tirto.id - Gelaran Padepopan 2025 kembali hadir dengan mengusung tema “Seragam Beragam”, yang merepresentasikan perpaduan berbagai gaya musik serta audiens dari latar berbeda. Tema ini menjadi penegasan identitas Padepopan sebagai ruang pertemuan kreatif yang terbuka bagi musisi dan penonton dari berbagai selera.
Festival yang telah tumbuh menjadi salah satu ajang musik tahunan anak muda menghadirkan dua panggung utama, Bricks Stage dan Alter Stage, yang masing-masing menampilkan musisi dengan warna pop lokal yang variatif. Acara digelar di Jatijajar Transit Hub, Depok, Minggu (7/12/2025).
Pengunjung mulai memasuki area festival pada pukul 13.30 WIB, Terlihat instalasi kreatif yang tersebar di beberapa titik menjadi spot favorit untuk berfoto, sementara tenant merchandise dan booth sponsor mulai dipadati pengunjung yang ingin membeli produk eksklusif festival. Area foodcourt juga ramai sejak siang, menandakan antusiasme penonton yang datang lebih awal untuk menikmati pengalaman festival secara menyeluruh.
Rangkaian pertunjukan dimulai serentak di Bricks Stage dan Alter Stage. Kedua panggung dirancang dengan karakter visual dan atmosfer yang berbeda, sehingga memberikan pengalaman menonton yang lebih kaya. Pengunjung dapat berpindah dari satu panggung ke panggung lain mengikuti selera musik dan jadwal penampil.
Di Bricks Stage, pertunjukan dibuka oleh The Cottons pada pukul 14.15 WIB. Mereka membawakan album Harapan yang diterima hangat oleh penonton, sekaligus menjadi pembuka yang menaikkan energi festival.
Setelah itu, musisi-musisi besar hadir bergantian, Banda Neira tampil pukul 15.00 WIB, disambut sorak penonton yang sudah memenuhi area depan panggung, Olsam tampil pada 16.15 WIB, dan Nostress melanjutkan pada 17.15 WIB. Meskipun cuaca sempat kurang mendukung, ribuan penonton tetap bertahan, menunjukkan kuatnya basis penggemar masing-masing musisi.
Sementara itu, Alter Stage menghadirkan musisi-musisi muda dengan gaya musik yang lebih eksperimental. Coralie Riff membuka panggung pada pukul 14.45 WIB, membawa suasana santai yang kemudian dilanjutkan oleh Arc Yellow pada 15.45 WIB dan Sahar pada 16.45 WIB.
Menjelang petang, kolaborasi Ravie & Bilhaire Kenru tampil pukul 18.00 WIB, memberikan warna berbeda yang menarik perhatian banyak penonton. Alter Stage ditutup oleh The Ceddar pukul 20.15 WIB, yang tampil dengan setlist padat dan enerjik.
Setelah jeda ibadah Magrib, Bricks Stage kembali ramai dengan penampilan Feast pada 18.30 WIB. Mereka membawakan lagu-lagu seperti Tarian Penghancur Raya, Berita Kehilangan, O Tuan, dan Arteri. Selain itu, aksi mereka turut disisipkan ajakan untuk mendukung kampanye bantuan bagi korban bencana di Sumatra, menambah sisi solidaritas dalam suasana festival. Penonton memberikan respons kuat dan ikut bernyanyi sepanjang penampilan.
Tak lama kemudian, Hindia naik panggung pada pukul 19.30 WIB, menghadirkan lagu-lagu yang banyak dikenal generasi muda seperti Everything You Are, Evaluasi, dan Cincin. Penampilannya semakin memperkuat suasana emosional di antara penonton, yang banyak ikut menyanyikan lirik demi lirik.
Bricks Stage ditutup oleh White Chorus pada 20.45 WIB, yang membawakan Bertanya-tanya, Kadang Ingin Berhenti, Mystery Pt. 2, dan lagu penutup yang paling dinanti, Minggu, yang disambut riuh.
Dalam penutupannya, Friska dan Emir dari White Chorus menceritakan proses kreatif mereka dalam menulis lirik. Menurut keduanya, sebagian besar lirik dibuat sebagai bentuk refleksi diri dan berangkat dari pengalaman pribadi atau cerita orang-orang terdekat.
“Sebenarnya seperti menulis diari, hanya saja dijadikan lirik,” ujar mereka, menggambarkan kedekatan emosional antara musisi dan karya yang mereka ciptakan.
Padepopan memastikan ruang yang inklusif dan ramah bagi seluruh pengunjung, termasuk penyandang disabilitas, ibu hamil, serta anak-anak di atas usia lima tahun. Area prioritas juga disediakan khusus bagi pengunjung disabilitas, orang tua, ibu hamil, dan anak-anak agar mereka dapat menikmati acara dengan nyaman. Selain itu, tersedia dua titik area khusus merokok untuk menjaga kenyamanan bersama.
Lebih dari 22 tenant UMKM lokal turut meramaikan Area Kuliner, menjadikan Padepopan tidak hanya sebagai ruang seni yang hidup, tetapi juga sebagai ajang yang memberikan dorongan nyata bagi pelaku ekonomi kreatif di Depok.
Padepopan selama ini dikenal sebagai wadah berkumpulnya komunitas musik lokal, kreator muda, hingga penikmat skena independen Jabodetabek. Dengan line-up yang solid, format dua panggung, serta dukungan komunitas yang semakin besar, penyelenggaraan tahun ini diperkirakan mencatat jumlah pengunjung yang lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya.
Festival ini sekaligus menjadi penutup rangkaian kegiatan kreatif akhir tahun di Depok, yang beberapa tahun terakhir menunjukkan perkembangan signifikan dalam menyediakan ruang ekspresi bagi anak muda, baik melalui festival musik, ruang komunitas, maupun berbagai kolaborasi seni.
Masuk tirto.id





























