Menuju konten utama

Rosan Sebut Persepsi Negatif Investor Jadi Tantangan Ekonomi RI

Untuk meningkatkan persepsi pasar, Danantara akan melakukan roadshow ke sejumlah pusat keuangan dunia.

Rosan Sebut Persepsi Negatif Investor Jadi Tantangan Ekonomi RI
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengikuti rapat kerja dengan Komisi XII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (13/4/2026). ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/YU
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pemerintah mengakui bahwa tantangan yang dihadapi perekonomian Indonesia dalam beberapa waktu terakhir bukan semata-mata persoalan fundamental ekonomi, melainkan berkaitan dengan persepsi investor terhadap kondisi dan arah kebijakan nasional. Bahkan, sentimen pasar berpengaruh lebih besar ketimbang pelemahan indikator ekonomi nasional.

Sebaliknya, fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang baik untuk jangka menengah dan panjang.

"Kalau kami melihatnya selama ini, ini kan sebetulnya lebih persepsi, lebih banyak karena persepsi. Karena kalau kita lihat fundamental kita kan memang secara jangka menengah panjang juga sangat-sangat baik," kata Chief Executive Officer (CEO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), Rosan Perkasa Roeslani, saat memberikan keterangan pers bersama Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (15/6/2026).

Karena itu, untuk meningkatkan persepsi pasar, Danantara melakukan roadshow ke sejumlah pusat keuangan dunia, mulai dari Hong Kong, Singapura, Boston, London, hingga New York. Kunjungan tersebut dilakukan setelah Danantara memperoleh peringkat kredit setara sovereign rating Indonesia dari lembaga pemeringkat internasional Moody's dan S&P, serta peringkat tertinggi dari Pefindo.

Beriringan dengan roadshow tersebut, Danantara menawarkan obligasi global (global bond) perdana dengan target awal penghimpunan dana sebesar 1 miliar dolar AS. Namun, menurut Rosan, minat investor yang masuk melalui proses book building mencapai sekitar 4,6 miliar dolar AS.

Atas dasar tingginya permintaan tersebut, Danantara memutuskan menaikkan nilai penerbitan obligasi menjadi 1,5 miliar dolar AS, yang terdiri atas obligasi tenor lima tahun dan 10 tahun masing-masing senilai 750 juta dolar AS.

"Ini membuktikan bahwa memang kepercayaan investor terhadap Indonesia itu ada dan tinggi. Karena kalau bicara, saya senangnya bicara statistik, numbers dan fakta," ujar Rosan.

Ia mengakui, sebelum proses penawaran dilakukan, terdapat keraguan dari sejumlah pihak terkait kemampuan Danantara untuk menarik minat investor global. Selain itu, ada pula kekhawatiran bahwa obligasi tersebut hanya akan laku jika menawarkan tingkat imbal hasil yang tinggi.

Namun, kedua kekhawatiran tersebut tidak terbukti. Obligasi tenor lima tahun diterbitkan dengan kupon 5,35 persen, sedangkan tenor 10 tahun sebesar 5,95 persen.

"Ternyata dua hal itu tidak terjadi. Ini juga menunjukkan kredibilitas dari Danantara maupun pemerintah itu sangat terjaga selama kita memang berbicara kepada para investor itu secara terbuka, secara transparan," katanya.

Rosan juga menilai persepsi investor mulai membaik seiring dengan berbagai langkah yang ditempuh pemerintah. Penguatan nilai tukar rupiah dan pergerakan pasar modal dalam beberapa hari terakhir sebagai salah satu indikasi perubahan sentimen tersebut.

"Nah bagaimana kita mencoba membalikkan persepsi momentum yang tadinya spiral down ini untuk kembali ke atas," tutup Rosan.

Baca juga artikel terkait DANANTARA atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Bayu Septianto