Menuju konten utama

Riuh Bola Api dan Bambu Gila Sambut 1 Muharram di Bandung

Riuh sepakbola api dan bambu gila menghangatkan malam 1 Muharram di Cibiru Hilir, Bandung. Tradisi ini merawat kebersamaan dan kecintaan pada masjid.

Riuh Bola Api dan Bambu Gila Sambut 1 Muharram di Bandung
Anak-anak bermain sepakbola api dan bambu gila dalam kegiatan menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah di Desa Cibiru Hilir, Kabupaten Bandung, Senin (16/6/2026). tirto.id/Muhamad Nizar.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ketika bara mulai menjilat permukaan bola dari batok kelapa, puluhan pasang mata langsung tertuju ke lapangan. Anak-anak berlari mengejarnya tanpa alas kaki, sementara tawa dan sorak warga pecah di halaman Masjid Safinatussalam, menandai datangnya 1 Muharram dengan cara yang berbeda.

Raut lelah belum hilang dari wajah Rasyid. Namun bocah 11 tahun itu tetap tersenyum saat mengenang pengalaman pertamanya bermain sepakbola api. "Susah-susah stres, tapi tahun depan pasti ikut lagi," ujarnya di Desa Cibiru Hilir, Kabupaten Bandung, Senin (15/6/2026) malam.

Pengalaman pertama bermain sepakbola api tampaknya meninggalkan kesan mendalam. Berkali-kali Rasyid mengulang cerita tentang bagaimana ia berlari tanpa alas kaki mengejar bola yang menyala.

Ia bilang, sebelum mulai memasuki arena pertandingan, para pemain terlebih dahulu menceburkan kaki mereka ke dalam ember berisi air yang berada di sisi lapangan.

Malam itu, anak-anak yang turun ke lapangan sudah tahu apa yang menanti mereka. Bukan bola kulit seperti dalam pertandingan biasa, melainkan bola api yang dibuat dari batok kelapa kering.

"Tahun lalu enggak ikutan. Aku ketiduran," celetuk seorang bocah lain yang langsung disambut tawa teman-temannya.

Pertandingan dibagi menjadi tiga kategori usia, anak-anak, remaja dan dewasa. Mereka bermain tanpa alas kaki dan sekadar memakai sarung. Delapan sampai sepuluh orang berjibaku dengan bola.

Laga selalu tampak seru sekaligus menegangkan, bukan hanya bagi para pemain, tapi warga yang menonton di sisi lapangan.

Api berkobar saat kelapa kering mulai dibakar wasit yang memimpin pertandingan. Bola api bergulir mengikuti kaki orang yang menggiringnya. Sorak sorai penonton bergemuruh saat bola api terasa lebih dekat ke sisi lapang ketimbang menuju arah gawang.

"Mainnya tidak susah, aman, dan gampang. Tidak sakit juga, kecuali kalau salah menendang kaki baru terasa sakit," lanjut Rasyid.

Bambu Gila dan Tradisi yang Menyatukan Warga

Sepakbola Api dan Bambu Gila di Cibiru Hilir

Anak-anak bermain sepakbola api dan bambu gila dalam kegiatan menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah di Desa Cibiru Hilir, Kabupaten Bandung, Senin (16/6/2026). tirto.id/Muhamad Nizar.

Riuh suara warga tak berhenti terdengar di halaman Masjid Safinatussalam pada malam menjelang 1 Muharram. Selain pertandingan sepakbola api, warga juga menyaksikan atraksi bambu gila.

Perayaan malam 1 Muharram di Cibiru Hilir bukanlah tradisi yang baru tumbuh. Ketua Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Safinatussalam, Abdurrahman Elfikri, mengatakan kegiatan tersebut telah menjadi agenda rutin yang terus dijaga dari tahun ke tahun.

Awalnya, peringatan Tahun Baru Islam hanya berlangsung sederhana di lingkungan masjid. Pada 2016, pengurus dan warga mulai mencoba menghadirkan berbagai permainan dan kesenian tradisional sebagai bagian dari perayaan. Di luar dugaan, sambutan masyarakat begitu besar.

Seiring waktu, kegiatan yang semula hanya melibatkan warga sekitar masjid berkembang menjadi perayaan yang diikuti empat RW. Setiap tahun jumlah peserta terus bertambah, terutama dari kalangan anak-anak yang kini menjadi wajah baru dalam perayaan tersebut.

"Sekarang sudah mulai anak-anak banyak yang ikut. Orang tua pun banyak yang mendukung. Kami punya inisiatif, ya udah kita sekalian saja [gotong royong]," ujarnya.

Malam itu, sepakbola api dan bambu gila bukan satu-satunya atraksi yang memeriahkan halaman Masjid Safinatussalam. Anak-anak yang tergabung dalam Ikatan Remaja Masjid juga menampilkan Tabuhan Rampak Bedug, menambah semarak suasana.

Sepakbola Api dan Bambu Gila di Cibiru Hilir

Anak-anak bermain sepakbola api dan bambu gila dalam kegiatan menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah di Desa Cibiru Hilir, Kabupaten Bandung, Senin (16/6/2026). tirto.id/Muhamad Nizar.

Dari tahun ke tahun, menurut Elfikri, hal paling sulit dan selalu menjadi kendala hanyalah pencarian kelapa kering. Selebihnya gelaran peringatan Tahun Baru Islam di Desa Cibiru Hilir acapkali terlaksana secara lancar.

"Paling sulit, paling mencari kelapa yang kering itu. Kami sampai Limbangan [Garut], sampai ke Jatinangor. Ya itu cukup sulit untuk mengadakan acara seperti ini, khususnya bola api," ujarnya.

Meski demikian, kendala tersebut tak pernah menyurutkan semangat warga untuk menjaga tradisi yang telah mereka rawat selama hampir satu dekade terakhir.

Bagi Ketua DKM Safinatussalam, Arif Yulianto, tujuan utama peringatan 1 Muharram sebenarnya sudah lama tercapai. Ia melihatnya dari antusiasme warga yang terus terjaga setiap tahun. Tidak ada anggaran khusus yang digelontorkan. Seluruh rangkaian kegiatan lahir dari gotong royong jemaah dan warga sekitar.

"Kita harus memperingati penuh dengan keberkahan dan rahmat dari Allah. Sehingga mendidik untuk selalu istikamah. Terus anak-anak kita selalu mengenal masjid untuk salat lima waktu," harapnya.

Kehangatan itu, kata Arif, semakin terasa ketika banyak anak-anak yang terlibat. Mereka bukan hanya datang untuk menyaksikan sepakbola api atau bambu gila, tetapi juga ikut menjadi bagian dari tradisi yang tumbuh di sana.

Menjelang larut malam, sorak-sorai perlahan mereda. Bara dari bola api mulai padam, sementara warga satu per satu beranjak pulang. Namun bagi masyarakat Cibiru Hilir, perayaan 1 Muharram bukan sekadar soal mempertahankan tradisi.

Di balik permainan dan gelak tawa, mereka sedang merawat sesuatu yang besar: kebersamaan, gotong royong, dan ikatan anak-anak dengan masjid yang diharapkan terus menyala dari tahun ke tahun.

Baca juga artikel terkait TAHUN BARU ISLAM atau tulisan lainnya dari Muhammad Nizar

tirto.id - News Plus
Kontributor: Muhammad Nizar
Penulis: Muhammad Nizar
Editor: Dipna Videlia Putsanra