tirto.id - Memiliki hunian yang bagus dan layak merupakan impian setiap orang, apalagi jika hunian tersebut sesuai dengan keinginan kita. Tidak terkecuali Ramanis (56), salah seorang warga yang tinggal di kawasan Kampung Guo, Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat.
Ramanis menjadi salah satu dari belasan pemilik rumah yang menjadi korban keganasan banjir bandang beberapa waktu yang lalu.

Rumahnya tidak terlalu jauh dari aliran sungai, hanya berkisar 10 meter. Di sungai itu pun Ramanis kerap bersantai menghabiskan hari sembari menunggu sang suami pulang dari ladang.
Sudah 20 tahun lebih Ramanis tinggal di rumah tersebut. Sebetulnya bukan pertama kali, dia mengalami kebanjiran. Tapi banjir bandang kemarin tak disangka, mampu menelan seluruh rumahnya.
"Sudah sekitar 20 tahun saya tinggal disini, baru ini banjir paling besar sampai menghancurkan rumah saya, biasanya hanya air besar saja, tidak sampai ke rumah," katanya saat diwawancarai, Senin (8/12/2025).
Dalam ingatan Ramanis, kejadian itu berawal pada hari Kamis (27/12/2025) sekira pukul 23.00 WIB. Dia bersama beberapa orang keluarganya sedang berada di dalam rumah. Tiba-tiba air dari aliran sungai samping rumahnya meluap secara cepat.
"Waktu itu lagi duduk di rumah, ada suami dan anak-anak, lalu cucu. Tiba-tiba saja air sungai di samping rumah ini naik dan meluap hingga masuk ke rumah, karena itu kami langsung saja mengevakuasikan diri ke tempat lebih tinggi," katanya.
Namun, Ramanis bersama keluarga hanya menyelamatkan diri dengan membawa beberapa barang yang gampang dibawa. Dalam perjalanan, barulah Ramanis teringat dengan sejumlah karung berisikan beras yang disimpannya.
Suami Ramanis lantas bergegas kembali ke dalam rumah bersama menantunya untuk mengambil beras tersebut.
"Saya teringat saja dengan beras itu, karena kita hanya petani. Bekerja pun bukan di ladang sendiri, tapi di ladang orang. Jadi sedih saja rasanya jika itu [beras] hilang, makanya saya minta tolong suami untuk mengambilkan," jelasnya.
Dalam kesempatan itu, suami dan menantu Ramanis terpikir untuk turut membawa sejumlah barang lain. "Suami juga sempat mengambil sejumlah barang lainnya seperti mesin potong rumput, mesin pemotong kayu, dan beberapa barang lainnya," tambahnya.
Usai itu, air semakin deras. Debitnya naik hingga sepinggang orang dewasa. Suami dan menantu Ramanis akhirnya memutuskan untuk kembali ke tempat yang lebih tinggi.
Saat evakuasi tersebut, Ramanis dan keluarganya menyaksikan sendiri rumah mereka yang sudah dihuninya hingga puluhan tahun itu hancur perlahan. Roboh dihantam batu dan kayu dengan ukuran besar.
"Jika diingat kembali, sangat mengerikan. Batu dan kayu besar menghantam rumah kami. Bunyinya sangat keras. Walaupun lampunya mati, tapi terlihat jelas oleh kami bagaimana hancur rumah kami itu. Banjirnya saja sangat tinggi, hanya tampak atap saja," sebutnya pilu.

Kini, rumah Ramanis hanya tersisa sebuah ruangan kamar tidur yang bolong karena temboknya ambruk. Di sisi lain, terdapat tumpukan kayu yang menutupi tembok kamar yang bolong.
Selain itu, yang tersisa bagian atap dan beberapa tembok sebagai penahan agar tidak roboh.
"Kalau dilihat kondisi saat ini sangat sedih rasanya. Rumah ini belum satu tahun kita renovasi menjadi sedikit bagus. Kami baru pasang plafon, lantainya sudah kita cor dan akan dipasang keramik, tapi sekarang sudah tidak bisa," Ramanis meratap.
"Sedihnya karena kita sudah lama menginginkan rumah seperti ini. Sedikit-sedikit upah suami ke ladang kita kumpulkan. Kita tau upah ke ladang tidaklah banyak, baru puluhan tahun bisa kita perbaiki rumah, sekarang sudah hancur, tidak ada yang diperbaiki lagi," imbuhnya, pilu.
Kini Ramanis hanya dapat berharap agar bantuan pembangunan rumah dari pemerintah bisa cepat dilaksanakan dan sesuai dengan apa yang diharapkan.
Penulis: Fajar Alfaridho Herman
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id

































