tirto.id - Ribuan buruh dari berbagai daerah mulai memadati kawasan Monumen Nasional (Monas) sejak pagi hari dalam rangka memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day 2026, Jumat, 1 Mei 2026.
Pantauan Tirto di lokasi, massa buruh datang secara bergelombang dengan membawa atribut serikat dan organisasi masing-masing.
Mereka juga turut membawa spanduk berisi tuntutan dan aspirasi terkait kesejahteraan pekerja.
Sejumlah peserta terlihat memenuhi area Silang Monas sambil meneriakkan yel-yel perjuangan buruh.
Kehadiran aparat keamanan dari TNI dan Polri serta petugas pengatur lalu lintas tampak mengawal acara agar berlangsung tertib dan kondusif.
Para peserta antusias lantaran acara ini akan dihadiri Presiden Prabowo Subianto.
Prabowo dijadwalkan menghadiri langsung agenda tersebut dan akan menyampaikan sejumlah kebijakan baru bagi kalangan pekerja sebagai bentuk hadiah pemerintah.
Sebelumnya, Ketua Panitia May Day sekaligus Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea, sebelumnya mengonfirmasi jumlah peserta yang hadir mencapai ratusan ribu orang.
"Jumlah massa terkonfirmasi 400.000. Dari buruh 211.000, dan ada juga teman-teman ojek online akan bergabung karena Bapak Presiden akan menyampaikan kejutan besok," ujar Andi Gani dalam konferensi pers di Menteng, Rabu, 29 April 2026.
Andi Gani menjelaskan kebijakan yang akan diumumkan Presiden berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan pekerja, termasuk soal regulasi ratifikasi Konvensi ILO.
Selain menyampaikan pidato, Presiden juga dijadwalkan berinteraksi langsung dengan para pimpinan serikat buruh di atas panggung utama acara.
Salah satu pimpinan organisasi buruh yang menghadiri agenda di Monas, Mirah Sumirat, menyatakan perjuangan buruh belum selesai.
"Di tengah tantangan global, disrupsi teknologi, dan ketidakpastian ekonomi, negara harus hadir secara nyata untuk menjamin keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh pekerja," kata Presiden Asosiasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (ASPIRASI) itu kepada Tirto lewat pesan teks, Jumat (1/5/2026).
ASPIRASI menilai bahwa May Day 2026 bukan sekadar seremoni, melainkan momentum perjuangan kolektif untuk menegakkan keadilan sosial.
Negara harus berpihak pada pekerja dan buruh sebagai tulang punggung pembangunan nasional.
Mirah mengajak seluruh elemen bangsa yang meliputi Pemerintah, pengusaha, dan masyarakat untuk bersama-sama membangun sistem ketenagakerjaan yang adil, inklusif, dan berkelanjutan.
“Tidak ada keadilan tanpa kesejahteraan pekerja," kata Mirah.
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Fahreza Rizky
Masuk tirto.id

































