspek diagnosis maupun terapi, sehingga adaptasi dan pembaruan kompetensi menjadi kebutuhan yang mendesak bagi praktisi medis. Melalui penyelenggaraan kegiatan ini, kami ingin memfasilitasi para tenaga medis Indonesia untuk dapat memperbarui wawasan dan keterampilannya seiring dengan kemajuan ilmu terkini,” jelas dr. Yanwar Hadiyanto, MARS, Chief Executive Officer RS Pondok Indah Group.
Perkembangan teknologi kedokteran dalam bidang gastroenterologi dan hepatologi membuka peluang baru untuk revolusi klinis. Deteksi dini kanker hati dapat dilakukan menggunakan biomarker seperti PIVKA-II, visualisasi saluran empedu menjadi lebih detail dengan SpyGlass, sementara tindakan diagnostik sekaligus terapeutik pada saluran cerna dapat dilakukan secara minimal invasive menggunakan teknologi Endoscopic Ultrasound (EUS). Hadir pula teknologi Microwave Ablation yang dapat membantu membunuh sel keganasan pada organ hati tanpa pembedahan. Semua inovasi ini membantu dokter mencapai diagnosis yang lebih akurat dan memberikan terapi yang lebih efektif, sekaligus mengurangi risiko komplikasi dan mempercepat pemulihan pasien.
Prof. Dr. dr. Rino Alvani Gani, Sp. P.D, Subsp. G.E.H. (K), Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Gastroenterologi Hepatologi dari RS Pondok Indah – Pondok Indah, menegaskan pentingnya pendekatan presisi dalam penanganan modern yang juga didukung dengan tim medis kompeten.
“Di tengah meningkatnya kasus penyakit hati dan saluran cerna, deteksi dini dan diagnosis yang presisi menjadi kunci untuk mencegah progresi penyakit. Tahapan diagnostik yang komprehensif dengan pemanfaatan teknologi seperti EUS, biomarker PIVKA-II, SpyGlass, hingga penanganan keganasan dengan teknik ablasi modern memungkinkan terapi yang lebih terarah, aman, dan efektif,” ujarnya.
Forum yang didukung oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PGI), serta Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) ini dihadiri oleh sekitar 200 peserta lintas profesi medis, terutama dokter spesialis penyakit dalam dan dokter umum yang ingin memperbarui pengetahuan mereka terkait penyakit saluran cerna dan hati. Sesi simposium diisi oleh berbagai narasumber dengan menghadirkan topik-topik berbasis inovasi yang berkontribusi pada upaya peningkatan kualitas dan akses layanan kesehatan tanah air yang lebih baik. Peserta memperoleh kesempatan untuk mempelajari teknologi terbaru, memahami penerapannya dalam praktik klinis, serta berdiskusi mengenai tantangan diagnostik dan terapi yang sering ditemui.
Pada forum ini peserta juga berkesempatan untuk menyaksikan dua sesi Live Case Demo yang dilakukan oleh dua dokter RS Pondok Indah – Pondok Indah, yaitu Dr. dr. Hasan Maulahela, Sp. P.D, Subsp. G.E.H. (K) dan Prof. Dr. dr. Rino Alvani Gani, Sp. P.D, Subsp. G.E.H. (K). Live demo oleh dr. Hasan menampilkan pemanfaatan teknologi EUS Guided Intervention, sebuah teknik yang menggabungkan endoskopi dan ultrasonografi untuk mengakses area organ yang sulit dijangkau dengan teknologi konvensional. Teknologi ini memberikan visualisasi internal yang jauh lebih detail, akurasi tinggi, dan tindakan yang bersifat minimal invasive memungkinkan pemulihan pasien berlangsung lebih cepat. Pada live case demo kedua, Prof. Rino menunjukkan proses terapi pasien dengan tumor hati dengan pemanfaatan teknologi Microwave Ablation. Dengan teknologi ini, Prof. Rino menunjukkan pilihan terapi penanganan keganasan di organ hati yang lebih aman dan efektif bagi pasien, dengan durasi prosedur yang lebih singkat, kerusakan jaringan yang minimal, dan proses pemulihan lebih cepat.
Melalui forum ilmiah pertama yang dibuka untuk umum ini, RS Pondok Indah Group menempatkan landasan kuat bagi masa depan layanan gastroenterologi dan hepatologi yang lebih responsif, adaptif, dan selaras dengan kebutuhan kesehatan masyarakat Indonesia yang terus berkembang.
Menutup kegiatan, dr. Yanwar Hadiyanto, MARS, menyampaikan, “Kami berharap forum perdana ini memberikan dampak nyata, bukan hanya bagi peningkatan kompetensi tenaga medis, tetapi juga bagi masyarakat luas melalui layanan yang semakin akurat, modern, dan berbasis bukti. Ke depannya, kami ingin forum ini menjadi ruang diskusi berkelanjutan yang terus mendorong peningkatan kualitas layanan gastroenterologi dan hepatologi di Indonesia.”
Masuk tirto.id

































